“menghidupkan” jalur kereta api

2001_Agustus_Edisi 127_Bahas:
“menghidupkan” jalur kereta api
Ade Tanesia/Rohman Yuliawan

Perjalanan hidup perkeretaapian di bumi Indonesia telah berlangsung sejak tahun 1863, yaitu ketika pemerintah Hindia Belanda memberikan konsensi pada Poolman, seorang pengusaha untuk membuka trayek kereta api pertama antara kota Semarang dan Yogyakarta. Kini setelah ratusan tahun, panjang rel KA di lintasan Jawa dan Madura saja mencapai 354 km, sementara jaringan lintas Sumatera Barat 264 km. Ada jalur kereta api yang tetap digunakan, namun banyak pula rel mati yang terlantar seperti rel Yogya-Magelang, Banyuwangi-Boncolok, Rangkas-Labuhan, Karawang, Cikini-Kenari. Sangat disayangkan jika rel-rel mati tersebut tidak dihidupkan kembali untuk kepentingan masyarakat?

“Rel mati itu memang akan dijadikan monumen saja. Ada pula yang dimanfaatkan sebagai “trucuk” atau bantalan penopang lapisan tanah yang rawan longsor di sepanjang jalur rel yang masih digunakan. Beberapa jalur lama diuruk oleh Pemda setempat untuk dijadikan jalan raya, seperti jalur disepanjang jalan Magelang dan jalan Bantul, Yogyakarta,” ujar Bapak Supardi dari Sektor Bangunan, Jalan dan Jembatan PTKA Daop VI. Banyak alasan memang untuk membiarkan rel-rel tua itu mati, salah satunya yang krusial adalah pendanaan. Bahkan Bapak Wibowo dari DAOP VI mengutarakan bahwa pemanfaatan kembali jalur-jalur kereta api lama tidak lagi ekonomis dalam bersaing dengan layanan transportasi umum lainnya. Selain itu dibutuhkan biaya besar untuk perbaikan jalur yang rusak, sarana stasiun dan penggantian ukuran rel (rel tua berukuran yang lebih kecil, tidak lagi sasuai dengan lokomotif dan gerbong baru yang dipergunakan sekarang).

Namun selain nada pesimis di atas, ada pula rasa optimis terhadap rel-rel tua yang sudah tidak terpakai ini. Sejalan dengan otonomi daerah, maka Bupati di Pandeglang berencana untuk mengembangkan jalur kereta api non operasi sepanjang 56 km antara Labuan-Rangkas Bitung sebagai transportasi jenis Railbus. Mereka ingin memanfaatkan aset milik PTKA untuk dijadikan railbus sebagai salah satu fasilitas wisata di propinsi Banten. Selain itu, perkembangan railbus di masa depan akanmenjadikan propinsi Banten mempunyai nilai lebih dibanding propinsi lain di Jawa, yaitu sistem transportasi railbus yang “bersahabat” dengan lingkungan serta dapat mengurangi kemacetan lalu lintas jalan raya. Keinginan Bupati di Pandeglang memang beralasan, karena sebenarnya wisata dengan kereta api telah sukses dilakukan di Ambarawa dengan wisata dengan kereta api kuno, Cepu dengan wisata hutan jati naik kereta api, juga kereta wisata tanpa rel bergerigi atau lori di Jember.

Wisata Kereta Api Kuno

Terletak di areal seluas 127.500 m2 di desa Tumenggungan, Ambarawa, Museum Kereta Api Ambarawa boleh berbangga, karena seluruh peninggalannya telah berhasil dijadikan aset wisata yang cukup menguntungkan. Bayangkan, untuk tahun 2000 saja, pemasukan bisa mencapai Rp. 245.542.600-,. Sementara di tahun 2001, hingga bulan Juli diperoleh Rp. 175.000.000,- dari 93 kali perjalanan kereta. Dalam bulan-bulan libur sekolah, museum KA Ambarawa bisa didatangi 2000 wisatawan dari dalam dan luar negeri. Pengelola museum memang mengadakan kerjasama dengan biro perjalanan wisata untuk mempromosikan layanan wisata kereta ini, sehingga kini para wisatawan dari Belgia menjadi pelanggan tetap wisata kereta.

Dengan gerbong kayu antik berkapasitas 76 orang yang ditarik dengan lokomotif yang kuno sejauh 20 km, wisatawan bisa menikmati pemandangan indah antara jalur Ambarawa-Bendono pp. Dan untuk menikmatinya, satu rombongan wisatawan harus membayar sebesar Rp. 1.300.000,- per trip. Bagi wisatawan yang menghendaki perjalanan lebih murah, tersedia lori mungil dengan kapasitas 6 orang per lori denga rute Ambarawa-Jambu pp, sejauh lk 10 km denga tarif hanya Rp. 20.000,- per orang. Setiap perjalanan, kereta yang dijalankan dengan uap ini membutuhkan lk 2 kubik kayu jati sebagai bahan bakar.

Museum Kereta Api Ambarawa memang sebuah contoh kongkrit tentang masih memungkinkannya revitaslisasi jalur kereta api tua. Jika pemerintah tidak mampu, ada baiknya diberikan pada swasta, sehingga jalur kereta api tua yang masih bisa diperbaiki dapat berguna.

Leave a Reply

Close Menu