menghargai keragaman bahasa daerah

1999_Oktober_Edisi 105_peduli:
menghargai keragaman bahasa daerah
Steinhauer, Hein

Berdasarkan atas bahasa kawasan Ocenia yang diterbitkan oleh Publika Pacific Linguistics terbitan tahun 1983 di Camberra,  jumlah bahasa daerah di Indonesia mendekati 500 bahasa yang termasuk dalam 8 rumpun bahasa yang berbeda. Jika bahsa “asing” diperhitungkan, maka terdapat 3-4 rumpun lagi di Indonesia, yaitu rumpun Sino-Tibet (berbagai bahasa Cina), Semet (Arab), Indo-eropa (Portugis, Belanda), Dravida (Tamil), dan bahsa Tambora yang punah akibat meletusnya Gunung Tambora di Pulau Sumatera, tahun 1815. Pada buku History of Java karangan Raflles, bahasa tersebut merupakan rumpun Ausro-Asia dari daratan Asia.

Diantara ratusan bahasa daerah tersebut, ada segelintir yang terancam punah. Kepunahan sebuah bahasa daerah, menurut Asim Gunawan pakar linguistik dari UI, bisa terlacak dari beberapa indikasi. Pertama, bahasa itu kehilangan basis wilayahnya dan dipakai oleh sejumlah penutur yang semakin kecil. Kedua, bahasa itu lebih banyak digunakan di pedesaan, dan ketiga, ada bahasa lain yang mendesak keberadaan sebuah bahasa. Disamping itu, terjadi penurunana mutu bahasa oleh penuturnya. Di Indonesia, beberapa contoh bahasa daerah yang terancam punah anatara lain bahasa Loun di pulau Seram dengan tinggal 3 sampai 4 orang yang bisa menggunakannya. Prof. James Collins dari Hawai yang pernah mengadakan penelitian di pulau Seram tahun 1970-an menemukan bahwa sebagian penutur asli bahasa Loun menjadi korban penyakit flu ganas pada tahun 1919. Kepunahan juga terjadi pada bahasa Waropen di Irian Jaya, yang di tahun 1930 masih memiliki 6000 penutur yang tinggal di sejumlah kampung di pesisir teluk Cendrawasih. Kini pengguna bahasa tersebut tinggal sejumlah orang yang berusia di atas 40 tahun, karena bahasa sehari-hari penduduk sudah bercampur dengan bahasa Indonesia.

Menurut Hein Steinhauer, ada beberapa faktor yang menyebabkan kepunahan tersebut, yaitu bencana alam, perpindahan penduduk dan rasa malu menggunakan bahasa asalnya. Pada kalangan generasi muda timbul pemikiran bahwa bahasa daerah melambangkan kekolotan. Di beberapa daerah, juga terdapat “penindasan” berbahasa antara daerah tertentu terhadap daerah lainnya. Hal ini disebabkan adanya kategorisasi budaya “high” . “low” yang dipercaya oleh warganya sebagai contoh, seorang jawa Banyumas yang memasuki area Yogyakarta atau Solo akan berusaha merubah dialeknya agar tidak ditertawakan oleh masyarakat setempat yang merasa budayanya lebih adiluhung. Adanya pemikiran “halus-kasar” telah menyebabkan terjadinya penindasan cultural, sehingga seseorang bisa mengalami kegagapan total terhadap bahasa asalnya sendiri.

Hal lain juga patut disimak adalah pemakaian bahasa supra-etnis, yaitu bahasa Indonesia, merupakan faktor penting yang berperan menyurutkan pemakaian bahasa daerah. Meskipun dalam sekolah ada mata pelajaran bahasa daerah, tetap saja tidak efektif untuk mensosialisasikan bahasa tersebut. Oleh karena yang lebih penting bukanlah formalisasi bahasa daerah, melainkan membangun kondisi yang kondusif agar bahasa tersebut tetap bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya hal ini berhubung dengan strategi kebudayaan nasional negara yang seyogyanya bentul-betul menghargai bahasa daerah. Tidak hanya sekedar dihargai dengan cara membuat pengawetan melalui lembaga, tetapi juga mendorong agar bahasa daerah menjadi tuan di daerahnya sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa bahasa daerah menjadi begitu penting untuk tetap digunakan oleh pewarisnya?

Bahasa daerah memiliki kemampuan untuk mengekspresikan berbagai pikiran, perasaan, termasuk produk budaya setempat. Juga pengetahuan untuk mengkategorisasikan alam benda yang ada di lokasi asal bahasa tersebut. Misalnya bahasa Sumba akan memiliki banyak istilah untuk kuda. Sementara bahasa Dayak di Kalimantan akan memiliki ribuan istilah untuk jenis pohon di hutan. Kekayaan perbendaharaan kata dalam bahasa daerah semestinya bisa menjadi sumber serapan bagi bahasa lainnya, seperti bahasa Indonesia. Disamping itu, pemakaian bahasa daerah bisa menjadi kebanggaan bagi pewarisnya. Belajar dari sejarah, usaha penyeragaman, baik yang dilakukan secara sistematis oleh negara maupun yang dipraktekkan masyarakat dengan legitimasi budaya, nampaknya tidak tepat lagi untuk diterapkan dalam kehidupan berbangsa. Bukankah mengakui dan menghargai keberagaman berbahasa daerah justru perekat ampuh untuk mempersatukan bangsa ini?

Leave a Reply

Close Menu