menghafal

menghafal

2001_Februari_Edisi 121_peduli:
menghafal
Ade Tanesia

Menjadi kalkulator sejak kecil
Selama 12 tahun, sebagian hidup kita habiskan di sekolah dari tingkat SD sampai SMU dan kalau mau ditambah masa mahasiswa bisa sampai 17 tahun. Kemudian bayangkan, dari sekian materi pelajaran yang diberikan pada otak kita selama 17 tahun, berapa persen yang masih diingat. Sebagian besar materi tersebut telah menguap akibat metode pengajaran yang lebih menekankan pada prinsip menghafal. Di kalangan perguruan tinggi, ada pula gejala yang disebabkan kuatnya metode hafalan, yaitu banyaknya istilah-istilah yang dilontarkan tanpa dimengerti. Seringkali kita datang ke seminar hanya mendengarkan pembicara mengumbar istilah tetapi sebenarnya memberikan pemahaman baru atau logika tertentu dalam memandang suatu persoalan.

Sebenarnya apa yang salah dengan menghafal? Waluyo, dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta menegaskan hafalan masih diperlukan, apalagi untuk pendidikan dasar. Waluyo menerjemahkan tahapan pertama dalam belajar menurut Banjamin Bloom, yaitu knowledge, sebagai menghafal. Baru setelah tahapan menghafal, menyusul kemudian tahapan compreshension (pemahaman). Yang menjadi masalah adalah ketika sistem pendidikan di Indonesia hanya berhenti pada tahap menghafal, tidak beranjak pada pemahaman apalagi analisis. Fenomena demikian tidak hanya terjadi pada pendidikan dasar, namun juga pada pendidikan menengah bahkan pendidikan tinggi. “Saya masih sering menemukan mahasiswa saya menghafal pengertian-pengertian, bukan memahaminya,” ungkap Waluyo. Beliau juga mempermasalahkan soal-soal latihan atau ujian yang berbentuk multiple choice, di mana murid tinggal memilih salah satu jawaban di antara beberapa jawaban-jawaban spekulatif juga mudah dijawab berdasarkan hafalan, sehingga pemahaman tidak tercapai. Keprihatinan serupa juga dilontarkan Slamet Rahardjo Jarot, sutradara film kawakan. Dalam suratnya pada Putu Wijaya, dia menuliskan, “Saya menampilkan (dalam film Telegram) pelajaran sejarah, karena sejarah hanya menjadi hafalan pada anak-anak, dan memang dituliskan untuk dihafalkan. Fenomena tersebut bisa menular sampai pada penghafalan makna-makna dan penghafalan pengertian lain. Sehingga manusia sejak kecil hanya dipersiapkan untuk menjadi kalkulator saja”.

Lalu apa yang harus dilakukan agar metode pengajaran tidak berhenti pada hafalan? Menurut pakar pendidikan Prof. Dr. Winarno Surakhmad, jumlah mata pelajaran harus dikurangi, apalagi ada beberapa yang tidak ada relevasinya dengan kehidupan nyata. Guru maupun orang tua harus mengajarkan keterampilan belajar, jadi bukan menghafal saja. Misalnya ada mahasiswa yang tidak tahu bagaimana caranya harus belajar atau menganalisa sesuatu. Di samping itu perlu adanya pengurangan jam belajar, karena Indonesia, pelajar SMU saja jam belajarnya mencapai 44 jam per minggu. Kebanyakan belajar membuat murid tidak meminati materi pelajaran karena sudah kelelahan. Hal ini tentunya menumpulkan keinginan untuk berpikir, mengulik-ulik materinya. Merubah metode pendidikan di Indonesia memang tidakm udah, tetapi adanya kesadaran sedikit saja bahwa hafalan tanpa penalaran tidak punya arti apa-apa dalam memperkaya wawasan, bisa menjadi awal untuk sedidkit demi sedikit mengadakan perubahan…entah hingga berapa generasi lagi.

Leave a Reply

Close Menu