Mengenal Mural

1997_awal September_Edisi 076_lepas:
Mengenal Mural

Mural, istilah berasal dari Bahasa Latin, “murus” yang berarti dinding, yaitu lukisan yang ditorehkan di dinding. Langit-langit, atau kanvas panel yang melekat dengan dinding. Ada benarnya jika dikatakan bahwa mural merupakan bentuk ekspresi  seni tertua dalam peradaban manusia, karena sejak usia bocah, manusia nampaknya memiliki naluri untuk menggambari dinding-dinding di manapun sebagai cara mengaktualisasikan dirinya terhadap lingkungan sekitar. Dalam perjalanannya mural telah memenuhi berbagai ekspresi manusia di bidang agama, politik dan keseharian.

Artefak-artefak pun memperlihatkan, ternyata cukup banyak masyarakat melakukan hal bijaksana dengan mengembangkan mural sebagai karya seni. Di jaman prasejarah, dinding gua Altamira di Spanyol dan Lascaux di Perancis dipenuhi oleh gambar-gambar binatang berwarna merah, kuning, hitam, coklat. Selain di dinding gua, manusia prasejarah juga mengembangkan seni mural di atas batu-batuan. Di era selanjutnya, bangsa-bangsa besar seperti bangsa Mesir melanjutkan bentuk seni ini. Mereka menghisasi dinding-dinding makam leluhurnya dengan gambar-gambar yang menceritakan kehidupan masyarakatnya saat itu, misalnya kegiatan berburu, ritual-ritual agama, dan sebagainya. Tidak ketinggalan bangsa Romawi, yang telah mengadopsi seni mosaic bangsa Yunani, mengembangkan desain-desain alam untuk lukisan muralnya di Pompeii dan Herculanem, Hasil karya bangsa Romawi ini menjadi salah satu lukisan realis yang merefleksikan kebesaran seniman mural di masa klasik.

Seni mural merambah Eropa pada abad 4 dan mencapai puncaknya ketika perkembangan seni dikuasai oleh gereja. Salah satu karya mural yang paling legendaries adalah “Last seupper” (1495-98) karya Leonardo Da Vinci di biara Santa Maria delle Grazia di Millan. Karya Da Vinci ini menggunakan teknik fresco tertua. Sebelumnya, fresco telah dihidupkan kembali oleh Simone Martini dan Giotto di Bondone dan sekaligus meruntuhkan kejayaan mosaic. Dengan teknik ini, lukisan tidak hanya dibentuk dengan sapuan kuas, tapi menjadi satu dengan dinding. Caranya cat dicampur dengan semen untuk melapisi dinding, kemudian menggunakan perekat dari bahan putih telur. Mural dengan teknik fresco biasanya tahan lama, walaupun menuntut tenaga kerja yang cukup banyak. Pertama kali fresco dikembangkan seni Minoan dari Pulau Kreta, dan kemudian diteruskan oleh para seniman mural disepanjang jaman.

Di akhir abad ke-16 pelukis renaisans seperti Paolo Veronese dan Gluilio Romano membuat ekperimen fresco dengan teknik tinggi. Selanjutnya, selama periode Baroque di abad ke-17, fresco digunakan pula oleh seniman Peter Paul Rubens’s Marie de Medici yang mengisi seluruh dinding kerajaan dan kastil-kastil di Eropa Utara.

Di era modern, pelukis mural yang revolusioner adalah Diego Rivera dari Mexico (1886-1957). Dalam perjalanan keseniannya, Rivera sangat dipengaruhi oleh Giotto sampai akhirnya ia membuat komitmen untuk membuat gerakan seni populer dengan bentuk karya-karya mural berukuran besar. Lalu ia mulai menggarap mural dengan teknik fresco di dinding “National Prepatory Scholl” dan Gedung Menteri Pendidikan di kota Mexico. Secara visual karya Muralnya sangat kaya akan detil arkeologi dan memiliki garis-garis lurus yang tajam. Sementara tema-tema lukisan muralnya adalah sarat dengan persoalan sosial politik, karena itu karyanya dikenal dengan istilah realisme sosial. Salah satu karya Rivera dia menggambarkan para buruh yang sedang mendukung manifesto sosialisme. Karya Rivera ini sangat naratif sehingga mudah dicerna oleh masyararkat Mexico. Selain di Mexico, kiprah Rivera melebar hingga ke Amerika. Ia diminta untuk membuat Mural di san Fransisco Stcok Exchange (1931) dan Rockefeller Center (1933) di kora New York. Salah satu karyanya pernah dihancurkan karena ia melukis foto Lenin di Amerika.

Karya-karya Rivera di Amerika berdampak besar terhadap kesadaran sosial para seniman Amerika di masa depresi. Hal ini telah menggugah mereka untuk membuat mural di gedung-gedung publik, dan yang paling terkenal adalah proyek mural yang digagasi oleh U.S Treasury Department’s Section of Fine Art dan The work Progress Administration’s (WPA) selama tahun 1935-1936. Energi dari para perupa Mexico ini tetap memasuki seniman-seniman muda Amerika hingga tahun 1960-1970.

Seni mural era 1990-an mencatat kelahiran karya-karya besar dari Keith Haring (1959-1990) dan Jean Michel Basquait. Keith Haring, pria kelahiran Amerika yang sangat produktif ini, memulai karya muralnya setelah memperhatikan idiom-idiom pada graffiti yang banyak dilihatnya di jalan dan stasiun ketika ia mulai menapakkan kaki di kota New York pada tahun 1978. Ketertarikannya semakin bertambah ketika hampir merampungkan masa studinya di School of Visual Art, Haring kerap menjumpai graffiti dengan tulisan SAMO (same of shit). Mulanya ia tidak mengetahui bahwa graffiti tersebut adalah ciptaan Jean Michel Basquait, seorang seniman besar dari Perancis, Hairng langsung memburu Basquit, yang sedang mengikuti program alternative di skeolahnya. Akhirnya Haring berhasil melihat cara kerja Basquit, yang tidak pernah mempunyi studio, tapi hanya berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya untuk membuat karya. Rupanya hal ini cukup mempengaruhi bentuk kesenian Haring. Pada tahun 1980, ia mulai menggambar graffiti dengan bentuk-bentuk piktograf di jalan-jalan. Tidak lama kemudian, Haring bergabung dalam kelompok yang di sebut COLAB (Collaborative projects), yang mengorganisasikan pertunjukan berjudul “times square show”. Kelompok ini menyewa gedung-gedung dan mengundang para seniman untuk membuat instalasi atau karya apapun. Melalui pertunjukkan tersebut, untuk pertama kalinya seni-seni “underground” bisa dilihat di satu tempat. Selanjutnya, Keith Haring tetap menjalankan proyek-proyek pribadinya, seperti membuat mural dari stasiun ke stasiun. Bersamaan dengan itu, karirnya sebagai senimanpun semakin mapan. Berbagai undangan diterimanya, mulai membuat mural di Princess Grace Maternity Hospital di Monte Carlo, Gereja “Sant’Antonio, Pisa”, Gedung putih di Washington DC, sampai di tembok Berlin. Dan, tidak hanya di tembok, karya Haring bisa juga dinikmati di beberapa koleksi jam keluaran Swacth. Konon, Haring setiap harinya bisa menghasilkan bertumpuk-tumpuk gambar di atas kertas, bisa disebut proses berkaryanya hampir tidak mengenal jeda.

Secara visual, karya Haring memang sangat menarik dengan repitisi figure-figure yang seakan bergerak. Dan jika dicermati, maka banyak sekali tema –tema kehidupan sex yang diangkatnya. Meskipun sohor dengan pemakaian warna terang, ini bukan berarti ia tidak pernah menggunakan warna-warna tanah untuk karyanya. Haring bahkan sangat pandai menyesuaikan karyanya dengan ruang yang dipilihnya. Ia berkarya seperti layaknya seorang penata ruang. Keberhasilan para seniman mural memang tidak hanya terletak pada gaya lukisannya, tapi juga kematangannya memperhitungkan ruang.

Di usia 31 tahun, Keith Haring wafat karena penyakit AIDS. Usia yang sangat muda untuk berhenti berkarya, namun gerakan keseniannya untuk publik telah melegenda. Ia pernah berkata, “Museum dan Galeri mungkin tidak mengengok kesenian saya, tetapi karya saya memang bukan untuk mereka, tetapi langsung bersentuhan dengan masyarakat luar”. [a!]

Sumber. Barnes & Noble Encyclopedia ..Mayer, Ralp.A Dictionery Of Art Terms And Techniques.Barnes & Noble Book:1981…Gruen, John.Keith Haring : The Authorizat Biographi. Thames & Hudson:1991

 

This Post Has One Comment

Leave a Reply

Close Menu