Mengembalikan wilayah Jakarta Kota

1995_pemula Agustus_Edisi 026_jalan:
Mengembalikan wilayah Jakarta Kota

Proses mimpi bangun dan bekerja a la Budi Lim
Dimulai dari pertemuan berbagai kelompok profesi dikediaman Bapak Soerjadi Soedirdja bulan Juni 1993, sebuah tanggung jawab pun jatuh ke tangan Budi Lim dan teman-temannya. Pria yang meperdalam ilmu arsitektur di Inggris ini, ditantang untuk bangun dari mimpinya mengembalikan wajah Jakarta Kota hingga secantik asal mulanya, bahkan hingga kembali layak dijadikan tempat bermukim yang nyaman.

“Saya prihatin setiap kali membaca iklan perumahan yang menawarkan keasrian dan kehijauan di daerah pinggiran kota. Sepertinya, Jakarta sudah tidak layak lagi menjadi Jakarta sudah tidak layak lagi menjadi tempat bermukim. Orang berbondong-bondong membeli rumah di pinggiran tetapi tetap menikmati fasilitas yang disediakan Kota Jakarta”.

Jakarta memang terlanjur menjadi tempat yang hiruk pikuk, yang sepertinya tidak mungkin lagi menyuguhkan sebuah keasrian, apalagi keyamanan untuk bermukim. Masalahnya, kalaupun ada pemukiman yang ditawarkan di tengah kota, fasilitas apa yang bisa disediakan bila sejak keluar dari pintu pun hanya pilar-pilar bangunan yang pertama dilihat. Kehijauan nampaknya menjadi barang langka “alat produksi” yang semakin lama semakin panas, kering, dan tidak ramah.

Coba kita menengok ke belakang, ke masa Kota Jakarta baru dilahirkan.

“Dulu, Jakarta begitu indah hingga pantas saja bila, diberi julukan Princess of the East. Kota tertata baik, begitu pula dengan bangunannya.”

Tetapi pada usianya yang ke-168 tahun, Jakarta seperti kehilangan kata “indah”, “asri”, “tertib” dan “nyaman” dalam urutan kata sifatya.

Budi Lim mungkin dianggap bermimpi ketika berceloteh bahwa satu saat wilayah kota akan kembali didatangi oleh orang-orang yang ingin melepas lelah.

“Saya membayangkan taman Stasiun Kota akan menjadi welcoming plaza, taman Fatahillah akan menjadi cultural plaza dan sepanjang Kali Besar akan menjadi linear Plaza. Orang dapat berjalan kaki, menikmati berbagai atraksi seni dan budaya atau duduk di kedai-kedai makanan di daerah kota itu.

Bila melihat keadaan saat ini, semacam itu pantas disebut mimpi. Bagaimana tidak, setiap warga Jakarta pasti tahu bahwa daerah kota adalah yang tidak pernah macet. Bagaimana caranya orang dapat bersantai di daerah seperti itu. Tetapi, mimpi akan tetap menjadi mimpi bila kita tidak terbangun  dan bekerja. Dan itulah yang dilakukan oleh arsitek berputra dua ini, Ia tidak terus bermimpi.

“Setelah proposal “Peningkatan Kualitas Kali Besar” diterima sebagai bentuk kontribusi saya kepada pembangunan Jakarta, pekerjaan lapangan dimulai bulan November 1993.”

Dengan dukungan penuh pemerintah, Budi Lim mulai menggarap penggal Selatan-Barat Kali Besar. Trotoar diperluas sekaligus dipercantik dengan tempat-tempat duduk, tempat parkir ditata, palem raja dan bougenvile ditaman, dan mushola pun direnovasi. Tepatnya, wajah Kali Besar mulai berubah. Dan semakin berubah, setelah para pemilik bangunan di sepanjang jalan itu pun satu per satu mulai menyesuaikan bentuk bangunan mereka. Gudang-gudang peninggalan masa colonial yang tadinya dibiarkan bobrok atau dirubah menjadi bangunan berdinding kaca, mulai dipugar hingga nuansa kota tua kembali terasa.

“Gudang-gudang itu termasuk dalam daftar bangunan yang lindungin. Ada SK Menteri dan SK Gubernurnya. Tapi, tetap saja ada rencana akan memotong median hingga 7 meter, “berarti gudang-gudang itu pun akan dirubuhkan. Untungnya, tidak jadi dibongkar karena proposal saya disetujui gubernur.”

Sampai saat ini, proyek Peningkatan Kualitas kali Besar memang belum menyentuh pemugaran bangunan atau penataan arcadenya. Namun, perubahan mulai terlihat. Lalu bagaimana dengan air Kali Besar yang tidak sedap dipandang itu?

Ternyata masih ada harapan untuk membersihkannya.

“Saya meminta saran kepada ahli biologi maritime dari Kanada mengenai masalah ini. Sederhananya, nanti, akan dibuat “beberapa saringan di sepanjang sungai sebelum sampai ke Kali Besar dan beberapa pintu air “

Tanggal 9 Agustus 1995 tahap dari proyek ini akan dicanangkan oleh Gubernur DKI di sebuah tempat dekat jembatan Gantung atau Jembatan Intan yang nantinya akan direnovasi pula. Cakupan proyek tahap kedua ini adalah penataan penggal Selatan-Timur dan penggal Utara-Barat Kali Besar Jalan Roa Malaka, Jalan Kunir, serta Jalan Kemukus.

Budi Lim boleh disebut pemimpin tetapi wajah Kali Besar mulai berseri karena mimpinya.

“Kita tentunya tidak ingin Jakarta hanya dipenuhi bangunan-bangunan tinggi tanpa fasilitas dimana anak-anak kita bisa loncat untuk bunuh diri.”

Leave a Reply

Close Menu