Mengelola air, menciptakan peradaban

2002_Maret_Edisi 132_Bahas
Mengelola air, menciptakan peradaban
Joni Faizal

Kerajaan legendaris Sheba dan Saba, kerajaan megah di sudut tenggara Yaman, selama 13 abad berhasil membangun peradaban yang ditopang oleh sistem pengairan. Mereka berhasil mengubah gurun menjadi tanah pertanian subur. Tetapi cerita tentang kemakmuran mereka berakhir saat bendungan, yang memberi makan sebagian penduduk Timur Tengah pada saat itu, runtuh akibat tidak dikelola dengan baik. Lepas tahun 570 M, keberuntungan waduk akhirnya menenggelamkan pula Sheba ke dasar kehancuran.

Manusia mulai “mengatur air” paling tidak sejak Jaman Batu Baru (50.000 – 5.000 SM). Kala itu manusia mulai belajar bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan pangan. Saat itu pula manusia tengah membangun peradabannya.

Air, kekuatan besar yang dapat menentukan kemakmuran. Alirannya telah mengantar banyak mencapai pera-daban besar. Bangsa Mesir Karena Sungai Nil, Bangsa Mesopotamia yang daerahnya kini menjadi Irak, Karen sungai Trigis dan Furat, Bangsa India karena Sungai Indus dan Bangsa Cina karena Sungai Kuning.

Kejayaan peradaban Mesir setidaknya dimulai sejak Menes, yang merupakan pendiri keluarga raja pertama, giat mendirikan bangunan-bangunan hidrolik di ibu kota Memphis sekitar 3100 SM. Pekerjaan Menes ini dilanjutkan oleh beberapa wangsa Firaun dalam bentuk system pengairan yang tertata. Mereka membuat tanggul juga saluran air dari sungai Nil ke Danau Moeris dia barat Memphis, yang tidak saja dapat menahan luapan Sungai Nil, tapi juga dapat membuat Faiyum sebagai daerah subur dan rimbun; Tidak berlebihan bila kemudian Herodotus, menyebut Mesir sebagai “anugerah sungai Nil”.

Anugerah aliran sungai pula yang memahat Mohenjo-daro di Lembah Indus dalam sejarah peradaban besar umat manusia. Ibu kotanya yang disebut Kota Harapan, 332 km sebelah utara Karachi, Pakistan, dianggap berhasil membangun dirinya melalui kecanggihan teknologi pengelolaan air. Padahal itu terjadi pada 2500 SM!. Salah satu yang menarik dari kehidupan kota tersebut adalah berkembangnya sistem pembuangan air dari perumahan melalui saluran tertutup bawah jalan.

Tahun 700 SM, raja Asiria, Senacherib, jua melengkapi Niiveh, ibu kota negaranya, dengan saluran air yang sebagian melintangi lembah lebar, yang merupakan salah satu talang besar di jaman itu. Dibutuhkan 2.000.000 balok batu untuk membangunnya. Tidak hanya itu, Mesopatamia pun terkenal dengan Terusan Nahrwan yang mengalirkan air sejauh 300 kilometer, dari Tikrit dan Sammara sampai ke Kut.

Bangsa Cina tidak ketinggalan menuai kejayaan peradaban melalui persahabatan dengan air. Sungai Kuning dengan Terusan Agung sepanjang 1600 km, selama 2000 tahun berfungsi sebagai jalan utama perdagangan antara pusat politik di utara dengan pusat pertanian di selatan. Pada puncak kesibukannya, lebih dari dua juta ton gandum disalurkan melalui perahu-perahu kayu. Aliran ini pun berfungsi sebagai system pengendalian banjir, sekaligus rute tamasya para kaisar ke sejumlah istana dan taman yang berjajar di tepiannya.

Peradaban bentukan air juga menyisakan tinggalannya di Nusantara. Proyek paling tua terletak di hulu Kali Konto dan terus ke barat sampai bermuara di Kali Brantas, Kertosono, Jawa Timur. Pada prasasti di desa Harinjing (dari tahun 921), bagian pertamanya mengulang sebuah prasasti tahun 804 tentang penggalian sebuah saluran oleh para kepala desa serta pembangunan sebuah tanggul di anak sungai Kali Konto. Pengetahuan pengelolaan air yang menjadi politik agraris para raja Jawa, kemungkinan besar dicontoh dari kemegahan Angkor yang teah memiliki waduk berkapasitas lebih dari 50 juta m3.

Begitu banyak catatan sejarah tentang kekuatan air membentuk dan menghancurkan peradaban manusia. Tidak cukuplah untuk jadi pelajaran bagi kita?

Sumber;  Leopald, Luna R. Kenneth David “Water.” Tie Life 1990  Lambard, Denys, Nusa Jawa; Silang Budaya, Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris. Jakarta; PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000. www.oldprints.co.uk¬

Leave a Reply

Close Menu