Menemukan Semangat Berkesenian dan Pembaruan Arsitektur di Gedung Imigrasi

2000_Januari_Edisi 108_revital:
Menemukan Semangat Berkesenian dan Pembaruan Arsitektur di Gedung Imigrasi
Joni Faizal

Apa yang istimewa dari berkas gedung Kantor Imigrasi?  Mengapa banyak masyarakat yang merasa kehilangan? Pertanyaan ini mungkin perlu dikemukakan di tengah gencarnya media memberitakan perihal penjarahan gedung bersejarah yang terletak di Jalan Teuku Umar itu. Apalagi dalam beberapa berita disebutkan, pengelola gedung tua tersebut sanggup mengeluarkan uang hingga semilliar bagi siapa yang menemukan barang-barang hilang dari gedung tersebut. Hal ini yang mungkin dianggap sebagian orang terlalu berlebihan.

Apa yang dapat dikisahkan dari gedung yang berusia hampir satu abad itu barangkali adalah semangat berkesenian dan sosok gedungnya sendiri yang mewakili pembaruan pada jamannya. Bisa dibayangkan, pada jaman itu di Hindia Belanda sudah terbentuk sebuah jaringan Kesenian Hindia Belanda (Nederlan sch-Indische Kunstkring) yang merupakan lembaga penyelidik dan kesenian di Asia Tenggara. Didukung oleh pemerintah Belanda dan para pakar kesenian, jaringan ini memberikan  informasi tentang perkembangan seni dalam segala aspeknya, seperti seni patung, lukis, musik, teater, hingga sastra.

Sebelum pusat jaringan seni ini terbentuk ada bulan Desember 1900, di Batavia telah terbentuk pula lingkungan intelektual yang terdiri atas beberapa orang yang mempunyai minat dalam seni patung. Walaupun sudah diusahakan pengenalan seni ini pada masyarakat melalui pameran-pameran sederhana, namun kurang mendapat tanggapan dari masyarakat.

Pada tanggal 1 April 1902 jaringan kesenian mempersembahkan pertunjukan para penyair. Kemudian dipamerkan pula lukisan Pasteis Van Louis Raemaeleers dari Belanda yang dilanjutkan dengan pameran lukisan repro karya Rembrant. Dan pada tahun 1903 ada pula pementasan kesenian yang telah dipengaruhi kebudayaan Barat. Pertunjukan ini sangat diminati oleh masyarakat, karena Hendri Burel, seniman kondang yang merancang pertunjukan itu mempromosikannya dengan katalog.

Di tahun 1906 ada semacam perayaan HUT Rembrant dimana digelar pameran dengan menampilkan 126 foto-foto besar karya seni Rembrant, foto-foto cetakan pigmen dari Btaun, Clementenco, dan Redornach. Diperkirakan pada acara tersebut dihadiri kurang lebih 3600 pengunjung dan dianggap sukses besar.

Sebenarnya, usaha untuk memajukan kesenian pada jaman itu sudah pada tahap yang dianggap profesional. Namun pada awal perkembangannya, jaringan Kesenian Hindia Belanda ini tidak cukup fasilitas untuk terus mengadakan pameran dan pertunjukan seni. Pergerlaran pameran dan pertunjukkannya seringkali diadakan di rumah-rumah pribadi. Itulah sebabnya agak sulit bagi para seniman amatir untuk memamerkan atau mementaskan pertunjukan mereka. Walaupun begitu, semangat untuk memajukan atau mementaskan pertunjukkan dan memberi informasi perkembangan terus bergulir. Tidak jarang pula karya-karya seni yang dipamerkan atau dipentaskan di Batavia dibawa ke Bandung, Semarang, dan Surabaya agar pecinta seni di kota itu juga menikmati kesenian yang dipamerkan itu.

Pusat Jaringan Kesenian (Kunstkring) dalam usia mudanya tidak saja menjadi ajang pentas dan pameran. Dari tempat ini pula sering diadakan diskusi-diskusi serta tempat berkumpulnya kaum intelektual kesenian bertukar pikiran. Maka, setelah disadari bahwa pameran dan pertunjukkan membutuhkan tempat yang lebih khusus, jaringan yang awalnya beranggotakan 60 orang ini kemudian berencana untuk lebih mandiri dan membangun gedung sendiri.

Meskipun telah direncanakan sejak 1910, pembangunan gedung tidaklah semulus seperti yang diperkirakan.  Usaha untuk mengumpulkan dana yang mencapai 150.000 Gulden beberapa kali gagal. Namun para pengurus jaringan kesenian ini tidak putus asa. Gagal mendapat pinjaman kredit dari bank, para pengurus Nederlansch Indische Kunstkeing akhirnya mendapat pinjaman dari perusahaan Asuransi Bataviasche Zee-en Brandassurantie Mij sebesar 75.000 Gulden. Bunga dan uang tebusan dijamin dengan kontrak selama 10 tahun dengan perusahaan Stamm en Weyns.

Selain itu penguurus jaringan kesenian ini juga mengumpulkan dana dari beberapa donator, baik dari perorangan maupun perusahaan yang ada di Batavia. Dari donator itu terkumpullah sekitar 10.000 Gulden ditambah dari bantuan pemerintah sebesar 8.000 Gulden. Beruntung jaringan kesenian ini mendapat wakaf tanah dari perusahaan pengembang NV Bouwploeg. Tanah tersebut adalah tanah yang sekarang menjadi tempat berdiri Gedung Imigrasi yang waktu itu masih bernama Jalan Van Heutsz Blud. Pembangunan gedung ini baru selesai pada tahun 1913.

Pembaruan Arsitektur
Bukan sekedar ruang pameran dan pertunjukan, gedung berlantai satu itu dilengkapi pula dengan perpustakaan, ruang diskusi, ruang kantor dan restoran. Menarik pula untuk diamati bahwa gedung ini memiliki system struktur yang merupakan pancapaian sangat maju di jamannya. Di Hindia Belanda bangunan yang memakai teknologi ini hanya dua, Gedung Imigrasi sendiri dan Gedung Asuransi yang terletak di Jl. H. Juanda.

Menurut Han Awal, Pembina di Ikatan Arsitek Indonesia, kemajuan yang dicapai gedung imigrasi pada waktu itu paling modern. Sebab gedung tersebut merupakan eksperimen paling mutahir di jaman peralihan awal abad 20. Kemajuan itu tampak pada penggunaan sistrem beton di lantainya. Juga yang menarik adalah cara membangunnya, yaitu menggunakan kusen-kusen dahulu baru batu bata. “Kusen tersebut merupakan kesatuan dari konstribusi,” jelas Han Awal. Jadi, jika kusen-kusen itu banyak dicuri, berarti kekuatan gedung tersebut menjadi berkurang.

Gedung Imigrasi dibangun oleh arsitek ternama P.I.A Moojen ini konon banyak dipengaruhi pemikiran Berlage. Ketika Berlage berkunjung ke Batavia, ia menyempatkan diri unutk menyaksikan gegung tersebut dan mengatakan kekagumannya.

Sebentar lagi,–jika tidak segera diantisipasi –Gedung Imigrasi akan kehilangan bentuknya, yang berarti pula akan menghilangkan sebagian identitas Jakarta yang pernah dicirikan oleh Gedung Imigrasi. Mengutip kalimat Danang Priatmodjo, arsitek dan perancang kota serta pengajar di Universitas Tarumanegara, bahwa bangunan tua merupakan unsur penting dalam wacana arsitektur kota. Masyarakat akan merasa kehilangan karena citra yang membekas di dalam benak mereka (collective memory) tentang gedung tersebut akan hilang oleh kehancuran atau harus berganti dengan gedung lain.

Ada benarnya Winston Churchill yang mengatakan, “We shape our buildings, therealter thery shape us,” Masalahnya, kita telah menghancurkan gedung itu, akankah kelak sebaliknya?

Leave a Reply

Close Menu