menembak burung

2000_Agustus_Edisi 115_peduli :
menembak burung
Ade Tanesia/Rohman Yuliawan/Joni Faizal

Tokoh anak muda dalam film Birdy tentu akan menangis jika menyaksikan burung-burung yang sedang berterbangan tiba-tiba jatuh tertembak. Pasalnya dirinya obsesi untuk dapat terbang seperti burung. Sayangnya ia hanya manusia tak bersayap, yang tanpa perlu ditembak, akhirnya tewas saat dirinya terbang meniru burung.

Hanya dengan senapan angin yang mudah didapat, seseorang bisa berfantasi menjadi pemburu ulung di tengah kota.Banyak jenis-jenis senapan angin lokal yang bisa dibeli dengan harga kira-kira 20 mangkok bakso. Masalah perburuan burung memang belum mendapat perhatian yang cukup, demikian lontaran Hartono, koordinator Yayasan kutilang Indonesia. “Kita masih sering melihat pemburu burung, dengan menyandang bedil ataupun dengan perangkap jaring, berkeliaran dilingkungan kita, terutama di daerah pedesaan dan lereng gunung, tanpa mendapat peringatan sama sekali,” tambahnya. Berdasarkan penelitian Yayasan Kutilang, populasi burung dengan cepat berkurang karena maraknya perburuan. Bahkan burung yang sebelumnya mudah kita temui di lingkungan pemukiman, seperti burung pipit dan gereja, kini mulai menjadi sasaran perburuan. Padahal Indonesia mempunyai avifauda (bangsa burung) di dunia. Ironisnya, 95 spesies burung di negeri ini terancam punah dan 411 spesies burung berada dalam restricted-range species. Yang dimaksud dengan restricted-range species. Yang dimaksud dengan restricted-range species (r-e sp) adalah burung yang penyebarannya sekitar 50.000 km2. Sebagai contoh burung gelatik jawa yang dahulu umum ditemui di daerah Jawa pada ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut, ini terancam punah. Bas van Balen, staf Bidang Spesies Birdlife International Indonesia Programme, mengungkapkan bahwa sepuluh tahun silam gelatik jawa besar hingga ratusan ekor. Namun saat ini di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, salah satu tempat terakhirnya, gelatik jawa sudah sulit dijumpai. Dan salah satu penyebab punahnya gelatik jawa disebabkan oleh kebiasaan menembak burung di kalangan anak muda.

Larangan Menembak Burung
Peraturan pemerintah bukannya tidak ada, terbukti dengan adanya Peraturan keluaran Materi Kehutanan tentang larangan untuk memburu burung. Di Yogyakarta pun, pemerintah daerah juga telah mengeluarkan Perda yang melarang perburuan burung di wilayah Yogyakarta. Namun nampaknya sosialisasi peraturan tersebut tidak berjalan baik sehingga para pelaksana kebijakan di tingkat bawah belum atau tidak mengetahui adanya peraturan semacam itu. Di daerah Wonogiri, kabupaten di Selatan kota Solo termasuk salah satu daerah sasaran pemburu-pemburu liar. Populasi satwa burung di kawasan itu menurun tajam, sehingga Bupati Wonogiri mengeluarkan SK nomor 660.1/01/137/1999 yang melarang keras adanya perburuan aneka jenis satwa burung di wilayahnya. Kabupaten Wonogiri merupakan daerah kedua di Jawa Tengah yang mengeluarkan instruksi setelah sebelumnya Kabupaten Boyolali.

Para Pemburu
Alasan seseorang berburu burung memang bisa beragam, di antaranya sebagai mata pencaharian seperti kebanyakan pemburu burung di kawasan lereng gunung Slamet di Jawa Tengah dan Gunung Wilis di Jawa Timur sampai hanya karena alasan hobi atau kesenangan belaka. “Saya berburu burung karena hobi dan hiburan mengisi waktu luang,” kata Yani, remaja desa Triharjo, Sleman. Dia menambahkan bahwa dia lebih sering menembak tupai daripada burung, tapi karena tupai mulai jarang di daerah tertentu lantas saja burung menjadi sasaran tembaknya. Hasil burungnya kadang dimasak sendiri dan kadang diberikan pada orang lain, bahkan kadang hanya dibuang. Dengan senapan angin caliber 4,5, Yani kerap berburu burung di daerah Turi bersama beberapa temannya. Burung yang biasanya dia dapatkan adalah burung trotokan, kutilang dan puyuh. Lain lagi dengan Guntur, selain untuk kesenangan hasil tembakan yang masih hidup kadang dipeliharanya sendiri. Dia biasanya berburu di kawasan hutan Kaliurang, dan kawasan Kali Kuning dimana banyak burung yang berbulu bagus masih bebas berkeliaran, sperti betet atau nuri. Burung hasil tembakannya ada juga yang diawetkan, Guntur sendiri sebenarnya tahu bahwa ada larangan warga untuk menembak burung, bahkan dirinya pun pernah dikejar dan dimarahi orang kampong. Namun kesenangan yang diperolehnya mengalahkan kepeduliannya pada larangan tersebut. Senapannya yang bermerk Sharp di peroleh dari bapaknya sewaktu masih SMA, tujuh tahun lalu.

Perlindungan Terhadap Satwa Burung
Menurunnya spesies burung telah menggerakkan Yayasan Kutilang untuk melakukan pencegahan atau setidaknya mengurangi praktek perburuan burung. Yayasan Kutilang lebih menekankan pada penyadaran masyarakat dan lantas memberdayakan atau melibatkan mereka dalam usaha-usaha pelestarian habitat maupun spesies burung.
Di desa Jetis, dikawasan lereng gunung Merapi, partisipasi kaum mudanya dalam mendukung program konservasi lingkungan patut diacungi jempol. Dengan bimbingan dari Yayasan kutilang, mereka telah berinisiatif membuat papan peringatan bagi pemburu. Sanksi juga mereka kenakan pada pemburu bandel melanggar peringatan tersebut, misalnya penyitaan alat berburu, dan bahkan pernah ada pemburu burung yang dipukuli massa. Di wilayah kampong tersebut ada spesies burung langka dari jenis elang jawa, yang menurut survey hanya tinggal dua pasang di hutan lereng Merapi.
Implementasi peraturan seperti pemasangan rambu atau larangan untuk melakukan perburuan nampaknya belum banyak dilakukan. Di beberapa tempat memang telah ada rambu atau tulisan larangan untuk berburu, misalnya di kawasan lembah UGM (tidak spesifik burung), di daerah Wonosari Gunung Kidul, dan beberapa tempat di desa Jetis di lereng Merapi. Agaknya hal ini yang sempat mengusik kepedulian sebagian penggiat penyadaran masalah lingkungan, seperti GPL Hijau dan KP3 Burung fakultas Kehutanan UGM untuk melakukan aktivitas promosi dan advokasi konservasi burung. Bersama lembaga-lembaga lain mereka pernah memprotes penyelenggaraan lomba burung berkicau yang diadakan di lingkungan kampus UGM dalam rangka dies natalies universitas tersebut. Kemudian pada akhir Juni lalu GPL Hijau menyelenggarakan lomba desain rambu lingkungan hidup untuk menyikapi perlunya aksi penyadaran masyarakat akan masalah-masalah lingkungan. Jika perburuan masih berlanjut, bisa jadi generasi mendatang hanya mengenal burung lewat gambar.

Leave a Reply

Close Menu