mencipta kembali puisi secara lisan

2001_Juli_Edisi 126_Bahas:
mencipta kembali puisi secara lisan
Lisabona Rahman/Alex Supartono

Masih ingat pelajaran Bahasa Indonesia SD? Salah satu tugasnya adalah ke depan kelas, mendeklamasikan puisi Chairil Anwar, Diponegoro, yang ada dalam buku pelajaran terbitan Balai Pustaka. Pastilah sangat sedikit dari kita yang mempunyai pengalaman indah dengan tugas itu karena dilihat sebagai soal hafalan saja. Pernah terbayang ada orang yang berpreofesi sebagai deklamator/deklamatris?

Peminat sastra Indonesia yang sempat mengalami kejayaaan deklamasi tahun 60-an menyebut paling tidak satu nama dengan mata berbinar: Rondang Erlina Marpaung. Sejak 1956 suaranya ditunggu dalam acara Tunas Mekar di RRI tiap Minggu petang, dan dijadikan acuan bagaimana membawakan puisi untuk publik, bukan sekedar membacakan.

Rondang Erlina Marpaung lahir di Pare-pare,Sulawesi Selatan, Desember 1939. Popularitasnya sebagai deklamatris sering membuat orang lupa bahwa dia juga jurnalis Berita Minggu, salah satu Koran terpoluler tahun 1960-an.

Tulisannya bicara soal peremuan, masalah remaja, latihan militer dan masalah sosial lain di zamannya. Bahkan karya puisinya justru lebih dulu dibacakan dalam acara Tunas Mekar, sebelum dia tenar sebagai deklamatris. Dunia tulis menulis ini pulalah yang membuat Rondang menjadi wakil PWI dalam delegasi Indonesia untuk perayaan 1 Oktober 1965 di Cina dan peristiwa ’65 di tanah air mambuatnya berhenti menulis, tahun 1988 dia mendapat hadiah untuk tulisannya Beijing Tersenyum, yang dimuat dalam kumpulan Waiguo Ren Kan Beijing (Beijing di Mata Orang Asing). Sempat pula dia bersama suaminya sejarahwan sastra Z. Afifi pindah ke Vietnam, sebelum menetap di Swedia sampai sekarang.

Hampir 40 tahun lalu, di studio 5 RRI Jakarta, Rondang duduk menunggu giliran maju ke mikrofon. Setelah pengenalan singkat tentang puisi yang akan dibacakan, deklamatris berdiri membaca pelan-pelan. Siaran ini dipimpin oleh Abdu Muthalib, deklamator yang juga adalah pegawai RRI, yang membantu mengarahkan para deklamatris/tor muda. “Ketika siaran kak Lib berdiri di samping kita seperti seorang drigen. Tanganya naik turun, kadang-kadang melambai bergelombang, kadang wajahnya meringis, gembira, senyum,” tutur Rondang.

Selain pembacaan puisi, acara ini juga diisi oleh pembahasan lebih luas tentang sastra, degnan sumber seperti HB Jassin, Pramoedya Ananta Toer dan Boejoeng Saleh Poeradisastra. Sejak saat itu nama Rondang menasional, suaranya yang dalam dan mantap membuatnya menjadi deklamatris yang tak tersaingi. Mereka yang pernah mendengar suaranya, sampai sekarang setelah lebih dari 30 tahun, masih mengingatnya dengan senyum, Rondang, sang deklamatris.
deklamasi BUKAN membacakan puisi

Mengapa Rondang bisa sebegitu terkenal saat itu, mengapa suaranya bisa menancap abadi dalam ingatan orang yang pernah mendengarnya? Rondang mengerti bahwa deklamasi bukan hanya membaca dengan penuh perasaan (declaim). Ia selalu menciptakan kembali puisi itu dalam bentuk lisan. Menyampaikan pesan, misi dan degup jantung si penyair kepada pendengarnya. Peranan seorang deklamatris/tor adalah peranan perasaan dan pengertian tentang isi puisi yang akan dibawakannya. Rondang pasti akan menyimak dan menelaah puisi yang akan dibacakannya dengan hati-hati. Riset singkat tentang latar belakang kehidupan si penyair lewat Koran atau buku sastra adalah tahap yang tak mungkin dilewati. Melalui penelitian singkat itulah konsep pemikirannya tentang puisi itu lahir.

Unsur terpenting lain yang melejitkan orang seperti Rondang ini adalah, puisi itu sendiri. Puisi pada masa itu “mudah” dideklamasikan karena sangat komunikatif. Karena sang penyair selalu memikirkan bagaimana kalau puisi itu dibacakan oleh dan untuk orang lain. Publik menjadi pertimbangan penting. Coba saja kita bandingkan puisi Agam Wispi, Matinya Seorang Petani (1955) dan Chairil Anwar, Kerawang-Bekasi (1949) dengan puisi Afrizal Malna Kucing Berwarna Biru (1997) atau pusisi Sitok Srengenge Generasi Hutan Ranjang (1990). Zaman memang berubah, gaya bisa berkembang dan bentuk puisi bisa bermutasi menjadi apapun, tapi pubik adalah tetap. Puisi yang bentuknya saja sudah sulit inilah yang menjadi salah satu sebab tidak lahirnya Rondang-Rondang baru. Satu dari segelintir puisi di tahun 1990-an yang ditulis untuk dikomunikasikan (melalui bunyi)adalah karya Saut Sitompul Kau Tak Sendiri (1995) yang ia tulis buat M. Fadjroel Rahman.

Fungsi puisi sebagai media komunikasi (dua arah)berubah menjadi media ekspresi individual (searah). Emosi dan pengalaman individu yan dituangkan ke dalam puisi makin sulit untuk dimengerti orang lain, jangan lagi untuk memberi inspirasi dan membangkitkan semangat. Puisi saat ini leboh berfungsi sebagai media keluh kesah seorang penyair yang semakin lama semakin kehilangan nilai komunikasinya. Hal yang tentu menciutkan kemungkinan puisi-puisi ini dideklamasikan.

Sekarang sulit rasanya membayangkan mengapa begitu banyak orang mengagumi Rondang karena kemampuan deklamasinya. Apalagi kalau melihat acara deklamasi di televisi yang selalu menimbulkan rasa iba. Perkembangan deklamasi berkait berkelindan dengan perkembangan puisi yang juga makin lama makin membuat kita rajin menggerutu. Atau mugkin juga kita selama ini menoleh kearah yang salah, sementara puisi-puisi yang mengajak kita berkomunikasi dengan kita terlantar di buku-buku tulis kawan-kawan kita sendiri. Nah, mulailah mencari dan berdeklamasi.

Catatan…
•Perkembangan deklamasi setelah tahun 1964 surut jauh ke belakang. Martin Aleida, juara deklamator Sumatera Utara di tahun 1962 merasa jengah melihat lomba deklamasi yang diadakan setelah tahun 1965. Menurutnya deklamasi saat ini seperti pekerjaan anak-anak: cengeng dan berlebihan. Padahal tahun 1965 dekalmasi berfungsi sebagai pemulih semangat, bukan untuk meratap bersama.
•Peran Soekarno tak bisa dilepaskan dari perkembangan deklamasi. Ia memberi kesempatan yang begitu luas bagi remaja dan anak muda untuk mengembangkan diri, salah satunya melalui deklamasi di acara-acara yang ia hadiri.
•Media elektronik seperti televisi dan radio pernah menyiarkan acara deklamasi secara rutin. Peran radio dalam menyebarluaskan deklamasi lebih menonjol karena radio adalah media massa yang paling luas distribusinya di tahun 1960-an.
•Sastrawan dan lembaga-lembaga kebudayaan berusaha menjalin kerjasama yang baik dengan media massa. Lembaga-lembaga kebudayaan berusaha menjalin kerjasama yang baik dengan media massa. Lembaga-lembaga kebudayaan seperti LEKRA, LESBUMI dan LKN saling mendorong anak-anak muda untuk kreatif salah satunya dengan menyediakan berbagai kesempatan berdeklamasi.

Leave a Reply

Close Menu