Memplesetkan Warok Suromenggolo & Prabu Menakjinggo

1999_Maret_Edisi 099_milikita:
Memplesetkan Warok Suromenggolo & Prabu Menakjinggo

“Penonton langsung saja gerr, saat tokoh Warok Suromenggolo yang dibayangkan akan tampil garang, sakti, justru sangat lemah gemulai seperti banci, takut menghadapi musuhnya, tunduk total dengan isterinya”. Inilah lakon “Suminten Edan” versi ketoprak plesetan yang telah mengobrak-abrik cara warok. Digambarkan Suromenggolo telah memakai baju khas warok yaitu baju hitam berleher dengan kancing terbuka, tapi tutur kata dan gerak tubuhnya mementahkan ke “machoan”nya.

“Bagi masyarakat Ponorogo, warok Suromenggolo adalah tokoh bijaksana, baik hati, tidak sombong. Namun pada masyarkat di daerah Jawa Tengah, Suromenggolo bukanlah idola, Ia lebih dikenal sebagai ambisisus”.

Apapun interpretasi yang muncul, masyarkat Ponorogo tetap mengidolakan Warok Suromenggolo. Ia bukan sekedar cerita rakyat, tapi dipercaya sebagai murid Batara katong, pendiri Ponorogo. Warok Suromenggolo dibayangkan sebagai tokoh yang bijaksana, baik hati, tidak sombong. “Wong ada kuburannya kok”, ujar mbak Pad yang berasal dari Ponorogo. Penghormatan orang Ponorogo terhadap Warok tak lepas dari esensi keberadaannya. “jadi warok itu bukan gampang, atau sekedar memakai baju hitam-hitam, tapi harus menguasai Roh Kamanungsan Kang Sejati (Jalan kemanusiaan yang sejati), juga antara apa yang diucapkan harus sejalan dengan apa yang dilakukannya”, ungkap Mbah Kamituwo Kucing. Mendapat sebutan warok pun tidak bisa sembarangan, seperti yang dikatakan oleh Mbah Ngainan…”sebutan warok itu bukan saya yang bilang, tapi orang lain. Saya tidak berani mengaku warok, karena waktu itu harus memberi, bukan menerima pemberian,” ujarnya.

Namun bagi masyarakat di daerah Jawa Tengah, Warok Suromenggolo bukanlah idola atau tokoh yang dikultuskan, bahkan dalam versi ketoprak mataram (Yogyakarta), ia lebih dikenal sebagai tokoh ambisius yang ingin meraih kedudukan setingkat dengan Adipati Trenggalek. Selain itu, ada pandangan bahwa ia adalah tokoh yang tega menghabisi sesame warok. Misteri hubungan antara dengan gemblak yang disinyalir Ponorogo punya alasan, bahwa di masa lalu anak perempuan tidak boleh berkesenian, sehingga yang dipakai adalah bocah pria tampan yang didandani manis seperti perempuan. Dan ketika jaman berubah, kini peran gemblak sudah diganti perempuan.

Tokoh idola masyarakat Ponorogo ini memang telah dijungkir balikkan oleh Bondan Nusantara sutradara ketoprak plesetan yang pernah marak sekitar tahun 1992-an. “Untuk tokoh warok suromenggolo, saya masih berani memplesetkannya, karena cerita rakyat ini kan bukan milik orang Yogyakarta. Tapi mungkin akan lain ceritanya, jika yang nonton orang Ponorogo,” ungkapnya. Menginterpretasi ulang cerita rakyat bukan hal yang diharamkan…”Dulu ditahun 60-an, ketoprak Krido Mardi yang berafilasi dengan Lekra, yang mengacu pada ideologi relisme sosial, punya interpretasi sendiri. Dalam pentasnya, Warok Suromenggolo digambarkan sebagai idola yang mempersatukan para warok untuk menuntut keadilan dari kelas bangsawan. Disini pesan yang ingin disampaikan adalah agar rakyat melawan setiap bentuk feodalisme,” lanjut mas Bondan.

“Atau Prabu Menakjinggo yang ditampilkan buruk rupa telah menyudutkan perasaan masyarakat Using, Banyuangi, sehingga gambaran Sang Prabu harus dirubah total menjadi bijaksana yang tampan”.

Tak hanya Warok Suromenggolo yang punya tafsiran berbeda, tokoh Prabu Menakjinggo dari Blambangan, Jawa Timur juga mengalami nasib sama. Dalam cerita rakyat Damar Wulan, tokoh ini selalu ditampilkan dengan wajah bopengan, mata juling kemerahan, kakinya pincang, cara bicaranya seperti sirkus. Rupanya gambaran ini tidak diterima oleh masyarakat Using, Banyuangi. Adanya citra ini menyebabkan rasa inferior (rendah diri) pada masyarakat Jawa mataram yang seakan-akan lebih halus. Sadar akan persoalan ini, Hasan Ali Budayawan asal Banyuwangi dengan mengubah gambaran Menakjinggo. Oleh Hasan Ali, Menakjinggo dirubah menjadi tokoh idola, seorang penguasa yang gagah, bijaksana, dicintai rakyat, menentang kelaliman Majapahit. Kemudian Menakjinggo yang memperoleh penghormatan Dewa serta mencapai kesempurnaan. Perubahan gambaran Menakjinggo yang ditampilkan melalui kesenian Damarwulan lambat laun mulai memasyarakat, dan mampu memunculkan rasa bangga sebagai masyarakat Using.

 

Leave a Reply

Close Menu