memburu cantik …

2000_Januari_Edisi 108_bahas:
memburu cantik …
Uke R. Kosasih

Setiap hari, di setiap ruang, hampir tidak pernah kita terlepas dari sosok-sosok sempurna yang menawarkan berbagai informasi. Terlepas dari berguna atau tidaknya informasi tersebut bagi kehidupan kita, dari waktu ke waktu kita digiring untuk menyeragamkan sebuah pandangan, bahwa cantik adalah tubuh semampai, paha tanpa seluit, kulit putih mulus, dan rambut ikal. Banyak orang berkilah bahwa wajah dan tubuh cantik bukan segalanya, tapi industry kosmetik menampilkan kenyataan lain. Rekayasa cantik tidak saja menjadi peluang bisnis beromzet besar tapi juga berdampak bagi banyak sisi kehidupan lainnya.

Cantik = produksi sosial, ekonomi, dan politik

Konsep tentang “cantik” dan “tidak cantik” rupanya lebih dari sekedar persoalan alamiah. Rentang sejarah membuktikan bahwa konsep “cantik” adalah produksi sosial, ekonomi dan politik suatu masyarakat di setiap eranya. Sebut saja era Victoria, saat itu wanita cantik bagi masyarakat Eropa adalah wanita yang sepenuhnya pasif dan tergantung, seperti malaikat di sangkar rumah. Dengan pemikiran seperti itu, wanita cantik digambarkan dengan wajah-wajah halus, pucat, alami dan lugu. Konsep ini diperkuat dengan tampilnya lembaga gereja yang mengontrol kehidupan seksual masyarakat, sehingga kecantikan wanita juga dilihat dari peran sucinya dalam mengontrol “keliaran” para pria.

Memasuki Perang Dunia I, konsep cantik pun mengalami perubahan. Seiring dengan munculnya sekularisme, yang dipicu oleh erosi keyakinan beragama akibat keganasan perang, dan kegiatan industry, yang menghasilkan tingkat pendidikan yang merata dan memupuk pemikiran rasional,  kecantikan tampil dengan wajah yang lain pula. Pada saat itu, wanita yang cantik adalah wanita yang mampu menggali kecantikan sendiri sesuai dengan pilihannya.

Sebuah buku kecantikan yang terbit di Perancis pada tahun 1920’an menulis bahwa seorang wanita harus selalu berupaya mengolah kecantikan dari dalam dirinya. Artinya, wanita tidak hanya berdandan di saat mabuk cinta dan bertemu dengan pria pujaannya, tapi harus selalu tampil cantik di depan umum. Tindakan ini menjawab fenomena maraknya wanita karir, yang secara financial menjadi lebih mandiri dan dapat mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Dapat dipahami bila kemudian muncul pula tuntutan dari kaum wanita untuk mendapat pakaian yang tidak membatasi gerak mereka. Hasilnya, cantik pada masa itu mulai ditampilkan melalui wajah-wajah yang segar, aktif, dan percaya diri.

Tahun 1950’an, hampir tidak ada perubahan penting mengenai konsep kecantikan di Eropa. Tetapi, tidak demikian halnya di Amerika, pada decade itulah “badan gemuk” menjadi symbol kesuksesan, sehingga banyak orang, terutama pada pria, tidak takut lagi untuk terlihat gemuk. Selain itu, kecantikan pun banyak dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan akan rekreasi untuk menikmati hidup, karena itu para wanita terdorong untuk lebih bebas membuka bagian dada dan kaki mereka. Di sisi lain, di kalangan Afrika Amerika, terbit konsep cantik ideal yaitu yang tampak seperti orang kulit putih. Namun pendapat ini langsung diredam dengan terbitnya sebuah buku panduan kecantikan khusus untuk gadis-gadis Afrika Amerika terbitan tahun 1959, yang menulis bahwa warna kulit tidaklah penting dalam menentukan kecantikan seseorang.

Hal hampir serupa pernah terjadi di Indonesia pada periode 1980-1990’an, ketika itu konsep “cantik”didomisili oleh wajah-wajah indo. Akibatnya, pada wanita melayu pun berusaha mati-matian untuk bisa tampil seperti “bule”. Rupanya gejala ini pun pernah terjadi di Malaysia membuat peraturan agar industry televis atau film hanya diperkenankan mengambil artis berwajah melayu dan bukan yang keindo-indoan.

Hidung mancung & pinggang ramping VS senyum & kasih sayang
Di masa Perang Dunia I, telah muncul pendapat bahwa kecantikan alami adalah anugerah yang langka sehingga kecantikan pun harus didukung oleh kesehatan dan vitalitas . diterimanya pemahaman baru ini telah mendorong bermunculannya tawaran latihan untuk memperbaiki cara berjalan, mengecilkan kaki atau pinggang, membentuk atau ,memperbaiki bentuk paha, dada hingga pantat.

Namun masih di era yang sama, muncul pula pikiran yang menentang upaya mempercantik diri yang kemudia hanya menghasilkan perbudakan produk iklan. Serangkaian artikel mengenai kecantikan yang dipublikasi oleh “ia petit pariesen” telah mamicu pro dan kontra di masyarakat. Dalam artikel itu dituliskan bahwa wanita tidak butuh kulit sehalus porselen untuk menjadi cantik. Artikel itu dituliskan bahwa wanita tidak yang takut tertawa atau menangis untuk menghindar kerutan di pipi. Kecantkan, menurut  artikel tersebut, dapat duiperoleh para wanita pekerja, yang sekalipun tidak mampu dan  tidak punya waktu untuk pergi ke pusat-pusat lembaga kecantikan, tetapi tetap memiliki senyum dan kasih sayang bagi suami dan anaknya.

Adanya pemahaman baru tersebut telah menerbitkan gelombang kecaman terhadap penyelenggaraan kontes Miss America tahun 1921 di Atlantic City, yang dianggap hanya menilai kecantikan secara fisik semata. Akibatnya, sampai tahun 1928, kontes ini dihentikan dengan alasan tidak sopan. Tapi, di tahun 1935, kontes tersebut kembali di gelar, hanya saja tujuannya tidak semata untuk mencari cantik yang ideal. Hal ini terlihat dari perbedaan bentuk tubuh dan wajah yang sangat menonjol antara pemenang pertama dan kedua, misalnya.

Konsep cantik akhir-akhir ini memang terus bergeser, dari tuntutan kesempurnaan lahirilah menjadi paduan antara kesehatan raga serta kekayaan jiwa. Anita Roddick, pendiri The Body Shop, bahkan mengambil jalan berseberangan dengan industri kosmetik pada umumnya dengan menggagas kampaye Self Esteem. Melalui kampaye ini, Roddick mengajak kaum wanita untuk mengenal, menghargai, merasa bangga dan menyadari bahwa diri kita demikian berharga. Dengan kata lain, wanita ideal dalam versi Roddick adalah wanita yang bahagia, sehat, percaya diri, dan merasa sejahtera. Konsep ini sedikit banyak mirip denan pepatah jawa yang berbunyi “Rupa Sampat Wahya Biyantara”, yang artinya dalam diri seseorang tersermin kecantikan yang tidak saja terlihat dari luar tapi juga terpancar dari dalam.

Menyiasati usia
Hal wright, 93 tahun, masih mengemudikan pesawat klasiknya untuk mengantarkan Koran “Sierra Booster” kepada para pelanggan di daerah pedesaan loyalton, California. Sebagai reporter, penulis, editor, merangkap tenaga pemasaran koran daerahnya, Wright telah menjadi bukti bahwa usia lanjut tidak harus selalu berarti sesuatu yang menyulitkan. Bahkan, ketika ia diminta untuk mengurangi kegiatannya, ia malah baik bertanya, “Untuk apa?”

Dengan berbagai pencapain di bidang teknologi pangan dan kesehatan, umur manusia saat ini kian panjang saja. Bila pada pertengah abad harapan hidup rata-rata penduduk dunia hanya mencapai usia 46,5 tahun, maka saat ini bisa mencapai usia 65 tahu. Dan pada tahun 2020 nanti, bahkan dapat mencapai usia 76 tahun. Di satu sisi meningkatkannya harapan hidup ini merupakan sebuah dambaan, tetapi di sisi lain, manusia pun dihantui oleh ketakutan untuk terlihat tua. Dan ketika ketakutan ini menyerang banyak orang, peluang bisnis formula “anti aging” pun terbuka lebar-lebar.

Payung kalah populer
Dari segi penampilan, kulit keriput mungkin menjadi hal yang paling ditakuti dari proses penuaan. Padahal, akibat sinar matahari, yang sangat sulit kita hindari, dapat dipastikan kulit kita akan mengalami kerusakan dalam bentuk kerutan, kekeringan, dan bintik hitam. “Cara terbaik untuk menghindari kerusakan kulit seperti itu adalah dengan bergaya seperti para wanita di masa Victoria, yang selalu membawa payung kemana-mana,” papar James Fozard dari National Institute on Aging (NIA) di Amerika.

Meskipun metahari disebut-sebut sebagai faktor utama penyebab kulit keriput, reaksi industri busana ternyata tidak sesigap industri kosmetik. Pemakaian payung, yang sebenarnya sangat berguna berlindung dari sinar matahari, hanya menjadi mode sampai tahun 70-an saja. Tuntutan gaya hidup serba praktis nampaknya tidak memberikan kesempatan pada payung untuk terus dibawa ke sana ke mari. Keterbatasan ini yang member ipeluang kepada industri kosmetik untuk megembangkan berbagai jenis formula perlindungin terhadap sinar matahari (Protection Formula) dan berbagai anti penuaan, lainnya. Dengan berbagai kemasan, formula ini hampir menjadi kebutuhan utama, terutama bagi wanita masa kini.

Korban bisnis awet muda
Baru-baru ini Karen Graham, mantan supermodel tahun 70-80’an, yang kini sudah berusia 53 tahun, dipakai Estree Lauder untuk mempromosikan Resilience Lift, sebuah produk baru perawatan wajah anti penuaan kulit. Dengan menampilkan Graham, yang masih terlihat segar, diharapkan produk ini akan dipercaya dapat memberikan kesempatan bagi wanita berusia di atas 40 tahun untuk tetap tampil mempesona.

Ada ribuan kilat untuk menjerat konsumen agar mau mengeluarkan uang demi awet muda. Dan upaya ini nampaknya berhasil, konsumen pun seakan tidak peduli akan jumlah biaya yang harus dikeluarkan. Padahal, bila dicermati, biaya di sini tidak selalu berbentuk uang, karena biaya yang harus dipikul lingkungan jumlahnya mungkin lebih besar dibandingkan dengan uang yang dikeluarkan konsumen.

Sebagai gambaran, di Inggris saja dalam setahun (data tahun 1994), ada 3-500 ekor binatang dijadikan bahan pengujian, sedangkan di Perancis, jumlahnya bahkan melebihi 22.000 ekor. Bayangkan, berapa jumlah binatang di seluruh dunia harus dikorbankan untuk mendapatkan ramuan guna mempersolek diri menuasia? Dan ini baru jumlah hewan percobaan, belum termasuk hewan yang diburu untuk diambil bagian tubuhnya sebagai bahan dasar kosmetik, seperti yang dialami bulus katanya berkhasiat mengencangkan kulit.

Usia tua bagi sebagian besar orang adalah anugerah, tetapi bila tidak disikapi secara bijak ada banyak masalah yang diciptakannya. Mungkin kita bisa belajar dari Grace Boyd, janda bintang film koboy Hopalong Cassidy, yang pada usia 83 tahun asih menjadi pembimbing tai chi di Los Angeles. “Kualitas hidup adalah yang harus kita cari, tidak akan ada yang ingin berusia seratus tahun bila kita tidak dapat menikmatinya,” tutur Boyd yang tetap bersolek sekalipun wajahnya berkeriput.

Ketika sayatan meleset: kasus-kasus kegagalan bedah kosmetik
Seorang akitivis HAM bagi warga kulit hitam mengatakan bahwa hal yang paling tragis dari bangsanya adalah munculnya kebencian atas tubuh mereka sendiri sehingga ingin menjadi orang lain. Akibatnya, segala uapaya akan dilakukan, mulai dari meninggikan tulang hidung, memutihkan kulit, meluruskan rambut, sampai menipiskan bibir. Dengan kemajuan teknologi di bidang bedah kosmetika, memang bukan mustahil wajah dambaan dapat dibuat, tapi resiko gagal pun mempunyai peluang yang sama besarnya.

“Kelopak Mata Terbalik”

Naas akibat bedah kosmetik oleh Xiaoqinq, seorang wanita RRC yang ingin sekali memiliki kelopak mata indah. Setelah menjalani pembedahan pertama pada tahun 1993, bukannya kelopak mata cantik yang ia peroleh tapi malah salah satunya jadi terbalik. Untuk “memperbaikinya”, wanita malang itu masih harus menjalani tiga kali pembedahan. Itu pun tanpa hasil yang dia inginkan.

Bedah untuk membuat kelopak mata ganda (double eyelid), yang dapat membuat mata lebih lebar, bundar, dan cantik, memang tengah digandrungi wanita RRC akhir-akhir ini. Bedah kosmetik yang hanya memakan waktu 40 menit ini biasanya dapat dilakukan dengan biaya sekitar U$ 50 sampai dengan biaya sekitar U$ 100. Wabah bedah kosmetik ini mulai merebak sejak awal 1980-an menyusul dicanangkannya kebijakan pintu terbuka bagi dunia Barat. Sebelumnya, yaitu sekitar 1960-an di daratan Cina pun telah populer praktek bedah plastik, hanya saja kegunaannya bukan untuk mempersolek diri tapi untuk menolong korban perang Korea yang terjadi tahun 1950-1955.

“Menjadi Pembunuh”

Theresa Ramirez, mungkin bisa jadi contoh bagaimana kecantikan dapat menjadi obsesi yang berbahaya. Setelah payudara sebelah kenannya harus diangkat karena penyakit kanker, Ramirez yang seorang perawat mengunjungi Michael Tavis, seorang dokter bedah plastik unutk mengangkat payudara sebelah kirinya yang sebenarnya sehat. Alasannya? Ia ingin “mengganti” kedua payudaranya dengan silicon agar serasi.

Tapi, Ramirez tidak pernah puas dengan hasil kerja Travis, ia terus meminta dokter tersebut “membenahi” kedua payudaranya kendati harus menjalani serangkaian pembedahan. Puncaknya, ia menganggap kegagalannya memiliki payudara indah adalah akibat ulah Tavis, Tanggal 3 Juli 1997, Ramirez kembali mengunjungi klinik Tavis, kali ini tidak untuk menjalani pembedahan tetapi untuk menghabisi nyawa dokter tersebut dengan revolver caliber 38.

Leave a Reply

Close Menu