membuat huruf di Muntilan

2000_ September_Edisi 116_bahas:
membuat huruf di Muntilan
Ade Tanesia
Limaratus duapuluh delapan tahun setelah Johanes Gtemberg (1428) menyempurnakan campuran timah, antimony dan timah putih, yang menjadi bahan baku penuangan huruf untuk kebutuhan percetakan, Indoneia mulai mengenal teknologi huruf tersebut, tepatnya pada tahun 1956. Dan sejak tahun itulah, teknologi penuangan huruf menjadi bagian penting yang memungkinkan penduduk Indonesia bebas dari kondisi buta huruf.
Adalah Penuangan Huruf Pangudi Luhur, di Muntilan, sebuah kota kecil di Jawa Tengah, yang pernah Berjaya menjadi pusat penuangan huruf terbesar di Indonesia pada tahun 1970-1980-an, yaitu saat percetakan menggunakan mesin handpress. Kini, pabrik yang didirikan oleh Yayasan Pangudi Luhur ini nasibnya terseok akibat kalah bersaing dengan teknologi cetak offset dan komputer. Namun jika kita mau mengingat bagaimana bangsa ini berusaha keras untuk mencerdaskan dirinya, mengunjungi pabrik bersejarah ini tetap jadi menarik. Mesin-mesin penuangan huruf yang kini banyak nganggur, ruang-ruang yang menunjukkan mekanisme pengerjaan huruf, bisa jadi pemandangan yang mengasyikkan.
Rintisan Para Brudes
Cikal bakal pabrik penuangan huruf diambil tahun 1956, ketika Bruder Baldewinus van Meltfoort. Deirektur penerbitan Kanisius, melihat pentingnya diadakan perlengkapan percetakan. Saat itu percetakan harus mengimpor huruf-huruf lepas sehingga biaya produksi sangat tinggi. Brudder Baddewinus mengusulkan agar didirikan tempat penuangan huruf yang bisa memasok huruf-huruf bagi perusahaan percetakan.
Penuangan huruf pertama dibuka di Semarang yang akhirnya dilanjutkan di Muntilan pada tahun 1963. Oleh karena huruf-huruf tersebut laku keras, Bruder Baldewinus harus membeli mesin baru dari Monotype Cy, London. Sebagai tenaga pendidik, Bruder Ambrosio Sooms, Oktavius Steuns dan Constantio Derwx bertugas menularkan pengetauannya kepada para pekerja untuk menjalankan sekaligus merawat mesin-mesin tersebut. Di samping itu juga tersedia laboratorium untuk penelitian bahan mentah huruf sehingga mampu menghasilkan mutu huruf yang jelas dan tahan lama.
Bruder Constantio adalah yang memeriksa kandungan tiga unsur huruf, yaitu timah hitam, antimonium dan bankatin. Dengan mutu terjamin, tidak heran jika konon pabrik ini setiap bulan dapat menerima pesanan hingga 5 ton huruf. Namun, sejak tahun 1985, permintaan huruf mulai menurun, terutama di Pulau Jawa yang lebih dahulu mengenal komputer dan offset.Kemerosotan drastis mulai terasa di tahun 1990-an dan mencapai puncaknya saat krisis ekonomi melanda Indonesia.

Proses Menuang Huruf
Mekanisme penuangan huruf ini sebenarnya tidak terlalu rumit. Mula-mula ada matriks khusus berisi kode-kode untuk menghasilkan huruf-huruf yang diinginkan. Lalu sebuah kertas diketik di mesin monotype hingga menghasilkan lubang-lubang. Kertas ini nantinya akan diletakkan dalam mesin penuangan huruf yang fungsinya sebagai program perintah ragam huruf apa saja yang harus dicetak. Ketika mesin berjalan, maka caltam timah hitam pun akan mengalir memasuki matres (wadah cetakan huruf) dan kertas itu pun memberikan perintah. Setiap mesin berjalan dibutuhkan 76% timah hitam, 13% bahkatin dan 11% antimon.

Dijual Per Kg
Setelah huruf-huruf pesanan selesai dibuat, biasanya langsung diletakkan di atas gale (wadah huruf) dan siap ditimbang. Harga huruf ditentuntukan dari beratnya. Misalnya untuk jenis huruf palace-script berharga Rp. 20.600,-/kg sedang huruf Ujnen seharga Rp. 20.000,-/kg.

Penuangan huruf Pangudi Luhur di Muntilan memiliki sekitar 20 jenis huruf dengan ukuran 6 sampai 48 point. Yang cukup menarik, pabrik ini tetap mempertahankan system kemasan dengan kreneng (wadah dari anyaman irisan bamboo yang sering ditemui di pasar-pasar tradisional). “Setelah dibungkus rapih, huruf-huruf itu dijinjing dengan kreneng karena lebih kuat. Kalau plastik kan pasti robek, “ujar Pak Yanto, pegawai yang telah bekerja di pabrik ini selama 30 tahun. Memang banyak pernak-pernik menarik di pabrik tua ini, sehingga kunjungan ke tempat ini mirip sebuah perjalanan nostalgia tentang kejayaan teknik percetakan handpress.

Sekalipun terseok-seok, Yayasan Pengudi Luhur tidak sepenuhnya menutup pabrik ini demi mencapai visi sosial mereka. Menurut Pak Yanto, dari 49 pegawai, kini tinggal 7 orang yang masih bekerja berdasarkan pemesanan, seperti untuk Koran independen “Meranti” dari Samarinda, yang tetap setia memesan huruf-huruf Muntilan. Selain itu, untuk melanjutkan hidup, pabrik ini pun kadang menerima pesanan huruf sablon untuk TK bahkan juga pesanan dari Jerman untuk membuat huruf kayu sebesar 30 cm. “Melalui diversifikasi ini maka lapangan kerja tetap tercipta. Itu sebenarnya visi utama kami,” jalas Pak Yanto.

Sebenarnya ada ide cemerlang untuk menjadikan pabrik ini sebagai museum penuangan huruf, sehingga Muntilan tidak hanya dikenal sebagai kota tape dan kerajinan batu. Sebagai museum, tentu saja bisa dipelihatkan berbagai mesin, jenis huruf, peragaan proses penuangan huruf. Dan yang tak kalah menarik, huruf-huruf timah itu pun bisa dijual sebagai souvenir. Penuangan Huruf Pangudi di Muntilan adalah bagian dari sejarah pencerdasan bangsa kita, tentunya ada banyak cara untuk menyelamatkannya dari kematian.

Leave a Reply

Close Menu