Membuat Gula

1998_Juli_Edisi 092_bahas:
Membuat Gula

Unsur gula dalam pola makan masyarakat Indonesia cukup besar, sehingga gula menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari setiap rumah tangga. Oleh karena itu sungguh menarik untuk mencermati proses pembuatan gula yang telah melibatkan ribuan petani dan pekerja pabrik. Di Pabrik gula Madukismo memiliki 1855 karyawan tetap dan musiman, ditambah karyawan borong tebang tebu sebesar 2500-3000 orang. Proses produksi gula dimulai dari para petani yang membuka lahan tebu dan membeli bibit melalui kredit BRI. Setelah ditanam, maka tebu dipanen setiap tahun sekali ketika sudah cukup masak. Biasanya jatuh pada bulan Mei setiap tahunnya. Tebu yang sudah masak itu kemudian ditebang oleh petani sendiri atau pabrik dengan kesepakatan bersama Forum musyawarah Produksi Gula yang terdiri dari KUD, wakil petani dan pabrik gula.

  1. Setelah ditebang maka tebu diangkut dengan truk lori ke lokasi penimbangan. Usai ditimbang, tebu tersebut dipindahkan dari truk ke lori dengan mesin pengangkat, kemudian lori akan membawa tebu masuk ke stasiun gilingan pabrik gula.
  2. Tebu yang telah masuk ke pabrik lalu dipisahkan antara bagian padat [ampas] dengan cairannya yang mengandung gula [nira mentah]. Pemisahan ini menggunakan alat berupa unigrator mark IV dan Cane Knife serta 5 buah gilingan yang masing-masing terdiri atas 3 rol berukuran 36 x 64.30% tebu berupa ampas yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar stasiun ketel [pusat tenaga uap penggerak pabrik]. Sementara niranya dikirim ke bagian pemurnian untuk diproses lebih lanjut.
  3. Tahap selanjutnya adalah pemurnian nira dengan system sulfitasi. Nira mentah ditimbang, dipanaskan, direaksikan dengan susu kapur dalam defector lalu diberi gas SO2 dalam peti sulfitasi untuk dipanaskan lagi. Lalu disaring menggunakan Rotary Vacuum Filter, dan endapan padatnya [blotong] bisa digunakan sebagai pupuk organik.
  4. Penguapan nira : nira jernih dipekatkan didalam pesawat penguapan dengan sistem multiple effect. Nira encer dengan padatan terlarut 16% akan dinaikkan menjadi 62% dan disebut nira kental. Nira kental inilah yang siap dikristalkan di stasiun kristalisasi/masakan.
  5. Kristalisasi : nira kental dari stasiun penguapan ini diuapkan lagi dalam pan kristalisasi sehingga muncullah Kristal gula.
  6. Puteran gula [Centrifugal] : alat ini bertugas untuk memisahkan gula dengan larutannya melalui gaya centrifugal. Agar guanya lebih putih maka masakan ini diputar 2 kali, sedang sisa larutan terakhir yang sudah tidak bisa dikristalkan disebut tetes. Tetes nantinya dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan alkohol atau spiritus.
  7. Dengan alat penyaring gula, gula SHS dipisah-pisahkan antara gula halus, gula kasar dan normal.
  8. Gula normal ini akan dikirim ke gudang dan dikemas dalam karung plastik kapasitas 50 kg netto. Produksi gula perhari sekitar 4.800 zak.

 

Leave a Reply

Close Menu