Membakar mempelai wanita!

1999_September_Edisi 104_selip:
Membakar mempelai wanita!

“Bagi saya, lebih baik seorang gadis hidup atau melajang, daripada harus dihina oleh pengantin laki-laki yang menuntut mas kawin,” Mahatma Gandhi.

Waktu itu tanggal 16 Februari 1980, New Delhi, Sudha Goel sangat berbahagia karena akhirnya ia dipersunting oleh Laxman Kumar. Tak terbayang bahwa pernikahannya akan menjadi neraka baginya. Hanya satu bulan pertama, ia telah dianiaya oleh suaminya karena keluarga terlalu sedikit memberikan imbalan mas kawin. Dan pada tanggal 2 Desember 1980. Sudha meninggal dengan luka bakar saat dirinya mengandung 8 bulan. Saat ia menjerit sekarat, tetangganya mendobrak rumahanya dan menemukannya sedang dijilat api. Sebelum meninggal, Sudha sempat menyatakan bahwa ibu mertuanya, Shakuntala Dewi telah mengguyurkan bensin dan membakarnya.

Sudha Goel hanyalah salah satu kasus dari kekejaman mas kawin di India. Pihak kepolisian India melaporkan bahwa kematian akibat mas kawin meningkat 170%, dnegan 6200 kasus di akhir tahun 1996. Kebanyakan bentuk kematiannya disebabkan pembakaran pengantin perempuan dan cara penyiksaan lainnya.

Menurut Partha Banerjee, tradisi mas kawin telah dimaknai salah kaprah oleh golongan kaum agama yang kolot. Mas kawin di India berakar dari adat kuno hindu “kanyadhan”. Dalam kanyadhan, ayah mempelai wanita harus menawarkan uang atau barang pada ayah mempelai pria yang diberikan secara sukarela dan rasa sayang sebagai ikatan antara dua keluarga. Namun sekarang adat tersebut telah diselewengkan menjadi sebuah paksaan yang sadis. Hal ini tidak hanya terjadi pada pernikahan dua kasta yang berbeda, tapi juga di kasta yang sama, karena sebenarnya pandangan bahwa perempuan lebih rendah daripada pria masih melekat pada sebagian masyarakat. Pemahaman mas kawin yang salah kaprah banyak terjadi pada kalangan kasta tinggi di perkotaan, terutama di New Delhi (ibukota India), Uttar Pradesh pusat dan barat, Haryana, Rajashtan, dan Punjabi. Di India Timur kasus ini jarang terjadi, karena di sana tidak dikenal adanya kasta dan jenis mas kawin yang harus dibayar oleh pihak perempuan.

Merebaknya persoalan mas kawin ini membuat pemerintah perlu mengeluarkan UU pelarangan mas kawin di tahun 1986. Dalam Indian Penal Code (IPC) disebutkan bahwa kematian mas kawin adalah kematian seorang wanita yang disebabkan luka bakar atau luka tubuh yang terjadi pada keadaan normal dalam masa tujuh tahun perkawinannya dan terlihat bahwa sebelum kematiannya dia sudah menjadi sasaran kekejaman dan pelecehan suami atau saudara suaminya berkaitan dengan masalah mas kawin. Namun demikian meskipun ada dasar hukum untuk melakukan penuntutan, pihak keluarga perempuan kadang enggan melaporkan kasus semacam ini.

Jethmalani memperkirakan setiap tahunnya ada 15.000 kasus kematian mas kawin di India. Kalau tanpa jalur pengadilan, kasus semacam ini kadang diselesaikan secara kekeluargaan, yang justru menjadi sangat ironis, yaitu tertuduh diminta menikahi saudara perempuan korban pembunuhan. Hal ini disebabkan kematian seorang wanita akan meninggalkan cap kesialan pada keluarga, sehingga membuat saudara perempuan korban tidak diminati oleh laki-laki lain. Solusi semacam ini tentunya sangat tragis dan pihak perempuan seakan berada dalam lingkaran setan.

Beberapa organisasi wanita di India telah memperjuangkan nasib perempuan, misalnya ada yang membuat rumah khusus untuk merawat korban penyikasaan; juga mempublikasikan tindak kekerasan terhadap perempuan India ke dunia internasional. Lembaga UNICEF juga memberi perhatian dengan permasalahan ini, dengan membuat film animasi berjudul “Meena, Say No for Downy” yang isinya mendidik anak perempuan dari kecil untuk menolak tuntutan mas kawin.

Untuk merubah tradisi tentunya memakan waktu lama, apalagi jika hal itu mendatangkan keuntungan bagi segelintir manusia. Namun perubahan bisa dipercepat dengan adanya keberanian dari perempuan India untuk menentang berbagai bentuk penindasan terhadapnya. Dan mungkin kata-kata Gandhi bisa menjadi spirit.

Sumber: Banerjee, Partha. “A Matter of Extreme Cruelty : Bridde Buming and Downy Deaths in India,” Injustice Studies, Vol. t No. 1 November 1997 Wadhwani B. Zenia, Bride Buming.

Leave a Reply

Close Menu