Memahami (Kembali) AIR

2002_Maret_Edisi 132_Bahas
Memahami (Kembali) AIR
Ukke R. Kosasih

The water to the dirty one, “Come here.”
The dirty one said, “ I am too ashamed.”
The water replied, “How will your shame be washed away without me?”
(Jalal al-Din Rumi, Masnavi II:1366-7)

Air, sumber kehidupan itu, tidak lagi berwujud indah di benak kita. Jatuhnya melalui deras hujan melahirkan kecemasan. Alirannya melalui gemuruh sungai meletupkan ketakutan. Air, dalam bentuk banjir besar, telah menghilangkan banyak hal berharga. Termasuk, menghapus pula sosok jernih, gemericik, dan sejuknya.

Sudah terlalu lama kita melupakan hakekat air. Melupakan kekuatannya yang mampu mengantar sebuah bangsa ke puncak peradaban, sekaligus menghempaskannya ke dasar kehancuran. Tapi begitulah tabiat manusia. Kendati berjuta catatan sejarah telah menjadi bukti, selalu saja kita lupa untuk membina persahabatan dengan air.

Disebutkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Dan Indonesia ternyata bukanlah bangsa yang besar itu. Seorang Raden Wijaya, 700 tahun silam, telah menyontohkan bagaimana air mengantar Majapahit pada kejayaan. Ia mewariskan pula pemikiran cemerlang tentang bagaimana banjir dapat dihindari dan pengelolaan air dapat dijadikan modal kemakmuran rakyat. Artinya, jika saja kita mau belajar dari sejarah, banjir dan kekeringan tak sepantasnya masih mempermalukan dan menyengsarakan kita di abad ke-21 ini!

Sudah begitu jauh kita menciptakan jarak dengan air. Bahkan sudah pula “membelakangi”nya. Bayangkan, di Jakarta ini, tak sejengkal pun disisakan celah bagi kita untuk bisa berhadapan dengan air secara adab (tanpa harus membayar). Waterfront city yang disiarkan, tidak lebih dari kawasan yang semakin menjauhkan warga kota dari air. Tiga belas sungai yang melintasi kota, tak lebh dari pembuangan ratusan ton sampah setiap harinya. Anehnya, ketika air menjadi murka, lantas saja kita menuduhnya sebagai penghianat kehidupan.

Tapi air tetap saja berhasil membujuk kita untuk mau melihat kembali sifat indahnya. Ia beraksi di ruang-ruang terbuka kota dalam wujud air mancur, yang memberi kesejukan sekaligus sensasi. Ada sejarah panjang memperlihatkan pada kita bagaimana air mancur menjadi bagian penting dari kota. Kehadirannya terus dipertahankan di berbagai jaman dan tempat. Beberapa diantaranya bahkan menjadi tanda peradaban sebuah kota. Air mancur Trevi di Roma adalah salah satunya.

Kerjasama manusia dan air dalam menciptakan air mancur telah mampu memberi jiwa bagi ruang. Banyak harapan ditumpukan pada keberadaan karya ini. Pemerintah Kota Jakarta, misalnya, merasa perlumenggalang dana belasan milyar rupiah untuk merenovasi air mancur Bundaran Hotel Indonesia. Rancangannya sudah matang, polemik sudah pula merebak. Air mancur tengah jadi perhatian kembali. Masalhanya, bila air mancur tersebut diharapan dapat menjadi tanah peradaban Jakarta, nampaknya akan menjadi sesuatu yang mustahil. Tak akan pernah Jakarta ditoreh dalam sejarah peradaban kota-kota dunia, bila tak pernah layak memperlakukan air yang memberiya hidup.

Air, sumber kehidupan itu. Jumlahnya begitu melimpah, hingga kita sering lupa untuk menghargainya.

“Air bukanlah sumber daya alam yang kebal terhadap hukum ekonomi. Seperti juga pada segala sesuatu yang berharga murah, orang tidak memberi penghargaan yang layak dan dengan ,udah menghamburkannya,” tutur John Brsico, seorang penasehat senior masalah air untuk World Bank, kepada National Gerographic saat menyambut Hari Bumi tahun lalu.

Keyataan ini sungguh mengkhawatirkan, karena saat penduduk dunia mencapai sekitar delapan milyar di tahun 2025 diperkirakan ada 48 negara, yang dihuni oleh tiga milyar jiwa, akan mengalami kekurangan air. Kerja keras pun dilakukan untuk keberhasilan. Menyediakan air layak minum melalui teknologi SODIS (Solar Water Disinfection) adalah contoh sukses yang sudah pula diterapkan di Indonesia.

Air, ternyata memiliki begitu banyak sisi yang harus kita pahami kembali. Sosokya tidaklah selalu segarang banjir bandang.

Leave a Reply

Close Menu