megalitikum

1999_Desember_Edisi 106_seni:
megalitikum
Hidayat Suryalaga
Beber Foto Ray Bachtiar
Museum Gadjah, 14-13 November 1999
GIGALITIKUM Memaknai Gigalitikum tak harus selalu ditinjau dari kajian geologi atau arkeologi, tapi bisa juga dengan pendekatan folklore yang sarat akan endapan budaya suatu masyarakat. Gigalitikum sendiri berasal dari kata Giga (Gigantic) berarti sesuatu yang mahabesar, sementara Lithic adalah apapun yang berkaitan dengan batu. Dalam kajian folklore Sunda, segala sesuatu yang berhubungan dengan batu akan selalu memiliki kaitan dengan bumi/geo, misalnya tubuh (batu satangtung), kepala (lawangna baru satangtung).

Bila pemaknaan ini yang dijadikan acuan, maka Gigalitikum dimaknai “jaman akal dan ilmu pengetahuan manusia yang luar biasa hebatnya”. Jika makna ini ditambah dengan kajian folklor, maka muatan Gigalitikum akan semakin luas, yaitu jaman kebesaran akal manusia yang sifatnya semakin membatu”. Sifat membatu ini tentu saja berkonotasi negatif, namun perlu dicermati aspek-aspek apa saja dari diri manusia yang semakin membatu, bisa esensi kemanusiaan, hati nurani, atau regliglusitasnya. Namun berpijak dari kondisi hari ini, dimana Iptek menjadi jargon penting dalam kehidupan maka perlahan tapi pasti tengah terjadi metamorfodid kemanusiaan yang semakin “membatu”.

Implikasi dari pemberhalaan Iptek adalah semakin pudarnya nilai-niai orientasi kehidupan manusia, dimana dirinya hanya diperlakukan sebagai piranti ilmu pengetahuan dan eksploitasi kenikmatan ragawi saja. Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia telah kehilangan “proses pemanusiaan dirinya” yang mengemban visi tertentu

terlelap dalam budaya sekuler nan gemerlap. di bumi ini.

Visi kehidupan manusia dimuka bumi seharusnya berujung pada summum bonum, yaitu kebaikan abadi tertinggi yang diridhoi Tuhan. Namun sedemikian hebatnya Ilmu pengetahuan dan teknologi yang seyogyanya menjadi Rakhmatan Lil Alamin (Sunda: Ngertakeun Bumi Lambe) telah lepas kendali, jadilah “dia” perusak jagat raya, perusak bumi dan perusak dirinya sendiri. “Dia” berubah menjadi Betara Kala yang menghancurkan kehidupan lahir batin manusia.

Kini pada pertemuan budaya kali ini, diangkat salah satu kandungan folklore Nusantara tentang “Padi sebagai Dewi Sri”, yang mencoba menggaungkan kearifan jaman lampau ditengah hingar bingarnya budaya millennium. Alangkah bijaknya bila kegiatan berkebudayaan kali ini kita tatap dan serap barang sekejap sebelum semuanya.

Leave a Reply

Close Menu