Mati Cepat atau Perlahan

2000_Januari_Edisi 108_revital:
Mati Cepat atau Perlahan
Joni Faizal/Uke R. Kosasih/Ade Tanesia

Tanaman yang diubah secara genetika atau genetically modified crops, sering disingkat GM, telah menjadi tertentangan di banyak negara. Salah satu yang paling santer dibicarakan adalah benih mandul yang dipatenkan oleh Delta and Pine Land Company (D&PL) dan Departemen Pertanian Amrika Serikat (US Patent 5723765).

US Patent 5723765, yang disebut Technology Protection System oleh pakar bioteknologi, tapi disebut Terminator Technology oleh kalangan pembela lingkungan, merupakan benih yang pada panen berikutnya tidak dapat berkecambah alias mandul.

Bagi pakar dan produsen benih, teknologi semacam ini dapat memberikan keuntungan kepada petani, karena mampu menyediakan pangan saat populasi manusia semakin meningkat. Mereka percaya kelaparan dan kemiskinan dapat ditangani dengan tanaman berteknologi tinggi.

Namun, para pecinta lingkungan berpendapat lain. Tanaman transgenik dinilai mempunyai potensi besar pada kerusakan lingkungan dan masalah sosial lainnya. Salah satunya adalah ketergantungan petani pada produsen benih, yang biasanya adalah negara-negara maju.

“Tanaman semacam ini bukanlah solusi bagi orang yang kelaparan, karena tidak menangani akar masalahnya yang terkait dengan kemiskinan, ekonomi, perang dan politik. Menggunakan bibit teknologi tinggi yang mahal untuk mereka adalah tidak relevan,” demikian pendapat Peter Riley dari direktur Kampanye Pangan dan Bioteknologi bagi Sahabat Bumi di Inggris.

Keraguan masyarakat mengenai makanan yang dibuat dari tanaman yang diubah secara genetika, telah membuat konsumen di banyak negara maju menolak makanan baru itu. Sedangkan bagi negara berkembang, pilihan itu menjadi buah simalakama. Menolak, berarti ancaman kelaparan membayangi, karena tidak mungkin terus menerus mengandalkan pertanian tradisional di tengah-tengah lahan yang terbatas dan penduduk yang semakin padat. Sedangkan menerima, akan berdampak terhadap banyak aspek, terutama ancaman bagi keanekaragaman hayati.

Sebagai contoh, usaha untuk mendapatkan tanaman yang resisten terhadap hama dapat berakibat munculnya hama yang lebih kuat dalam waktu yang cepat. Hal ini akan memacu digunakannya pestisida sintetik yang lebih beracun terhadap hama baru tersebut, dan mungkin saja beracun juga terhadap manusia.

“Tanaman yang diubah secara genetik atau tidak, keduanya bermanfaat sekaligus berdampak,” kata Dr. Setiajati D Sastrapradja, pakar Bioteknologi dari Yayasan SEHATI dalam suatu kesempatan. “Kita kelaparan karena kurang pangan, atau kita mati perlahan karena kerusakan lingkungan,” tambahnya.

Benih Dengan Patent No. 5723765
Pada dasarnya teknologi untuk memandulkan benih adalah upaya membunuh embrio pada benih sehingga hanya menyisakan komponen benih yang berguna, seperti kandungan minyak dan protein. Ada tiga gen baru yang dikanudng oleh tanaman berbenih mandul, dua berasal dari bakteri satu lainnya dari tanaman lain.

Kekhawatiran terhadap benih mandul ini muncul karena adanya beberapa dampak yang kemungkinan mengikutinya, yaitu;
1. Erosi atau tercemarnya sumber-sumber genetik.
2. Meningkatkan kerentanan system pertanian akibat keseragaman tanaman budidaya.
3. Munculnya ketergantungan petani pada produsen benih.

Hingga saat ini, PATENT NO. 5723765 masih terus diteliti dan diuji sebelum dinyatakan layak diproduksi secara masal.

Leave a Reply

Close Menu