Maskana dan Cacing Tanah

1996_mula Desember _Edisi 058_kenal:
Maskana dan Cacing Tanah

Drs. Maskana mungkin adalah salah satu dari sedikit orang yang menekuni dunia cacing tanah. Bergelut dengan cacing tanah sejak tahun 1985. Maskana tetap konsisten dengan dunianya, budidaya dan pemanfaatan cacing tnah.

Di awali rasa ketertarikan terhadap benda kecil yang seringkali dianggap menjijikan. Maskana mulai melakukan penelitian terhadap kemungkinan budaya dan pemanfaatan cacing tanah, Ia percaya bahwa sekecil apapun, atau menjijikkan seperi apapun, Tuhan pasti punya maksud ketika menciptakan mahluk. Ia percaya bahwa manusia dapat memanfaatkan cacing tanah, masalahnya dimanfaatkan untuk apa? Dengan cara apa? Akhirnya, tahun 1985 ia menulis skripsi dengan masalah pengaruh pemberian makanan ternak terhadap pertumbuhan berat cacing tanah dalam media sampah pasar. Dipilihnya caing tanah sebagai objek penelitian, selain karena keyakinannya itu tadi, juga karena penelitian mengenal caing tanah masih jarang dilakukan. Dari penelitian ini (1985-1987) ditemukan bahwa cacing tanah dapat dipakai dalam usaha penanggulanga sampah, terutama dalam mengurangi volume tampilan sampah. Bahkan, dari proses penanggulangan sampah dengan bantuan cacing tanah, dihasilkan kompos/humus yang berguna sebagi penyubur tanaman.

Pergaulannya dengan cacing tanah diteruskan ketika ia bekerja di Lembaga ekologi Unpad, tahun 1987-1990. Pada periode ini ia meneliti populasi dan karakteristik sifat hidup cacing tanah di Taman Nasional Gunung Halimun. Pada penelitian ini ditemukan bahwa tidak semua cacing bisa dipakai dalam perombakan sampah, karena ada prinsipsnya ada dua karakter cacing tanah, yaitu sebagai pembentuk humus dan pemakan humus.

Kini Maskana bekerja di Kebon Binatang Ragunan (KBR), Sebagai staf Bidang Pelestarian Flora dan Fauna. Di sini ia juga bertanggungjawab atas pengelolaan sampah KBR. Dalam pengelolaan sampah inilah pengetahuannya tentang cacing banyak diterapkan.

Ada 2 cara yang diterapkan Maskana dalam menanggulangi sampah KBR. Pertama: Pengomposan alami, kedua: pengomposan dengan bantuan cacing (vermikomposting).

Pengolahan sampah dengan cara pengomposan alami dapat menurunkan volume sampah hingga 81%, yang pada akhir prosesnya menghasilkan kompos. Sedangkan vermikomposting selain menghasilkan kascing (bekas caing) yang dapat digunakan sebagai kompos, juga menghasilkan ptotein hewani cacing tanah. Ternyata cacing tanah ini selain mempunyai nilai protein yang tinggi 60-72%), juga memiliki kandungan asam amino esensial yang lengkap.

Sampai saat ini, di Indonesia cacing tanah baru dimanfaatkan sebagai perombak sampah, makanan hewan, atau obat bagi beberapa penyakit tertentu. Namun pria kelahiran Majalengka ini punya keyakinan bahwa cacing tanah dapat dimanfatkan. Terbukti saat ini di Australia dan Jepang sudah dikenal Vermi Sashimi (shasimi cacing) dan Vermi Juice (jus cacing). Vermi Juice yang diminum secara teratur dapat meringankan kelelahan.

Pria yang menikah tahun 1992 ini punya cerita unik bersama istri tercintanya, Yuni. Di awal pernikahan mereka ternyata sempat memelihara telur caing dalam kamar! Alasannya karena telur tersebut akan mati atau dimakan hewan lain bila ditaruh di luar. Sampai sekarang mereka telah menetaskan ribuan caing. Tidak sedikit tamu yang datang ataupun surat dari pelosok nusantara yang meminta informasi mengenai budidaya cacing tanah. Bahkan ia banyak membimbing penelitian Mahasiswa S1 maupun S2 pada beberapa perguruan tinggi.

Maskana saat ini sedang menyelesaikan S2 di Program Pasca Sarjana UI. Masih meneliti tentang caing dan masih menyimpan obsesinya, bahwa suatu saat akan lebih banyak orang merasakan manfaat cacing tanah.

Leave a Reply

Close Menu