Mas Kawin

1999_Oktober_Edisi 105_selip:
Mas Kawin

“Kalau menikah, yang kawin itu bukan hanya kamu dan pasanganmu, tapi juga keluarga. Ikuti saja kemauan mereka.” Ungkapan semacam ini kerap muncul dalam obrolan sehari-hari, sekaligus menunjukkan bahwa nilai lembaga pernikahan masih dianggap tahap peralihan kehidupan manusia yang sangat penting, karena pernikahan tidak sekedar melegitimasi hubungan pria dan wanita, tapi juga proses pengikatan antara dua keluarga.

Ikatan selalu saja membutuhkan sebuah simbol yang mensahkannya, dan dalam catatan pelbagai kebudayaan di dunia ikatan pernikahan melalui bentuk pemberian benda-benda berharga antara kedua keluarga yang dikenal dengan istilah mas kawin. Kewajiban memberikan mas kawin ini berbeda di setiap masyarkat, tergantung pada sistem garis keturunan wanita yang dianutnya. Namun untuk mengimbangi sebuah pemberian mas kawin, pihak penerima juga memberikan hadiah-hadiah tertentu, karena dalam hubungan itulah kehormatan pemberi dan penerima sedang dipertaruhkan.

Bicara soal penghormatan berarti bicara tentang nilai benda-benda apa saja yang mewakili makna hormat tersebut. Menurut Mauss, nilai benda dalam pemberian tak hanya berdasarkan nilai fungsional, tapi juga makna yang termuat didalamnya dan nilai pemberian mas kawin biasanya mengacu pada ukuran tertinggi. Soal ukuran, sangat menarik untuk bertanya dahulu “siapa yang diukur?” Pada kebanyakan masyarakat di dunia, perempuan adalah objek yang diukur. Sebagai ilustrasi, dalam masyarkat arkaik (kuno) ada perbedaan mas kawin untuk perempuan berstatus perawan, janda muda dan janda tua. Di sini tubuh perempuan menjadi tolak ukur aturan mas kawin, yang ketika nilainya bisa dipenuhi pihak pria, maka ia seakan “terbeli” dalam kesatuan rumah tangga, bahkan menjadi korban kekerasan suami, seperti yang terjadi pada perempuan di India. Begitu banyak peristiwa pembunuhan dalam bentuk pembakaran menantu perempuan akibat keluarga asalnya tak cukup memberikan imbalan mas kawin pada pihak keluarga pria. Di lain pihak, jika mas kawin yang diajukan pihak perempuan terlalu mahal, maka pihak pria yang tak sanggup memenuhinya akan mengalami kesulitan, misalnya ada tradisi yang mengharuskan pria menganggsur mas kawin dengan bekerja di ladang pihak keluarga wanita, Di Irian pada masyarakat Bgu, seorang pria yang belum mampu melunasi mas kawinnya harus merelakan anak pertamanya diadopsi oleh pihak keluarga isterinya.

Masih tentang ukuran, ada pertanyaan menarik pula bagaimana sebuah benda dianggap lebih tinggi dibanding yang lainnya. Di berbagai daerah di Indonesia, seringkali ditemui benda-benda mas kawin yang berasal dari bangsa asing. Ternyata sejak jaman silam, sudah terjadi komunikasi antar budaya akibat lalulintas perdagangan internasional di berbagai pelabuhan di negeri ini. Bahwa benda dari manca negara itu menjadi berharga di masyarakat kita, apakah hal ini bisa menunjukkan betapa bangsa kita selalu memberikan penghargaan tinggi atas sesuatu yang datang dari luar dirinya? Dan bukankah itu tetap terjadi hingga kini?

Sungguh banyak hal menarik seputar mas kawin. Dari nilai ukurnya saja, ketidak seimbangan posisi pria dan wanita bisa terlacak mentalitas sebuah masyarakat bisa terlihat. Yang paling ekstrim, kita bisa bertanya apakah ada mas kawin dalam sebuah ikatan hubungan homoseksual? Lewat mas kawin, setidaknya kita bisa mengenali cara sebuah masyarkat menyucikan, menghormati sampai melecehkan institusi pernikahan.

Tubuh perempuan dan mas kawin
Lebih dari sekedar seperangkat organ, tubuh manusia juga merupakan tubuh budaya yang memaknai secara berbeda di setiap masyarakat. Dalam buku Purity and Danger, secara jelas Mary Douglas mengungkapkan bahwa tubuh merupakan simbol yang digunakan di segala aspek kehidupan manusia. Artinya, seseorang sangat mungkin menilai tubuhnya sendiri berdasarkan pandangan masyarakatnya. Sebagai contoh, Michael Jackson yang begitu kesohornya, masih perlu operasi memancungkan hidung, memutihkan kuitnya, menipiskan mulut, artinya ia sedang menyangkal ciri-ciri fisiknya sebagai orang negro. Bukankah ia sudah terjebak dengan pandangan dominan bahwa tubuh orang negro adalah tubuh hitam yang jelek.

Hal serupa sering terjadi pada tubuh perempuan yang di berbagai kebudayaan dimaknai oleh dominasi pandangan pria, sehingga kerap muncul ketidak puasan perempuan terhadap kenyataan tubuhnya sendiri. Bagaimana sebuah masyarakat yang menggunakan garis keturunan pria, dimana dalam pernikahan pihak pria membayar harga keluarga perempuan yang telah menyerahkan putrinya. Disinilah, kadang tubuh perempuan “dibedah” untuk menentukan jumlah mas kawin.

Perlakuan semacam ini bisa dijumpai di beberapa masyarakat. Pada masyarakat Mey Barat di Irian, jumlah boyo atau mas kawin yang harus diberikan oleh pihak pria, salah satunya ditentukan oleh harga bagian tubuh perempuan. Payudara dinilai dengan satu potong kain bokek dan satu blok kain haan (hitam) atau kalau diuangkan sebesar Rp. 300.000,-. Sementara tulang belakangnya senilai satu potong kain roba dan satu kain suban (merah) yang jumlahnya Rp. 200.000,-. Sepotong kain sariem dan satu kain bokek yang seharga Rp. 250.000,- merupakan nilai untuk bagian kepala. Hal yang serupa juga terjadi pada masyarakat Biak dimana mas kawin yang disebut ararem merupakan alat bayar untuk tubuh perempuan. Dan terdapat tiga bagian tubuh perempuan yang dipandang paling penting, yaitu kepala (bukor), bada (baken) dan perut (snewar). Misalnya untuk bagian kepala (bukor) mas kawinnya adalah piring kuno Cina (ben bepon), piring hias besar Cina dan eropa (ben kaku), sarak atau gelang yang terbuat dari leburan uang perak Belanda dan pipi (uang). Untuk bagian badan (baken), alat tukarnya adalah ben beban atau piring makan berikut teko. Persoalan perawan atau tidak perawan juga menjadi ukuran mas kawin. Di Mey Barat, mas kawin bagi gadis muda yang perawan lebih mahal daripada janda, juga dapat dijumpai pada masyarakat Melayu yang menghargai perawan sebesar Rp. 800.000 dan janda senilai Rp. 500.000,-an. Kembali pada masyarkat Biak, mereka juga memiliki aturan harga mas kawin yang berdasarkan kriteria gadis perawan, janda muda, janda dengan 3 anak dan janda setengah tua.

Adanya bentuk-bentuk mas kawin yang diukur dengan tubuh wanita berpengaruh pada perlakuan suami pada isterinya di masa mendatang. Pelunasan mas kawin bisa diartikan sebagai penguasaan terhadap tubuh perempuan. Cara pikir ini masih kita jumpai, misalnya dalam bentuk pemukulan terhadap isteri oleh suami. Hal ini memperlihatkan bagaimana dalih pemilikan terhadap isteri sudah sah sesuai aturan mas kawin. Dan banyak perempuan yang juga rela dipukul, berdasarkan cara pandang pria, bahwa dirinya memang berkewajiban menerima semua itu. Pada batas semacam ini, tentunya simbol tubuh perempuan yang dianggap suci dan selayaknya dihargai begitu mahal telah menjadi salah arah-yaitu menjadi korban penindasan.

Leave a Reply

Close Menu