mari menggambar di saung

Sore itu tidak hujan.

Beberapa anak yang biasa bergelantungan di pohon jambu depan rumah, kali ini mereka mampir ke saung di belakang.

“Pak, boleh numpang baca-baca gak?” kata Fais dengan logat khas Sawangan, sambil menunjuk lemari di saung. Lemari tua dengan kaca pada tiga sisinya itu memang menampilkan deretan buku anak. Sudah lebih dari satu bulan yang lalu, lemari itu mulai dipenuhi buku-buku anak dan remaja; Baru dua minggu yang lalu, deretan buku itu terlihat terusik, tanda ada yang menggunakan. Senang sekali melihatnya.

Fais, anak pak Dayat, tetangga samping kiri, berumur kurang lebih sepuluh tahun. Ia memimpin teman-temannya memilih-milih buku. Tak lama, perhatiannya beralih ke tumpukan lembaran kertas kosong dengan kotak pinsil warna bergambar mobil balap, di rak paling bawah. Ia bertanya lagi. “Pak, ini untuk apa? Boleh digambarin, gak?”

Tentu!

pamer hasil karya..
pamer hasil karya..

This Post Has 4 Comments

  1. waduh, mengharukan. sangat.

  2. lah.. kok mengharukan?
    tulisan yang buruk, ya? hayo diajari..

  3. walaaah mantab… ikuuut. mantab kali!

  4. hihi.. seadanya nih, Dit..
    senang aja, melihatnya..

Leave a Reply

Close Menu