Manik-manik

1999_Desember_Edisi 107_seni:
Manik-manik
Sumarah Adhyatman/ Redjeki A.

Kalau ada benda seni yang mampu bertahan hidup selama ribuan tahun dan memiliki ragam fungsi, maka benda itu bernama manik-manik. Untaian manik-manik, dapat digunakan sebagai perhiasan, mas kawin, alat tukar, persembahan bagi para raja, atau alat hitung swipoa yang muncul pada masa dinasti Ming di china. Manik-manik juga menjadi pendamping setia benda lain, misalnya sebagai aksesoris tas, pakaian, topi, dll. Simak saja berbagai liputan trend mode Indoneisa, benda indah ini selalu digunakan oleh desainer terkemuka seperti Biyan, Ramli, Ghea Panggabean, dll. Tak hanya busana modern, manik-manik pun hadir dalam busana tradisional, misalnya di Aceh dikenal koplah “Makeup” atau Tungkop yang dibawa oleh saudagar Arab dan Turki 300 tahun silam. Bagian puncak kopiah ini pun ditaburi oleh manik-manik putih yang dikerjakan dengan keterampilan tangan yang tinggi.

Kehadirannya di setiap belahan dunia juga mengungkapkan hubungan antar bangsa di masa silam. Peredaran manik-manik melanglang dunia telah terjadi sejak 6500 SM, yaitu saat benda ini diolah masyarakat Mesir kuno dan Mesopotamia untuk menjadi barang dagangan utama para pedagang di laut tengah dan jazirah Arab, Parsi dan Pakistan. Saat itu yang diperdagangkan adalah manik dari batu lapis lazuli, batu amber, merjan yang berfungsi sebagai jimat. Manik kaca ditemukan di Mesopotamia kira-kira 2500 SM, yang kemudian disebarkan oleh orang Funisia dari Lebanon. Orang Romawi pada tahun 100 SM-476 SM juga mewarisi tradisi manic kaca dan mengirimkannya ke daerah Timur Jauh.

India juga menjadi prodoseun manik kaca tertua, khususnya di daerah Kausambi dan Achichatra yang mambuat manik kaca gulung, meniru manik dari batu. Disamping itu juga terdapat dua pusat eksportir manik yaitu Cambay, Gujarat dan Arikamdu. Sekitar tahun 850 SM, orang India telah menemukan cara pemolesan batu yang lebih bagus, sehingga berkilau-kilau. Caranya, sejumlah manik dimasukkan ke dalam kantong dari kulit kambing yang berisi air dengan serbuk akik. Dua orang menggulingkan kantong itu di lantai secara bolak-balik selama 2minggu.

Di Indonesia, salah satu pembuatan manik-manik kaca tua adalah Palembang. Setelah adanya penemuan ribuan manik kaca dan batu, maka diperkirakan tempat tersebut menjadi pembuatan manik terbesar sejak abad ke7 sampai bad ke-13. Hal ini sangat wajar, jika mengingat eratnya hubungan kerajaan Sriwijaya dengan India, sehingga terjadi transformasi teknologi membuat manik kaca dan batu di jaman itu.

Peredaran benda ini memang luar biasa, bentuk manik-manik yang bundar seakan menggelinding melintasi ruang dan waktu. Dan hingga saat ini, kita masih mudah menjumpainya di berbagai mall dan melihat leher anak remaja dililit kalung manik-manik terbuat dari plastik.

Leave a Reply

Close Menu