Mandi Dalam Ritual Jawa

1997_mula Februari_Edisi 062_inap:
Mandi Dalam Ritual Jawa

Unsur yang paling banyak dalam tubuh manusia adalah air. Tidak heran jika air merupakan bagian terpenting dari setiap kebudayaan manusia.

Dalam budaya Jawa, hampir disetiap ritus peralihan manusianya terdapat upacara mandi atau siraman. Misalnya dari seorang dari dalam kandungan sampai kematiannya, selalu ada unsur mandi. Hal ini merupakan symbol dari membersihkan diri secara fisik maupun batiniah.

Adapun ragam upacara di kebudayaan Jawa Tengah antara lain……

  • Mitoni atau upacara masa kehamilan. Biasanya dibutuhkan air dari 7 sumber (sapta nirmala) yang akan disiramkan ke tubuh ibu yang sedang hamil
  • Tedhak Siten yaitu upacara bagi bayi setelah selapan (ritus pemberian nama). Dalam upacara ini, bayi dimandikan dengan banyu kikir yaitu air yang telah diembunkan.
  • Potong Gigi (pangur) yaitu upacara gigi diratakan. Terdapat upacara siraman upasanta yang artinya sebuah upaya agar orang rendah hati, sabar.
  • Kataman Alit yaitu upacara siraman yang dilakukan setelah seseorang selesai/katam membaca Al-Quran. Seseraong selesai/katam membaca Al Quran. Seseorang biasanya mandi tauhid waktu malam.
  • Siraman Jempana/Ngawiyat untuk para sepuh. Maksudnya orang-orang yang sudah uzur dan dalam keadaan sakit biasanya melakukan jamas sinepati yaitu suatu antisipasi akan kemungkinan berakhirnya kehidupan seseorang.
  • Siram Manawa brata yaitu mandi untuk seseorang yang hendak masuk biara. Biasanya para keluarga mempunyai rasa berat hati karena anaknya akan masuk biara dan tidak menghasilkan keturunan, karenanya diadakan upacara siraman.
  • Siraman untuk manten Sunat. Terdapat dua jenis siraman pacak wala untuk pria agar kesejatiannya sebagai kaum adam semakin teguh. Lalu ada pacak Wungu/tetesan untuk putri.

Selain digunakan pada upacara, mandi pun dilakukan bagi orang-orang yang ingin melakukan tapa. Misalnya Tapa kumkum yaitu berendam di tempuran dua buah sungai (contoh, Begawan Solo dan Kali Madiun). Tapa disungai akan mengalami pergantian rasa air sungai. Pada pukul 19.00 – 10.00 air terasa dingin terasa es. Lalu pukul 10.00-11.00 malam, air agak menghangat. Dan air semakin mendidih pada pukul 01.00 dinihari sampai fajar. Menjelang fajar, air kembali menghangat. Sebelum melakukan tapa kumkum, biasanya seseorang melakukan siraman di pancuran atau air terjun dekat sungai.

Kemudian ada lagi tapa Wadha Sinjang Ritma yaitu tapa mohon keadadilan. Biasanya hal ini dilakukan oleh kaum putri yang disebut gugah batin. Mereka melakukan keramas dengan merang yang dibakar sampai hangus dan paginya digunakan sebagai shampoo.

Hasil wawancara dengan Suryanto Sastriatmodjo, ahli kebudayaan Jawa, di Yogyakarta

Leave a Reply

Close Menu