Maks

2001_Oktober_Edisi 129_Sekitar Kita:
Maks
Rohman Yuliawan.

The Other Face Of Humanity, Pameran Topeng Internasional, Museum Sono Budoyo. Lebih dari sekedar penutup muka, topeng adalah juga sebentuk pengucapan kultural dan spiritual dari berbagai kebudayaan. Makna-makna simbolis pun menyungkupi topeng dengan setiap lekuk, ragam hias dan warna yang demikian kaya dan beragam. Membicarakan topeng berarti juga membicarakan sebuah tradisi yang muncul dari respon manusia pada fenomena di luar dirinya dan karenanya menjadi wajah lain dari kemanusiaan. Dan ruang pembicaraan mengenai eksistensi (seni) topeng bakal digelar di kota Yogyakarta pada tanggal 27 Oktober 2001-10 November 2001 yang dikemas dalam tajuk “Mask, the Other Face Of Humanity.”

Koleksi topeng akan disajikan secara tematik, dikategorisasi berdasar tema, bukan asal Negara. Ada sekitar 12 tema besar berdasar fungsi topeng, semisal topeng kesehatan, topeng anak-anak, topeng politik, topeng ritual, topeng untuk performance. Beberapa acara pendukung terpaksa dibatalkan atau diubah karena keterbatasan dana penyelenggaraan, sementara, sebagaimana jamaknya kegiatan budaya, lainnya, even ini minim dukungan sponsor.

Acara ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan kalangan seniman dan pemerhati kebudayaan akan kemandegan seni topeng, baik estetika pembuatan maupun pemanfaatannya dalam dunia pertunjukan, padahal Yogyakarta diyakini sebagai pusat seni topeng dunia. “Ketika topeng batik laris, maka semua orang membuat topeng batik, atau malah membikin topeng yang tidak berakar kultural Yogyakarta. Seniman maupun artisan telah kehilangan daya kreasi mereka,” komentar Rudy Corens, salah seorang penggagas gelaran ini. Untuk menggugah kreatif seniman topeng Yogya, dihadirkan koleksi topeng dari sekitar 25 negara yang disajikan dalam bingkai tematik, bazaar dan workshop serta serasehan mengenai seni topeng.
Pada even ini partisipasi datang dari sekitar dua puluh lima Negara, diantaranya Belgia, Swiss, Thailand, Srilanka, Jepang, Meksiko. Topeng yang dipamerkan berasal dari koleksi pribadi dan museum, beberapa dibuatkan duplikat karena daya tahan material yang demikian rapuh. Beberapa koleksi hanya disajikan dalam bentuk foto karena kesulitan produser pengirim ke Yogyakarta.

Leave a Reply

Close Menu