Lukisan yang Ingar Bingar

Saat berkeliling, masuk-keluar dari banyak ruangan yang ada di Museum Nasional Jogjakarta, saya sempat melihat karya Dedy Sufriadi ini sebentar. Hanya sebentar, sebelum lampu mati – sebelum gelap gulita. Saat terhentinya waktu untuk menikmati lukisan dengan kondisi gelap itu, saya seperti diberi tanda untuk kembali di hari lain, di saat lampu menyala dan pengunjung tidak terlalu berdesakan. Dua hari kemudian, saya kembali ke Museum Nasional Jogjakarta, tempat di mana ArtJog 10 diselenggarakan. Sambung rasa dengan karya berwarna kuning itu pun terjalin kembali – kali ini bebas hambatan.

Karya ini berukuran besar, digantung pada satu dari banyak dinding yang dibangun khusus untuk perhelatan ArtJog 10. Lukisan dengan cat akrilik berwarna kuning keemasan dan spidol hitam di atas kanvas berbingkai kayu berwarna putih gading ini sepanjang empat meter lebarnya dan setinggi manusia pada umumnya. Dalam karya berjudul yang sulit dimengerti: Hypertext, Senjakala Berhala dan Antitesis #1, Dedy Sufriadi berhasil memberdayakan dua ukuran spidol permanen yang umum ada di pasaran, mungkin bermerk Snowman tipe 550 dan G12, untuk menghasilkan visual dari narasi-narasi, tanpa terlalu kentara memperlihatkan keterbatasan tebal huruf yang dapat dihasilkan. Teks-teks berwarna hitam di depan latar berwarna kuning itu ditulis dengan tangan, kadang besar dan tebal, lebih sering berukuran kecil dan tipis. Seluruh permukaan kanvas itu dipenuhi oleh tulisan berbahasa Indonesia yang diapit oleh garis-garis horizontal yang dibuat seadanya, tanpa penggaris.

Teks pada karya Dedy ini terlihat seperti sedang berteriak atau marah-marah, karena semuanya menggunakan huruf besar – huruf kapital tanpa kait. Kombinasi besar-kecil dan tebal-tipisnya huruf yang muncul berhasil membuat karya itu menampilkan sebuah komposisi visual yang dinamis. Badan teks berukuran besar dan berhuruf tebal di satu ‘paragraf’ dengan tepat disandingkan dengan barisan teks dengan huruf yang berukuran lebih kecil bergaris tipis. Huruf-huruf yang berkelompok itu, masing-masing terlihat ekspresif, mereka secara bersama-sama seolah-olah menjejalkan teriakan yang hingar bingar dan bisikan yang lugas ke dalam kepala saya. Tanda baca dan spasi antar kata yang biasa menemani sebuah tulisan menghilang di dalam karya ini, membuat pencarian awal dan akhir kalimat menjadi mustahil untuk dilakukan. Kerapatan jarak antar huruf yang bervariasi kadang memberi sedikit ruang untuk bernafas. Lukisan ini terlihat sedang menyampaikan banyak sekali pesan yang disampaikan secara berjejal dan hiruk pikuk, sehingga meninggalkan kesan bahwa jangan-jangan memang hanya residu dari pesan itulah yang ingin disampaikan.

Dari lukisan karya Dedy ini saya menangkap pesan tentang banjir informasi, banjir kata-kata, dan ketidaksempurnaan dalam pendidikan di sekolah perihal menulis halus yang memberi kebebasan munculnya berbagai ekspresi secara non-linear. Rentetan informasi yang dikirim melalui berbagai perangkat elektronik dan diterima melalui beragam gawai yang tersedia di sekeliling kita sering memunculkan rasa terkepung dalam benak. Kesempatan untuk diam, mengendapkan, dan memprosesnya menjadi sesuatu yang produktif sering kali merupakan hal yang langka, bila tidak bisa disebut tidak ada. Di mana-mana terjadi kepadatan kata-kata walau sebetulnya kita masih memiliki hak untuk memilih: mau mengurainya atau tidak. Kehidupan hingar bingar informasi dan kata-kata itu pun dibarengi dengan kegagalan pendidikan, khususnya pendidikan mental melalui pelajaran budi pekerti. Pelajaran menulis halus dianggap tidak berguna, dihilangkan, karena sudah ada papan ketik yang dapat menghasilkan tulisan dengan tingkat keterbacaan sesuai standar yang diakui oleh industri. Kita menjadi lupa akan adanya pendidikan mental yang mengajari kita untuk dapat mengontrol diri; kapan waktu yang tepat untuk menekan pinsil agar tulisan dapat terlihat tebal, kapan saatnya untuk sedikit meringankan pergelangan tangan agar dapat menghasilkan garis tipis pada huruf yang sedang ditulis. Kontrol diri ini menjadi penting saat ia dibutuhkan dalam menghadapi situasi kontemporer, di mana kebebasan berekspresi, yang sesuai dengan teori pasca-modern itu, telah ikut memerdekakan pihak-pihak yang tidak paham soal budi pekerti.

Sebuah tulisan, teks, memang selalu perlu untuk ditinjau secara berulang. Teks yang tertulis belum tentu bermakna seperti apa yang terbaca. Selain secara denotatif, teks perlu diperiksa kembali apakah memiliki makna konotatif di baliknya. Dalam hal ini kehadiran konteks menjadi penting, agar makna teks yang tepat dapat diperoleh. Karya Dedy Sufriadi ini memiliki nilai estetika yang baik sekali karena didukung oleh nilai-nilai formalistik dan ekspresivistik yang tinggi. Dedy menggunakan berbagai kemampuan teknis yang dimilikinya secara berimbang dengan kemampuannya dalam mengekspresikan pemikiran yang ingin disampaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *