Lokakarya++: Seni Lintas Media Sebuah Pintu Belakang

2085: FUTURE WORLD

Yuka D. Narendra
culturalidiot.blogspot.com

Sadar atau tidak, kita telah melewati separuh dari perempat pertama abad keduapuluh satu. Kita tengah mengalami perubahan besar peradaban. Presiden Amerika Serikat berkulit hitam, perkembangan teknologi digital yang hampir membunuh industri media massa cetak dan industri rekaman musik, mobil listrik hingga rencana besar mengirim manusia ke Mars. Sebagian dari ikon kebudayaan populer besar yang kita kenal di abad lalu satu demi satu berguguran. Ronnie James Dio, Michael Jackson, Lemmy Kilmister, David Bowie dan entah siapa lagi menyusul.

Dalam situasi ini, percepatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa depan semakin dekat. Bersama dengan itu, berbagai persoalan warisan abad lalu yang belum selesai, kini telah berkembang menjadi berbagai krisis multidimensional. Krisis energi, sumber daya alam, ekonomi, politik dan budaya telah menghasilkan persoalan-persoalan baru bagi kemanusiaan. Sementara di ranah sosial, pertarungan gagasan ideologis antarkelompok telah menjadi pertarungan kekinian yang menyedot seluruh perhatian masyarakat umum dan hanya meninggalkan sedikit ruang untuk berpikir tentang masa depan.

Ketika membicarakan masa depan, sulit rasanya untuk tidak menyertakan imaji dystopian ala film-film fiksi ilmiah. Petualangan ruang angkasa, pertarungan antarspesies, masyarakat yang terpolarisasi secara ideologis, kehancuran ekosistem planet Bumi hingga zombie apocalypse, merupakan imaji budaya populer akan masa depan umat manusia. Imaji ini terbungkus dengan rapihnya sehingga memberi keyakinan kepada kita semua bahwa semua hanyalah produk budaya populer yang fiktif dan tidak akan menjadi kenyataan. Ketika masa depan kemudian dimaknai sebatas fiksi maka demikian pula dystopia yang mengancam itu. Percepatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberi ilusi bahwa masa depan akan secanggih dan seindah produk-produk berbasis teknologi yang diproduksi oleh kapitalisme. Padahal ilmu pengetahuan telah memberi peringatan akan bahaya dan ancaman serius yang akan dihadapi umat manusia di masa depan, jika tidak ada upaya kolektif untuk mengatasi krisis-krisis yang menghadangnya kini.

Upaya kreatif lintas disipilin menjadi mutlak diperlukan untuk mengatasi berbagai krisis multidimensional tersebut. Upaya ini harus dapat menjadi ruang kolaborasi antara kelompok dengan gagasan ideologis yang berbeda-beda, menggunakan beragam metode, informasi, data, narasi dan imaji yang terserak di ranah sosial masing-masing. Mitos dan data, imaji dan visi masa depan harus sama-sama dipergunakan sebagai arahan untuk membangun strategi dan merumuskan tawaran-tawaran metode untuk menuju masa depan alternatif bagi siapapun. Semua pihak yang terlibat harus mampu meninggalkan kekinian mereka untuk melompat jauh menjelajah ruang, waktu dan peristiwa, pergi ke masa depan bermain-main di sana. Lokakarya “Kontra Kini” merupakan turunan dari kegiatan pameran seni rupa Hanafi yang bertema “Pintu Belakang/Derau Jawa” Sejumlah partisipan dari berbagai bidang profesi dan disiplin ilmu dipertemuan untuk berdialog tentang masa depan umat manusia. Dalam lokakarya ini, partisipan diminta untuk bersama-sama menyusun rekomendasi, strategi dan metode kolektif terkait dengan temuan mereka di masa depan.

Partisipan akan diajak untuk memasuki lorong waktu berwujud Warteg (warung makan Tegal) yang akan dihadirkan di dalam arena pameran. Sebagai entitas politik-ekonomi-kultural, warteg menjadi gambaran dystopia urban yang seringkali dianggap merepresentasikan masyarakat kelas bawah kota. Kerap dibingkai dengan narasi kemiskinan, warteg merupakan situs pertarungan kaum urban melawan kekuatan globalisasi ekonomi, karena di dalam sebuah warteg, strategi dan metode menegosiasi kekuatan global tersebut dapat kita temukan pada menu makanan; produk-produk kapitalisme dan model bisnis yang digunakan pemiliknya; faktor kesejarahan pengusaha dan pelanggan; musik dan saluran televisi yang dipilih sebagai sarana hiburan; interior; bahasa dan wacana yang diperbincangkan antara pemilik dengan pelanggan; dan masih banyak lagi lainnya. Partisipan akan diminta untuk merespon warteg tersebut dengan satu pertanyaan sederhana: Bagaimanakah kiranya warteg di tahun 2085?

Lokakarya ini tidak sekadar mencoba menjawab pertanyaan apakah masa depan yang diperbincangkan tersebut sesuai dengan gambaran dystopia fiksi ilmiah atau utopia kapitalisme. Lebih dari itu, lokakarya ini justru mengajak semua pihak untuk memikirkan bahwa umat manusia memiliki alternatif masa depan lain, yang berbeda dari kedua pilihan tersebut. Jika tidak, masa depan yang tengah menghampiri kita akan memaksa kita untuk mengikuti narasi yang telah dipersiapkannya sendiri. Persoalannya kemudian, narasi seperti apakah yang ia telah siapkan dan bagaimanakah keterlibatan kita di dalamnya? Ketika narasi tersebut tidak melibatkan kita – umat manusia – maka kita akan lenyap dalam untaian sejarah peradaban, seperti sekian puluh ribu tahun yang sudah-sudah.

 

Lokakarya + Produksi + Pameran Seni Lintas Media
Kegiatan di dalam Pameran Tunggal Hanafi: Pintu Belakang | Derau Jawa
Galeri Nasional Indonesia

Seni Lintas Media Sebuah Pintu Belakang

Lokakarya: Rabu, 2 Maret 2016
Produksi: Kamis-Senin, 3-7 Maret 2016
Pameran: Jumat-Selasa, 8-15 Maret 2016

 

Latar Belakang

Dasar tema pameran Hanafi “Pintu belakang | Derau Jawa” beserta pemahaman umum ‘media’ sebagai alat atau kendaraan gagasan baik dalam praktek kesenian, kebudayan maupun industri adalah titik tolak kegiatan lokakarya dan bincang-bincang dibuka untuk direspon para peserta undangan dan publik.

Kegiatan ini hendak menyoal keterkaitan antara tema besar “pintu belakang” dengan praktek lintas media kini sebagai penerokaan kemungkinan kreativitas yang lintas batas di masa depan dengan partisipasi lintas disiplin publik di luar seni.

Bagaimana kita berpikir ke depan ketika bahasa adalah media? Keberagaman sebagai media? Disiplin ilmu sebagai media? Data sebagai media? Dimensi waktu adalah media? Kolaborasi adalah media? Keseharian adalah media? Bagaimana pertanyaan-pertanyaan ini meruntuhkan segregasi keilmuan dan menjadi dasar bersama untuk berkarya, berpikir tentang keberlanjutan praktek bersama.

Workshop seni rupa pada umumnya adalah kegiatan yang pada akhirnya akan menghasilkan karya rupa. Pada kesempatan ini, lokakarya lintas media ini tak hanya bercita-cita menghasilkan karya, namun juga sesuatu yang akan berlanjut seusai kegiatan dengan memproduksi imajinasi dan pengetahuan untuk publik tentang masa mendatang. Mengeksplisitkan pengetahuan tacit peserta menjadi eksplisit dalam bentuk dokumentasi dan data.

Konsep Dasar Wacana

  1. Data

Dewasa ini mau tak mau kita semua adalah data. Identitas jender, prilaku, pilihan, apapun yang kita gunakan, keseharian yang kita jalani, terakumulasi menjadi kekayaan data. Menjadi aset pusat-pusat pengumpul dan penyedia data. Hidup kita dikemas dan dimaknai jadi modal dan dasar pengetahuan bagi yang dominan untuk mengendalikan kembali prilaku kita dan membingkai pilihan-pilihan hidup kita.

Bagaimana kita sebagai data yang punya daya pikir kreatif dan bagasi ideologi masing masing berkesempatan meretas balik atau menciptakan kedaulatan tandingan dari data-data yang kita kontribusikan dengan sadar, sukarela ataupun tanpa sadar?

Berbagi data dan berdialog atas data akan jadi salah satu komponen lokakarya bincang warteg dihadirkan dalam bentuk dokumen, live feed dan layar TV.

  1. Warteg 2085: #kemasadepanan #kontrakini

Warteg sebagai media ruang dan modal awal peserta. Mengimajinasikan pola produksi dan konsumsi dari skala warteg; “Warteg 2085”(2085 merespon peta jalan ‘Nawa cita’ pemerintah kini. program perencanaan Indonesia 70 tahun ke depan) adalah titik picu awal. Rentang masa ke 2085 ini merupakan gagasan yang merespon kecenderungan publik untuk melihat sejarah, kejayaan masa lalu atau obsesi akan kekinian, Warteg 2085 akan menggulirkan gagasan akan masa depan #kemasadepanan #kontra kini.

Nilai apa yang akan ditukar dagangkan pada warteg 2085? Bentuk tempe apa yang akan hadir? Apakah kedelai masih bisa disebut kedelai dengan rekayasa genetik, biologi sintetik, politik benih, singularity? Keseharian apa yang kelak dihasilkan oleh hibrida seni dan teknologi kini? narasi Distopia atau Utopia apa yang kita mainkan di benak sejak hari ini? Bagaiman masa depan menghampiri kita? Bagaimana membingkai pertanyaan yang tepat untuk livelihood dan praktek 2085?

Titik picu ini diharapkan memproduksi imajinasi baru dan pengetahuan dalam rentang 70 tahun. Dengan ruang publik urban; warteg sebagai katalis, juga tak kalah penting manusia sebagai subyek aktif, narasumber, peserta juga publik.

Selaras dengan tema pintu belakang, Warteg 2085 menggagas masa depan dan kreativitas dari skala warteg yang bersentuhan langsung dengan keseharian dan realitas publik akar rumput bukan dari façade identitas bangsa ke publik global yang selama ini menjadi ilusi dan hiper-realitas bersama.

  1. Manusia kolaboratif: Berbagi Pengetahuan Tacit dengan inklusif

Mempertemukan peneliti, pelaku pelaku industri, seni, akademisi dan aktivis yang berpengalaman dari berbagai bidang yang jarang untuk bertemu di satu forum bersama untuk makan, minum dan ngobrol bersama di warteg galnas untuk berbagi, berdiskusi dan membuka pengetahuan tacit masing-masing jadi eksplisit, berdialog dan membongkar ekslusifitas pengetahuan atau persaingan antar disiplin dengan perbincangan dan permainan. Berkolaborasi memproduksi pengetahuan bersama untuk publik.

Berbincang, bermain, berkolaborasi memproduksi pengetahuan bersama.

 

  1. Abimanyu
  2. Adityayoga
  3. Afrizal Malna
  4. Agung Hujatnika Jenong
  5. Andang Kelana
  6. Arief Adityawan
  7. Awan Simatupang
  8. Ayu Utami
  9. Bambang
  10. Budiman Sudjatmiko
  11. Dendi Madya
  12. Deti Wulandari
  13. Dhandy Leksono
  14. Irendra Radjawali
  15. Sonny Mumbunan
  16. Erik Santosa
  17. Erlin Guntoro
  18. Faisal Kamandobat
  19. Felencia Hutabarat
  20. Henreyette Louise
  21. Inyo
  22. Irwan Ahmet
  23. Iwan Ismael
  24. Jesselyn Juniata
  25. Jhon Heryanto
  26. Lawe Samagaha
  27. Nanang Syaifuddin
  28. Reshan Janotama
  29. Ruli Manurung
  30. Sari Wulandari
  31. Susiadi Wibowo
  32. Turanggaseta
  33. Yoga Adithrisna
  34. Yoris Sebastian

Mengundang pula;

  1. Dosen dan mahasiswa School of Design Binus University
  2. Dosen dan mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual Fakultas Senirupa dan Desain Universitas Tarumanagara
  3. Dosen dan mahasiswa Institut Kesenian Jakarta
  4. Lembaga kebudayaan;
  • Desain Grafis Indonesia
  • Dewan Kesenian Jakarta
  • Forum Lenteng
  • Kelola
  • Koalisi Seni Indonesia
  • Komunitas Salihara
  • Ruang Rupa
  • Rujak
  1. Lembaga kebudayaan asing;
  • British Council
  • Erasmus Huis
  • Ford Foundation
  • Goethe Institut
  • HIVOS
  • Japan Foundation

 

  1. Dialog dan Obrolan Informal
    Sebagai ruang dialog sekaligus ruang pamer sebuah Warung Tegal akan dihadirkan di Galeri Nasional. Kegiatan mencakup pamer data, diskusi, ngobrol, bermain, nguping, nimbrung di warteg. Penyelenggara mengundang nara sumber pemancing diskursi. Fasilitator dan peserta lain diharapkan aktif menanggapi. Peserta akan bermain dan berkarya bersama dengan berbagai hal yang ada di sekitarnya.
  1. Pameran Data
    Penyelenggara mengundang berbagai pihak baik individu maupun institusi untuk menampilkan data-datanya di lingkungan lokakarya untuk dipamerkan.
  1. Permainan
    Kemungkinan bermain dengan data/gagasan kolaboratif dengan metode exquisite corpse
    https://en.wikipedia.org/wiki/Exquisite_corpse
  1. Eksperimentasi dan Produksi Karya
    Peserta diajak untuk merespon bincang-bincang dan data serta berbagai material yang disediakan untuk menjadi karya.
  1. Pameran Karya
    Karya yang dihasilkan akan dipamerkan dan dipublikasi.
  1. Dokumentasi
    Kegiatan ini akan direkam dan didokumentasi untuk disebar luaskan.

 

Penyelenggara

  1. Studio Hanafi
  2. Cecil Mariani
    Desainer Grafis, pengajar di Universitas Pelita Harapan 2001-2011, Melanjutkan pendidikan S2 nya 2011-2013 dengan inisatif beasiswa mandiri @tuatuasekolah bersama Lisabona Rahman dan Felencia Hutabarat. Mengajar di IKJ Seni Rupa dan Pasca Sarjana sejak 2014. Untuk mata kuliah Social Campaign, Seni Urban dan produksi budaya, dan sejarah seni populer. Berpartisipasi dalam “imagining Jakarta” yang digagas oleh Marco Kusumawijaya dan Rifky Efendi yang kemudian dipamerkan di Galeri Cemara 6 dan CP biennale, Memamerkan karya di Jakarta Biennale 2009. Pernah menggagas revitalisasi neighbourhood di New York untuk Area Washington Heights tempat tinggal kelompok imigran Dominika dengan kampanye “Explora! Washington Heights” dalam Program Impact! Design for Social Change bekerja sama dengan Business Improvement District NYC dan School of Visual Arts. Turut serta merintis Komunitas Salihara dari segi desain dan pengalaman visual 2008-2011, Baru-baru ini bekerja dalam tim Jakarta Biennale 2015.
  1. Enrico Halim
    Setelah menyelesaikan pendidikan formal desain grafis di 1994, ia memulai lembaga not-for-profit bernama aikon yang bertujuan mendorong keterbukaan berpikir dalam masyarakat Indonesia. Pararel dengan itu, ia bekerja di biro desain grafis, yang melayani perusahaan komersial maupun lembaga not-for-profit dunia. Sejak 2004 ia mengelola situs aikon.org dan mengajar di fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanagara satu hari dalam seminggu. Di 2009 karya yang melibatkan pengamen dan para pelaju di kereta listrik jurusan Tanah Abang Serpong berjudul Mari Menggambar mengikuti Biennale Jakarta. Di 2013 mengelola program publik Biennale Jakarta dengan judul Adakah Seni di Antara Kita? Pada 2012 mulai bereksperimen dengan pembuatan bemo bertenaga listrik yang diluncurkan kemudian di 2013.
  1. Yuka Dian Narendra
    Dilahirkan di Jakarta 15 September 1972. Adalah peneliti independen di bidang budaya populer, mengajar di School of Design Universitas Pelita Harapan. Minat penelitiannya adalah hal remeh-temeh dalam kebudayaan populer Indonesia, terutama kajian tentang subkultur musik Metal. Kegemarannya terhadap musik Metal itulah yang membuat Kandidat doktor bidang Cultural Studies dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini memutuskan untuk menulis disertasi subkultur Metal Indonesia. Selain menjadi peneliti, Yuka menghabiskan waktu senggangnya dengan berburu makanan enak, terutama Chinese Food yang otentik bersama istrinya. Cara lain bersenang-senang ia lakukan dengan merekam dan memproduksi band-band underground di studio rekaman kecil di rumahnya.
  1. Berakar
  2. aikon. Yayasan Pikir Buat Nusantara
    Adalah sebuah lembaga not-for-profit yang bermisi mendorong keterbukaan berpikir dalam masyarakat Indonesia. Lembaga ini secara khusus bergerak dalam perancangan solusi untuk kepen_ngan publik.
Aikon aktif mengembangkan berbagai program ramah-­‐lingkungan sejak 1994.
    Dikenal dengan dengan media cetak alternatif yang memublikasikan berbagai informasi berkaitan dengan seni, sejarah, dan lingkungan (hidup/sosial) dan didistribusikan secara gratis setiap bulan di kota-kota besar Indonesia. Penerbitan cetak dihentikan di 2002, dilanjutkan dengan kegiatan dokumentasi dan publikasi di dunia internet.
    Misi aikon mendorong keterbukaan berpikir dalam masyarakat Indonesia dengan harapan akan mendorong negeri ini ke arah yang lebih baik.
    Berbagai kegiatan edukasi masyarakat yang dilakukan, antara lain; Gelar Kebon (1995), kegiatan relawan untuk Kebun Binatang Ragunan, Program Pagi (1997), program daur ulang yang menggelar Minggu Kertas di 1999 dan 2001, Peta Hijau (2002), Warga Peduli Bangunan Tua (Walibatu, 1997) program untuk pelestarian bangunan bersejarah. Program aikonTV, episode ‘peniti’, memperoleh Piala Vidia di tahun 1997, untuk kategori non-­cerita terbaik. Di 2008 aikon mulai mengembangkan konsep internet keliling (netling). Tahun 2010, aikon menerbitkan Buku Do Good Design tulisan David B. Berman dalam Bahasa Indonesia. Penerbitan ini dilengkapi dengan workshop dan diskusi di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali di 2011.
    Di 2011 menerbitkan Na Willa, serial catatan kemarin tulisan Reda Gaudiamo. Di 2010 aikon mulai mengembangkan konsep patungan.net. Program ini mendukung inisiatif warga melalui pengumpulan dana berbasis internet dan jaringan sosial (crowd-funding) yang diluncurkan di 2012. Akhir 2011 Aikon memunculkan program Desain untuk Difabel yang melibatkan berbagai lembaga di Jakarta dan Solo, untuk merayakan Hari Difabel Internasional dan menyambut Asean Paralimpic Games 2011 di Solo. Pada 2012 memulai Program Revitalisasi Bemo Karet, yang meluncurkan produk BioBemo, Bemo bertenaga listrik dan mendorong beberapa kegiatannya, antara lain: BemoBaca, Bemoskop, dan BemoTransformer.

Leave a Reply

Close Menu