litografi

2000_Juni_Edisi 113_seni :
litografi
Ade Tanesia

Sebuah penemuan bisa terjadi dari ketidak sengajaan. Inilah yang terjadi pada Alois Senefelder, pria kebangsaan Jerman, penemu seni cetak tipografi yang tergolong ke dalam teknik cetak datar pada tahun 1798. Suatu hari, Ibunda Senefelder minta tolong dirinya unutk menuliskan catatan pakaian yang akan dicuci. Kebetulan saat itu ia tidak menemukan secarik kertas pun, dan akhirnya ia menulis di atas sebuah batu gamping dengan tinta buatan sendiri. Rasa penasaran menggelayuti Senefelder, sehingga ia putuskan untuk membuat torehan tulisan dengan tinta yang kemudian akan dicetaknya di atas kerta.

Setelah beberapa eksperimen, Senefelder membersihkan batu tersebut dengan sabun dan air. Di situlah ia temukan kunci dari proses ini. Gambar atau tulisan yang ditorehkan dengan tinta mengandung lemak itu, ternyata tidak hilang saat batu tersebut dibersihkan. Bahkan gambar atau tulisan tersebut tidak rusak tersaput oleh air. Di titik inilah seni litografi ditemukan dengan prinsip utama bahwa lemak dan air tidak dapat bersatu.

Sebutan litografi sendiri berasal dari serapan bahasa Yunani, lithos – batu dan graphen – menulis. Istilah litografi kemudian dipahami sebagai steindruckerel atau cetak batu. Sebenarnya teknik cetak batu ini pernah dicoba sebelumnya oleh Simon Schmid di Jerman tahun 1787, namun Alois Senefelder lah yang lebih serius mengembangkan litografi.
Alois Senefelder bukanlah seorang perupa melainkan penulis naskah. Anak dari seorang actor ini memang tertarik pada dunia teater. Untuk membuat poster-poster pementasannya, ia berusaha mengembangkan metode cetak yang bagus dan murah. Kesuksesannya diawali ketika ia mencetak beberapa komposisi musik dari Granz Gessner. Beliau kemudian mendukung Senefelder secara financial untuk menyempurnakan proses litografi. Walaupun Senefelder tidak sempat memperoleh penghargaan materi dari penemuannya, ia sangat tekun untuk mengembangkan percetakannya di Offenbach dan melatih beberapa orang untuk menguasai metode litografi. Bahkan dirinya sempat menerbitkan buku berjudul “A Complete Counce of Litograpgy” tahun 1819.

Teknik ini kemudian berkembang di seantero Jerman hingga Perancis, Belanda, Inggris, Spanyol, dan Amerika. Banyak seniman yang menyadari bahwa dengan litografi menjadi salah satu teknik reproduksi karya seni dan ilustrasi. Misalnya Seniman Perancis, Honore Daumler dikenal sebagai seniman litografi yang secara satir menceritakan persoalan sosial di masyarakatnya. Karyanya La Caricature dan Le Charivari cukup mempengaruhi seniman lain untuk mencoba teknik litografi.

Di Indonesia, tidak banyak seniman yang mengembangkan seni litografi. Beberapa diantaranya yang pernah mencoba adalah pelukis Affandi, saat dirinya sedang mempelajari seni grafis di Belgia. Karya litografi Affandi dan putrinya, Kartika, hingga kini masih bisa dinikmati di Dirix Art Gallery. Perupa Agus Suwage, yang pernah mencoba seni litografi di Australia mengatakan bahwa teknik ini cukup sulit. Maksudnya dibutuhkan waktu panjang, misalnya unutk mengasah lempengan batu berukuran 60×50 cm saja menghabiskan 4 jam sendiri. Menurut Devy Setiawan dari Red Point sebuah lembaga yang mengembangkan seni grafis di Indonesia kondisi ini disebabkan sedikitnya memperoleh batu litografi. Bahkan institusi seni yang memiliki batu tersebut hanyalah Institut Teknologi Bandung (ITB). Sangat disayangkan memang, karena ilmu seni grafis rasanya tak lengkap tanpa mempelajari litografi.

Membuat Litografi
Batu yang kebanyakan berasal dari daerah Bavaria, Jerman ini dipotong menjadi lempengan. Sebelum digambari, maka batu tersebut mengalami proses pengasahan hingga permukaannya rata dan halus. Kemudian lempengan batu tersebut digambari dengan bahan yang mengandung lemak. Lalu dengan bantuan gom arab yang mengikat partikel batu, sifatnya menjadi higroskopis, yaitu menyerap tinta sekaligus menolak tinta. Gambar positif pada permukaan batu akan menyerap tinta hingga kepekatan yang memadai dan siap dialihkan ke atas kertas dengan bantuan mesin press khusus litografi. Keistimewaan teknik ini, hasil cetakan dapat mendekati aslinya dan bisa diregro ratusan kali.
Alugrafi: Pengembangan Litografi

Rumitnya persiapan dan beratnya proses litografi di atas batu kapur telah menjadi kendala besar bagi mereka yang tertarik mendalaminya. Senefelder sudah menyadari hal ini, sehingga sepuluh tahun kemudian ia menemukan alternative pengerjaan litografi, yaitu menggunakan pelat seng sebagai acuan cetak. Nah, pelat logam dalam litografi akhirnya bergeser kepada aluminium yang nantinya cikal bakal teknik cetak offset. Namun tidak berarti pemakaian pelat logam berakhir, hingga kini lingkup seni murni masih menggunakannya secara manual dan dikenal dengan nama alugrafi yang menggunakan “bali grained alluminium plate”.

Redpoint studio di Bandung yang secara khusus mengembangkan seni grafis di Indonesia melakukan serangkaian uji coba yang memanfaatkan bahan dan peralatan dalam negeri, karena “ball grained alluminium plate” masih merupakan barang impor. RedPoint Studio mencoba menggunakan bahan bekas berupa pelat aluminium offset. Melalui teknik alugrafi, maka dapat dikembangkan waterless-litography yang menggeser pemakaian gom arab ke bahan silicon, sehingga menghasilkan gambar yang lebih tajam.

Leave a Reply

Close Menu