Lingkungan Rusak Hutang Tetap Menggunung

2000_Agustus_Edisi 115_bahas:
Lingkungan Rusak Hutang Tetap Menggunung
Ade Tanesia

Lingkungan Rusak, Hutang Tetap Menggunung
Kronisnya kerusakan lingkungan hidup di negara-negara penghutang, termasuk Indonesia, tidak semata-mata disebabkan kelalaian internal, tapi juga dipengaruhi oleh system jeratan para kreditor dunia. Sampai akhir tahun 1989, seluruh hutang luar negeri negara berkembang mencapai jumlah uS$ 1,2 triliyun. Nah, untuk membayar kembali hutangnya, negara berkembang berusaha menaikkan penerimaan devisa ekspor, terhitung sejak tahun 1983 sebesar US$ 50 juta yang merupakan nilai penerimaan ekspor bahan-bahan mentah alamiah alias hasil pengurasan sumber daya alam negara berkembang. Misalnya, Indonesia 65% dari minyak mentah, El Salvador bergantung pada 65% ekspor kopinya,Ghana pada coklat, Birma 64% dari kayu dan beras, Burundi 84% dari kopinya, Zambia 88% dari tembaganya. Walhasil negara-negara tersebut akan terus menguras hutang dan sumber daya alamnya untuk bayar hutang dan lingkungan pun semakin hancur luluh lantak. Negara berkembang memang banyak merusak lingkungannya sendiri, tapi hal itu juga disebabkan oleh system yang dilakukan oleh negara maju untuk membuat ketergantungan hutang. Hal ini pula yang menyebabkan India menentang hasil kajian PBB-As bahwa dunia ketiga berperan besar dalam pemanasan global. Jadi walaupun setiap negara sudah merdeka, sebenarnya terjadi kolonialisme di bidang lingkungan hidup yang bisa dikurangi jika hutang luar negeri negara berkembang dihapus.

Leave a Reply

Close Menu