Lilin

1997_akhir Maret_Edisi 065_bahas:
Lilin

Lilin sebagai penerang merupakan sumber cahaya tertua, karena telah digunakan sejak tahun 3000 Sebelum Masehi di Mesir dan Kereta. Lilin yang kita gunakan sebagai sumber cahaya terdiri atas batang silinder yang terbuat dari lemak dan seutas kain sebagai sumbunya. Lemak tersebut diproduksi oleh lebah, yang dihasilkan untuk membuat sarangnya. Lilin mirip dengan minyak namun ia tidak mencair dalam suhu normal, sebaga perbandingan lilin mencari pada suhu antara 65-85 derajat Celcius, sedikit lebih rendah dari titik didih air. Karena memiliki titik beku yang lebih tinggi dari minyak maka lilin telah digunakan sejak lama sebagai lapisan pelindung, terutama untuk kayu, batu, gips dan kain. Lilin merupakan senyawa kimia yang kompleks, terdiri atas asam lemak padat dan alcohol, namun terkandung asam murni dan hidrokarbon. Bahan tersebut menyatu secara permanen dan tahan lama yang berfungsi melindungi dari kerusakan dan panas yang berlebihan.

Lilin dalam seni lukis paling sering digunakan untuk pelapis sekaligus pelindung dan bahan tambahan krayon dan cat minyak pastel. Penggunaannya pun tergantung pada tiik cairnya dan pemukaan yang akan dilapisinya.

Mula-mula lilin hanya terbuat dari gemuk dan damar dengan ditambah sumbu ditengahnya dengan bentuknya yang tidak teratur, tidak seperti sekarang. Sampai pada aba ke-15 The Sieur de Brezn of Paris mulai membuat cetakan lilin. Dan pada tahun 1709, di Inggris, pembuatan lilin dikenakan pajak dan masyarakat dilarang membuat sendiri. Tapi hal ini tidak berlangsung lama, pada tahun 1831 larangan ini dicabut, sejalan dengan bermunculannya lilin yang dekoratif. Kemudian, seorang pria berkebangsaan Perancis, M. Chevreul memurnikan lemak dengan menambahkan alkali dan asam belerang untuk menghasilkan lilin yang tahan lama asapnya bersih.

Sekitar tahun 1825, seorang Perancis, M.Cambeceres memperkenalkan sumbu yang terbuat dari jalinan benang yang telah dicampur dengan garam, untuk mendapatkan bentuk api yan bulat dan asap yang tidak bau, dengan memisahkan asam lemak dari gliserin (lemak hewan) memproduksi lilin.

Pada tahun 1834, Joseph Morgan menciptakan mesin pembuat lilin, yang dapat memproduksi 1500 batang lilin dalam waktu 1 jam, kemudian 2 tahun kemudian, palmatine, bahan pembuatan lilin dari minyak palem dipatenkan sebagai salah satu bahan lilin. Dipertengahan abad ke-19 perusahaan pembuat lilin di Inggris memiliki perkebunan kelapa sendiri di Sri Lanka dan dapat memproduksi 100 ton lilin dalam seminggu.

Pada tahun 1850, lilin paraffin mulai beredar dan tahun 1857 digabungkan dengan stearin dan jalinan benang menghasilkan lilin yang memberikan warna dan jalinan benang menghasilkan lilin yang memberikan warna dan sinar yang lebih cerah. Sejak paraffin ditemukan, kedudukan lilin sebagai penerang digantikan lampu paraffin yang akhirnya menurunkan pamor lilin. Sementara yang lainnya sibuk mencari bentuk yang baik, Alfred the Great, mencampurkan lapisan pelindung tanduk hewan dalam sumbu lilin untuk melindungi nyala api dari hembusan angin.

Fungsi lilin tidak terbatas sebagai penerang saja, buktinya sekitar seratus tahun yang lalu, lilin telah digunakan sebagai alat ukur waktu, ternyata lilin juga digunakan dipersidangan, ketika hakim mengajukan tawaran kepada kedua belah pihak untuk mengadakan tawar-menawar terhadap kepustusan hakim, waktu yang tersedia dihitung dengan nyala sebuah lilin setinggi 1 inci. Apabila lilin tersebut padam, maka tawaran tersebut dibatalkan.

Selain itu, lilin digunakan juga dalam dunia pengobatan terutama dalam terapi aroma, caranya lilin dilelehkan, lalu dicampur dengan cairan wewangian yang diinginkan (misalnya minyak melati atau mawar), setelah itu lilin siap dibentuk dan jika dibakar akan mengeluarkan wangi dari masing-masing bahan. Atau jika ingin cepat dan praktis, cukup teteskan minyak wewangian tersebut ke dalam lilin yang sedang menyala.

MACAM LEMAK BAHAN LILIN
Bees wax
Jenis lilin yang berwarna kuning ini paling sering digunakan pelukis, namun apabila sarang madu tersebut baru dibuat ia akan berwarna putih. Setelah diangkat dari tempatnya sarang ini biasa dijernihkan dengan sinar matahari atau dengan penjernih buatan pabrik untuk membuat sarang tersebut lembut dan agak berminyak, lalu siap dilebur atau langsung dibentuk menjadi lilin. Tetapi suhu proses peleburan ini tidak boleh terlalu tinggi, sekitar 63 derajat Celcius, jika lebih, maka bahan dasar tersebut akan berubah menjadi lebih gelap. Temasuk jenis yang paling mahal, namun bisa dicampurkan dengan jenis paraffin untuk meningkatkan kualitasnya.

Carnaula wax
Bahan ini terdapat dalam daun palem Brazil (Copernica cerifera), yang mempunyai titik lebur sekitar 85 derajat celcius. Jenis ini lebih tahan untuk digunakan dibanding beeswax dan lebih tahan lama.

Caldelilla wax
Hasil tetesan getah dari tanaman Meksiko, Pedilanthus pevonis, merupakan bahan dasar candelilla wax. Mempunyai titik lebur antara 56-70 derajat Celcius.

Paraffin waxes
Merupakan bahan buatan senyawa kimia, hidrokarbon, yang stabil. Memiliki jarak titik lebur dan beku yang besar dan sangat mudah dibentuk. Biasanya berbentuk butiran. Krayon merupakan contoh benda yang dibuat dari jenis lilin ini.

Polyethylene wax
Chinese Insect wax

Kedudukan lilin dalam Agama Budha sekte Niciren Syosu
Agama Budha memiliki bermacam-macam sekte, maka lilin yang digunakan pun bermacam warna, tetapi secara umum yang digunakan ialah warna putih.

Makna lilin atau penerang dalam Agama Budha sekte Niciren Syousu, dalam Bab Baisyajaguru Saddharmapundarika-sutra, Budha Sakyamuni menceritakan tentang sumbangan penerangan yang dilakukan oleh Bodhisattya Baisyajaraga. Bodhisattva itu membakar sikutnya sendiri untuk memberi sumbangan penerang kepada sang Buddha. Selain itu lilin atau penerang ini melambangkan prjana (kebijaksanaan). Dalam sekte Niciren Syosu lilin yang digunakan berwarna putih.

Jika dalam sekte Niciren Syosu lilin yang digunakan berwarna putih, lain halnya yang digunakan di klenteng-klenteng Cina. Lilin yang digunakan berwarna merah. Hal ini disebbbkan menurut kepercayaan orang Cina warna merah melambangkan kebahagiaan.

Lilin celupan
Cara membuat lilin dengan cara celup ini termasuk yang paling kuno. Cara ini telah digunakan sejak jaman Romawi Kuno, ketika itu gulungan papyrus dicelupkan kedalam lemak yang akan menjadi batangan lilin. Biasanya dibuat sepasang dengan sumbu tak terputus yang juga berfungsi sebagai pegangan. Macam-macamnya : lilin tradisional (satu warna), bergaris (dua warna atau lebih) dan lilin kuning (yang biasa kita lihat, terbuat dari lemak hewan).

Pembuat lilin sebuah klenteng di Yogya
Di sebuah klenteng yang terletak di belakang pasar Kranggan, Yogyakarta, seorang ibu tua membuat lilin setiap hari. Lilin itu terbuat dari malam putih, lalu dimasak dan diberi pewarna merah dari bahan wantex merk Gareng. Benang lilin tidak dapat dibeli langsung di toko, melainkan harus memesan dulu. Pembuatannya sangat sederhana, benang dan dilakukan berulang-ulang sampai tebal dan membentuk silinder panjang. Pembuatan lilin ini hanya terbatas untuk keperluan klenteng, tidak untuk dijual.

Lilin dari sarang lebah
Lilin ini merupakan jenis yang terbaik dan paling sederhana karena terbakarnya perlahan dan mengeluarkan aroma madu yang harum. Lilin jenis ini sulit untuk dicetak atau dengan metode klasik dengan cara dicelup karena sangat tidak efisien dan mahal. Produksi sarang oleh lebah pekerja juga cukup lama, oleh karena itu penangkar lebah sekarang telah membuat dasar sarang tiruan untuk merangsang pembuatan sarang yang sebenarnya. Tidak seperti jenis lilin lainnya, lilin dari sarang madu ini memerlukan sumbu yang lebih tebal dari yang biasanya dipakai.

Pembuatan lilin ini ada dua cara, pertama, sarang madu yang berbentuk pipih itu dibersihkan dilebur lalu dibentuk menjadi batang lilin. Sedangkan cara lainnya, sesudah dibersihkan sarang tersebut langsung, ditambahkan sumbu lalu digulung dan dibentuk menjdi lilin.

Sumber:
Innes, Miranda, 1991. The Book Of Candies, Dorling Kindersley Ltd, London, United Kingdom.
Smith, Ray, 1978, The Artist’s Handbook, Dorling Kindersley Ltd, London, United Kingdom
Mayer, Ralph, 1991, The Harper Collins Dictionary; Art Terms & Techniques, Second Edition, Harper Collins, New York, United States of Amerika.
Simpson, J.A dan E.S.C Weiner, 1989, The Oxford English Dictionary, Second Edition, Clarendon Press, Oxford, United Kingdom.
Hasil Perbincangan dengan Bapak Sukirman dari Yayasan Amerta.

Leave a Reply

Close Menu