Layar lebar Cinema

1997_mula April_Edisi 066_bahas:
Layar lebar Cinema

Tanpa bantuan layar, mungkin Colombus tak pernah menemukan benua Amerika. Dan tanpa bantuan layar film, mungkin tak pernah bisa menonton serunya petualangan Columbus menemukan benua Amerika.

Layar, yaitu sehelai kain lebar yang dibentang, ternyata memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan manusia. Namun, para pelautlah yang paling rajin mengutak-atik fungsi layar untuk digunakan sebagai pendorong kapal dengan tenaga angin. Bangsa Mesir kuno, menggunakan serat daun papyrus untuk keperluan tersebut. Sedangkan di daerah Timur Jauh seperti Cina, masih banyak dijumpai kain layar dari anyaman jenis rumput dan daun bamboo. Di negara Eropa Barat, konon sudah dikenal kain layar dari bahan tenunan kasar dan kuat. Di pertengahan abad ke-19, banyak digunakan katun sebagai kain layar, karena lebih kedap air. Layar katun banyak digunakan oleh kapal-kapal pesiar. Layar-layar kuno dulu berbentuk segi empat, lalu kemudian layar segi tiga mulai banyak digemari.

Munculnya layar lebar ditandai dengan ditemukannya sistem, cinema dalam pembuatan film. Cinema dikembangkan oleh Fred Waller, pertama kali muncul di Broadway pada tahun 1952. Pengambilan gambar Cinerama tetap menggunakan film ukuran biasa yaitu 35 mm. Gambar-gambar itu diambil serentak dengan 3 kamera yang diatur sedemikian rupa agar seluruh obyek bisa masuk. Setelah selesai diproses, gambar-gambar dipetunjukkan diatas layar yang membutuhkan bentuk layar melengkung ke dalam. Dengan demikian gambar-gambar itu dipertunjukkan secara serentak hingga diatas layar hanya mewujudkan satu gambar saja. Hasilnya didapatkan gambar berukuran 2,59 lebar berbanding 1 tinggi.

Film layar lebar dihasilkan oleh proses layar lebar atau wide screen prosess. Yaitu proses yang bisa mengambil gambar-gambar yang lebih lebar daripada gambar film ukuran standar.

Setahun setelah lahirnya film dengan sistem cinema, pada musin gugur 1952, 20th Century Fox memperkenalkan film cinemascope yang betul-betul dapat disebut film layar lebar, karena dapat memantulkan gambar-gambar diatas layar dengan ukuran 2,5 lebar dibanding dengan 1 tinggi. Film pertama yang memakai sistem cinemascope adalah film Llyod C. Douglas yang berjudul The Robe.

Kelir. Bukan untuk mewarnai, kelir disini adalah layar yang digunakan dalam pertunjukan wayang kulit. Wayang sendiri diduga berasal dari kata wewayangan atau bayangan. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergerlaran wayang kulit yang menggunakan kelir, yaitu secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang dan penonton dibalik kelir. Dengan adanya kelir inilah, penonton menyaksikan gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Adapun cahaya untuk menimbulkan efek bayangan digunakan lampu minyak khusus yang disebut blencong.

Layar tancep pertama kali di Jakarta !
Adalah Tua Talbot yang mengadakan pemutaran film di alam terbuka (misbar) di Pasar Gambir. Pertunjukan ini bersifat layar tancep. Selain itu bioskop misbar juga ada di Deca Park (sekarang daerah Merdeka Utara). Jika anda ingin mengadakan pertunjukan layar tancep di Jakarta, silahkan menghubungi Sinematek Indonesia di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan.

 

Leave a Reply

Close Menu