Lansia

1999_Desember_Edisi 106_selip:
Lansia
Electronic Telegraph, issue 1365

Menjadi tua bukanlah pilihan seseorang, melainkan pilihan alam yang mempertahankan apa yang disukai dan membuang sesuatu yang tidak disukainya. Tanpa diharapkan, hari tua tetap datang di setiap siklus kehidupan seseorang yang ditandai dengan terjadinya perubahan fisik, seperti kulit yang mulai berkeriput, semakin meratanya rambut uban, atau menurunnya daya ingat yang mengakibatkan gejala pikun. Berbeda dengan binatang yang menerima proses tersebut dengan pasrah, manusia kadang tetap gigih melakukan berbagai penelitian untuk menangkal proses penuaan, misalnya dengan memproduksi super hormon, mencari tahu tumbuh-tumbuhan atau buah-buahan yang mampu menangkal proses penuaan. Tapi apa yang dikatakan oleh mereka yang hidup hingga di atas usia 100 tahun. Ternyata meraih usia panjang tak hanya soal menjaga kesehatan fisik, yang lebih penting adalah bagaimana mental seseorang dalam menyikapi rentang hidupnya, seperti Jeanne Calment, wanita berusia 120 tahun yang menjadikan tertawa sebagai kunci umur panjangnya.

Bagi sebagian lansia, usia panjang memang merupakan prestasi, tapi kadang justru menjadi beban bagi dirinya maupun masyarakat sekitar. Sikap masyarakat merupakan salah satu faktor yang mampu memperberat atau meringankan kehidupan kaum lansia. Kadang dirinya dihormati, dan kadang kaum lansia biasanya sudah menjadi tanggung jawab negara, sementara di negara berkembang, kebanyakan nasib mereka masih digantungkan pada keluarganya. Masih berlakunya sistem keluarga luas (extend family), sangat membantu keberadaan lansia sendiri, sejalan denggan pergeseran tatanan keluarga, maka rumah-rumah jompo semakin dibutuhkan. Baik pemerintah maupun swasta mulai membangun rumah jompo dengan fasilitas yang cukup memadai. Jika dulu mengirimkan orang tua ke panti jompo masih dianggap aib, maka kini justru banyak orang tua yang lebih senang tinggal di panti dengan alasan bisa ngobrol dengan teman sebaya. Sekali lagi, menjadi lansia merupakan pilihan alam yang harus dihadapi setiap manusia. Dan keberadaannya patut dihormati dan dicintai dengan sungguh oleh masyarakatnya. Bukankah banyak pelajaran yang bisa kita petik dari mereka?

Menangkal Proses Penuaan?

Seringkali kita dengar ungkapan, “Aku ingin hidup 1000 tahun lagi,” Meskipun tak pernah terwujud, ungkapan ini menunjukkan betapa mampu manusia tidak rela menghadapi proses penuaan. Namun pada kenyataanya proses alam mengharuskan penuaan itu terjadi, seperti yang dikatakan oleh Michael Rose, dari Universitas California bahwa melalui seleksi genetis alam mempertahankan apa yang disukai dan membuang yang tidak disukainya. Hal ini dimulai sejak memasuki usia 30 tahun. Dimana sistem kekebalan tubuh kita melemah, otot mengendur, sendi menjadi kaku, kulit berkerut, perubahan pita suara. Inilah tanda-tanda bahwa kita sedang mengalami proses penuaan.

Para ahli sudah demikian piawainya mengenali gejala penuaan, tetapi belum ada seorang pun yang mampu menjawab secara pasti pertanyaan, mengapa kita harus menjadi tua? Di tahun 1960-an, para ilmuan baru serius meneliti masalah penuaan. Ada dua kutub pemikiran proses penuaan, yang pertama berpandangan bahwa terdapat jam internal dalam tubuh manusia yang menghantar kita pada perusakan diri. Sedangkan kedua berpendapat bahwa telah terjadi kesalahan genetik dan perusakan pada kehidupan, sehingga tubuh tak mampu memperbaiki dirinya sendiri. Di tahun 1961, seorang ahli biologi Leonard Hayflick mengemukakan hipotesis yang lebih jelas mengenai penyebab penuaan. Menurutnya sel manusia membelah sebanyak 30-90 kali dan berhenti. Walaupun sel-sel mampu melakukan tugasnya dengan baik dan menghasilkan enzim yang dapat menyebabkan kerusakan protein, seperti kolagen kulit. Dan fakta bahwa sel tak lagi membelah dan memperbarui jaringan telah menyebabkan penuaan kulit, memperlambat penyembuhan luka, kerentanan akan penyakit dan tubuh pun semakin keropos.

Hipotesis-hipotesis semacam ini rupanya belum juga memuaskan, karena setiap manusia tentunya berharap usianya bisa lebih panjang lagi. Salah satu yang keras menyangkal adalah Dr. regelson, seorang Profesor dari Medical College of Virginia, Ia menyatakan bahwa penuaan bukan proses alam, “ Penuaan adalah penyakit, sehingga dapat disembuhkan,” tandasnya. Penemuan Dr. Regeison yang disebut Superhormones diasumsikan mampu meningkatkan harapan hidup seseorang.Alasannya sangat sederhana, saat kita beranjak tua, maka hormone semakin menipis, sehingga kita harus mengisinya kembali. Dalam bukunya “Superhomone Promise”, Dr. Regeison mengatakan bahwa “batas hidup manusia sekitar 120 tahun, karena orang tertua yang pernah ada bisa bertahan hingga 120 tahun. Dimasa mendatang, mungkin kita bisa meningkatkannya,dan kalau hanya 120 tahun, saya yakin saya mampu.”

Disamping Superhormon teman Dr. Regeison, sebuah penelitian yang diterbitakan oleh Journal of Neuroscience menemukan bahwa buah arbei mampu menangkal proses penuaan. Buah arbei mengandung zat kimia yang berfungsi sebagai antioksidan yang memampukan tubuh untuk melawan osksidasi, salah satu proses biologi yang menyebabkan orang mengalami penuaan. Para ilmuwan dari Universitas Tuft membuat percobaan pada tikus usia 19 bulan yang dikondisikannya kira-kira sama dengan manusia usia 65-75 tahun. Para tikus akan kehilangan kemampuan motoriknya di usia 12 bulan. Pada usia 19 bulan, maka kondisi tikus semakin lemah sampai kehilangan keseimbangannya. Namun setelah makan arbei setiap hari selama 8 minggu, tikus-tikus tersebut mampu hidup lebih lama. James Joseph, salah satu dari peneliti,berencana untuk memasukkan arbei ke dalam minuman dengan harapan mamapu menjaga sistem motorik seseorang yang membuatnya tetap kuat beraktifitas di usia tua.

Manusia2 di atas usia 100!
Mencapai usia 100 tahun menjadi hal yang sangat istimewa, apalagi kita kini hidup di tengah lingkungan alam yang semakin rusak dan penuh dengan kepenatan. Jeanne Calmet merupakan salah satu yang mampu mengukir sejarah usia tersebut. Manusia tertua di dunia menurut Guinnes Book of World record ini, meninggal pada usia 122 tahun, 5 bulan dan 14 hari. Mme. Calmet lahir pada 21 Februari 1987, ia mengalami pergantian 17 presiden Perancis dan sempat berkabung atas kemarian Tsar Nicholas III dan Ratu Vicoria. Kendati dirinya sudah buta dan pendengarannya sudah terganggu, Mme. Calmet masih bisa mengingat masa-masa ketika dirinya bertemu dengan Vincent Van Gogh seing membeli cat di toko ayahnya di Arles. Ingatannya tentang seniman itu tetap kuat. “Dia bukan orag yang menyenangkan. Tampilannya aneh dengan topi gembala yang udah butut. Kalau bicara, mulutnya berbau alkohol,” ungkap Mme. Cament.

Jika ditanya soal rahasia umur panjangnya. Mem. Calmet selalu mengatakan bahwa kuncinya sangat sederhana, yaitu serirng tertawa. Namun sang dokter yang merawat dirinya, mengatakan bahwa rahasia 100 tahu Mme. Calmet terletak apda kombinasi keturunan dan lingkungan, misalnya ayahnya bisa hidup sampai usia 86. Disamping itu, Mme.Calment rajin bersepeda hingga usia 100 tahun dan yang juga penting adalah kekuatan rasa percaya diri, seperti yang diungkapkannya, “Secara fisik, sistem tubuh saya sudah banyak yang rusak, tapi saya tahu bagaimana menghadapi hidup, itu saja. Saya hanya punya satu kerutan dan saya tetap berdiri di atasnya.”

Selain Jeanne Calment, sebenarnya masih ada beberapa manusia tertua lainnya.”

Selain Jeanne Calment, sebenarnya masih ada beberapa manusia tertua lainnya, namun mereka luput dari catatan karena tidak ada sertifikat kelahiran yang mampu membuktikan usia tuanya. Seorang antropolog Italia, Prof. Glovanni Perucci dari Universitas Chieti, dengan sangat yakin menyatakan telah menemukan seorang wanita yang kini berusia kurang lebih 150 tahun di Kenya bagian tengah. Wanita tua itu bernama Wangui, berasal dari Nairobi. Kini wangui, berasal dari suku Kikuyu dan tinggal 21 mil dari Nairobi. Kini Wangui sudah buta, dan menghabiskan waktunya hnya untuk berdoa. Beliau dikabarkan hanya makan buah-buahan dan sedikit sekali daging. Walaupun tidak ada dokumen yang membuktikan usianya, kalangan akademi menyatakan akan melacak kepastian usia Wangui dari keturunannya. Hal yang sama terjadi apda Binaryan Choodhary Madjhi yang meninggal pada usia 141 tahun di Khanar dan akan dikremasi dengan upacara Hindu. Dalam sebuah surat kabar Kathmandu di tahun 1996, Bapak Madjhi sempat mengatakan “Oh Tuhan, hidup ini terlalu lama, saya sudah etoh,” Bapak Madjhi sebenarnya bisa mematahkan rekor Jeanne Calment, tapi ia tidak memiliki sertifikat kelahiran.

Di masa mendatang akan banyak muncul di Jepang. Di tahun 1999 saja, terdapat 11.346 warga Jepang yang mencapai usia 100 tahun. Orang tertua di Jepang adalah Kamato Hongge dari Kagoshima yang kini berusia 112 tahun. Disamping itu, terdapat pasangan 100 tahun di Jepang yaitu Kuchi Yagoshi dan isterinya Hatsu, mereka telah menikah selama 81 tahun dan percaya bahwa kunci umur panjangnya terletak pada sikap hidup yang tidak ingin memaksa diri dan tidak membebani diri. Namun menurut Shiego Takahashi, kepala department riset dinamika populasi, diet yang relative sehat menyebabkan warga jepang dapat berusia panjang. Oleh karena banyaknya warga Jepang yang mencapai usia tua, maka sejak tahun 1963 muncul tradisi Hari Orang tua sebagai hari nasional. Biasanya saat itu, PM Jepang akan menyampaikan surat pribadi dan piala perak pada mereka yang merayakan ultah ke-100.

Leave a Reply

Close Menu