Lain bangsa lain cara

1999_Januari_Edisi 097_selip:
Lain bangsa lain cara

“Okauta”, teriak seorang pria dari suku Hereto, Afrika, saat bayi laki-lakinya lahir. Kata Okauta yang berarti tali panah kecil, telah menjadi bagian dari ritus kelahiran suku Hereto. Jika yang lahir perempuan, maka sang ayah akan meneriakkan “Okazeu”, artinya lampu. Di Rumania, terdapat kebiasaan untuk memandikan bayi yang baru lahir dengan air hangat agar hidupnya kelak dipenuhi keberuntungan. Di jepang, bayi yang masih merah harus dibawa ke kuil untuk dipersembahkan kepada Dewa dengan menyertakan rupa-rupa sesajian. Dan sebagian pelengkap persembahan itu, sang ayah kadang melakukan upacara menerbangkan layang-layang. Kesuksesan atau kesulitan yang dialami layang-layang tersebut dipercaya menjadi tanda-tanda kehidupan bagi si anak di masa mendatang.

Bagi kebanyakan bangsa, kelahiran seorang bayi selalu saja disertai ritus kelahiran termasuk di dalamnya pemberian nama, sebagai tanda bahwa dirinya mulai memasuki kehidupan sosial dan budaya komunitasnya. Lebih dari itu, nama juga dianggap sebagai simbol kekuatan yang kelak memampukan si bayi menghadapi berbagai gangguan dalam kehidupannya. Di beberapa masyarakat, gangguan awal yang harus dihadapi berasal dari roh jahat. Misalnya di Irlandia, seorang Ayah harus menemani bayinya selama beberapa malam, agar si bayi terlindung dari pengaruh roh jahat. Bahkan di Kalimantan, ketakutan pada gangguan roh jahat menyebabkan si bayi tidak diberikan nama sampai usia 1 tahun. Kalau setelah memperoleh nama, sang bayi mengalami sakit-sakitan atau sial, maka keluarganya tidak ragu mengganti nama anaknya untuk mengusir roh jahat.

Selain mempertimbangkan alam gaib, pemberiam nama juga didasarkan pada status sosial orang tua. Pada suku bangsa Jawa, masyarakatnya dibagi dalam hirarki kaum bangsawan dan kawula [rakyat kebanyakan] yang bisa dibedakan dari namanya. Nama bangsawan Jawa biasanya mengacu pada bunga-bungaan (memakai kata “kusuma”) atau ke alam rayaan (dengan memakai akhiran “rat”, sebagai contoh Jaya Kusuma, Suryodiningrat. Pemberian nama pada orang kebanyakan atau kawula biasanya hanya sekedar tanda yang mengingatkan hari lahirnya. Misalnya nama Wagiman berarti lahir di pasaran Wage, Poniman di pasaran Pon, maupun Legito di hari Legi. Namun nama-nama orang Jawa juga mempunyai makna simbolis yang unik terutama untuk nama perempuan. Umumnya nama perempuan Jawa diucapkan dengan akhiran mulut tertutup atau mingkem, seperti nama Juminem, Marsiyem, atau Tuginem. Hal ini, menurut Damardjati Supadjar, merupakan simbol bahwa wanita Jawa dilarang membuka mulut, tidak banyak ngomong dan diharapkan lebih santun. Sebaliknya nama laki-laki biasanya diakhiri dengan mulut terbuka atau ngelegowo, seperti Sumarno, Tukijo, Darmo. Secara simbolis perkataan ini menunjukkan kepolosan, jujur transparan. Sederet ritus pemberian nama ini menunjukkan betapa luasnya pemaknaan setiap bangsa menghadapi salah satu tahap kehidupan yang paling awal.

Leave a Reply

Close Menu