Kotagede

2000_Agustus_Edisi 115_revital:
Kotagede
Joni Faizal/Ade Tanesia/Rohman Yuliawan

Kalau tahu, kotaku sebuah kota kecil dan kuno. Suasana paguyuban masih terasa. Sebuah persoalan kecil akan menjadi bahan pembicaraan yang luas di seluruh kota.

Letaknya hanya 6 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Namun nafas kawasan Kotagede sungguh khas. Seorang teman pernah berujar bahwa memasuki Kotagede seakan larut dalam dunia lain..” seperti bukan di Yogya,” begitu kesannya. Kawasan tua ini memang unik, sisa peninggalan masa Hindu terasa dan pengaruh Islam masih sangat terasa pada pola tata ruang kota, bangunan fisik pada pola kehidupan sosial-budaya masyarakat. Bekas pusat Kerajaan Mataram Kuno yang didirikan tahun 1586 ini telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan cagar budaya. Namun revitalisasi kawasan cagar budaya. Namun revitalisasi kawasan Kotagede tidak hanya berhenti di atas kertas SK Gubernur DIY. Para arsitek UGM yang tergabung dalam Yogyakarta Heritage Society sangat peduli terhadap seluruh peninggalan budaya Kotagede. Lebih dari itu, warga masyarakatnya sungguh peduli dan mencintai Kotagede. Misalnya muncul kumpulan cerpen bertajuk “Rambling Through Kotagede”. Tidak ketinggalan Yayasan Kanthil yang mengelola festival Kotagede 2000 dengan melibatkan segenap anggota masyarakatnya. Bahkan seorang pengusaha rela mengeluarkan biaya untuk memugar rumah peninggalan leluhurnya. Jika selama ini konservasi dan revitalisasi kawasan bersejarah di Indonesia lebih banyak menemui hambatan daripada keberhasilan, maka Kotagede sebuah perkecualian. Kawasan ini bisa menjadi pilot project bagaimana telah tumbuh kesadaran dari masyarakat untuk memelihara warisan budayanya.

Pemugaran Rumah Kalang
Tidak banyak rumah tua yang tetap dilestaraikan oleh keluarganya secara turun temurun. Namun kesadaran untuk mengkonservasi rumah peninggalan keluarga terjadi di Kotagede. Salah satunya adalah pengusaha keturuann “orang Kalang” bernama bapak H.Suyatin. Secara khusus beliau meminta Ir. Adi Utomo Hatmoko seorang arsitek dari UGM yang gigih memperkenalkan konservasi untuk memugar rumahnya yang sarat nilai sejarah. Dikeluarkan dana lebih dari 1 milyar untuk memugar rumah besar yang penuh dengan stilir yang berlebihan, Pak Adi mengisahkan bahwa orang Kalang memiliki kecenderungan untuk memamerkan kelebihan mereka dalam hal material, diantaranya dengan membangun rumah megah, hiasan berlebihan serta selalu mengikuti model rumah terbaru. Gaya yang sedang marak saat itu adalah bangunan gaya eropa. Kini setelah direnovasi, rumah tersebut dijadikan show room kerajinan perak dengan nama Ansor Silver.

Bicara tentang kekayaan orang Kalang di Kotagede meka ada cerita sejarah menarik mengenai kelompok ini. Menurut Bapak Achmad Charris Zubair yang mengacu pada cerita versi Kotagede, orang Kalang berasal dari Bali yang awalnya dibawa Kerajaan Mataram untuk menjadi arsitektur Kerajaan. Namun dalam perkembangannya, Sultan Agung, penguasa Mataram 1613-1945, sengaja mengurung orang-orang Kalang tersebut karena mereka dianggap sebagai kelompok yang potensial mengganggu ketentraman kerajaan. Tapi seperti akar rumput, mereka tak mudah dienyahkan. Justru dengan “tersingkir” mereka membangun dirinya dengan modal ketekunan dak kerja keras yang melahirkan industry emas, berlian, perak, ukir, batik, hingga sektor transportasi. Walhasil, mereka pun menjadi “konglomerat” pada jamannya dengan gaya hidup mewah, termasuk rumah tinggal megah dengan perpaduan gaya arsitek Jawa, Eropa dan Cina.

“Rambilang Through Kotagede” (Tlusup-Tlusup Ing Kotagede)
Kalau selama ini paket wisata Kotagede hanya berhenti di kawasan industri perak, maka Bapak Achmad Charris Zubair, pria asli Kotagede ini mengembangkan wisata alternative, yaitu berjalan-jalan ke perkampungan Kotagede. Dalam lintasan perjalanannya diperlihatkan tata lama Kotagede, arsitektur joglo, rumah kalang, dan juga makanan serta kesenian rakyat. “Awalnya kita mendirikan Yayasan Pusdok yang mengumpulkan berbagai macam dokumentasi tentang Kotagede. Setelah itu rasanya sayang jika dokumentasi ini tidak disebarluaskan. Akhirnya kita pilih wisata minat khusus dimana wisatawan harus menghargai adat istiadat di Kotagede” ujar pria yang juga mengajar di Fakultas Filsafat UGM. Dengan jenis wisata inilah Bapak Achmad Charris Zubair ingin merevitalisasi Kotagede. Konon setelah kawasan ini ditinggalkan oleh Sultan Agung yang memindahkan pusat kerajaannya ke Plered. Kotagede berubah dari kota administrative kerajaan menjadi kota perdagangan yang mencapai puncak keemasannya di tahun 1930-an. Kalau dunia saat itu sedang mengalami depresi, maka masyarakat. Kotagede justru sangat makmur. Namun dalam perkembangannya terjadi kemerosotan dengan adanya perubahan sosial, juga krisis di segi ekonomi. Kesadaran akan kekayaan budaya Kotagedepun surut, misalnya banyak warga yang sempat merasa malu tinggal di rumah joglo. Berdasarkan gejala inilah maka Pak Achmad Charris Zubair memutuskan bahwa langkah revitalisasi mutlak disosilisasikan pada masyarakat. Perlahan-lahan beliau melakukan pendekatan dengan penduduk. Dengan adanya paket wisata ini, Pak Achmad juga memperhatikan perekonomian penduduk, misalnya memberikan fee kepada RW atau rumah yang dikunjungi, mengarahkan wisatawan untuk mengunjungi Industri perak di pelosok kampong, juga mendidik warga Kotagede untuk menjadi pemandu wisata. Prinsipnya masyarakat harus memperoleh manfaat dari program wisata ini, tidak hanya menjadi penonton.

Wisata ini sudah dikemas dalam program perjalanan berdasarkan jumlah rute. Rute-rute tersebut dirancang dengan pilihan 4-12 obyek. Biaya teragantung pada jumlah wisatawan dan pilihan rute, misalnya untuk rute 4 obyek, rombongan berjumlah 21 orang ke atas harus membayar Rp. 12.000 per orangnya. Jika hanya satu orang, maka harus mengeluarkan biaya Rp. 69.000,-. Paling mahal adalah rute 12 obyek seharga Rp. 150.000,- untuk satu orang, dan jika terdiri atas 21 orang ke atas dikenakan biaya sebesar Rp. 90.000,- per orang. Dalam paket tersebut juga disediakan tawaran untuk menikmati makanan tradisional seperti yangko, sate karang, sate pojok pasar, sate jaran, sate gedhongan. Dengan menambah sedikit biaya, wisatawan juga bisa menikmati kesenian rakyat seperti siteran, mocopat, slawatan, keroncang, tari Jawa, srandul, wayang Tingklung. “Hampir setiap bulan kita kedatangan tamu. Kita juga bekerjasama dengan Pacto,” lanjutnya. Pada tanggal 17 Juli lalu. [aikon!] pun diajak untuk menikmati paket Rambling through Kotagede ini ada kunjungan dari Forum Persaudaraan Antar Umat Beriman yang terdiri dari berbagai bangsa. Rombongan ini mengunjungi obyek-obyek religi di Kotagede. “Pelan-pelan, seluruh masyarakat lebih aktif memelihara potensi Kotagede. Lihat saja festival Kotagede di akhir Agustus nanti, seluruh lapisan masyarakat seperti berpesta. Atas biaya sendiri, mereka mendirikan panggung-panggung dan mengeluarkan segala jenis keseniannya. Festival ini memang baru diadakan dua kali,” ungkap pak Achmad. Andai setiap kawasan bersejarah di Indonesia bisa sehidup Kotagede, maka negeri ini tentunya akan semakin menarik.

Leave a Reply

Close Menu