Komedi : Pada mulanya

1998_Maret_Edisi 088_bahas:
Komedi : Pada mulanya

Aristoteles mengatakan, “komedi telah mengurangi kepedihan manusia dengan cara tertawa”. Ini pertunjukan komedi adalah lucu, sehingga komedi harus mendahului berbagai realita yang kadang lebih lucu dan tidak masuk akal. Dalam perkembangannya, komedi kerap merujuk pada beberapa karakter tertentu, misalnya orang pilon, bodoh, penakut, pelit, jenaka, dan penipu yang mengganggu norma-norma sosial. Sigmund Freud dalam bukunya Jokes and Their Relationship to the Unconscious menyatakan bahwa humor merupakan bentuk kepuasan kanak-kanak yang mengacaukan dunia orang dewasa dan juga menjadi saluran bagi kebutuhan seks bawah sadar. Beberapa filsuf pun mnencoba menerangkan fenomena komedi dalam kehidupan manusia, karena pada kenyataanya komedi merupakan bentuk pertunjukkan kuno yang ada di segala jaman. Bentuknya pun semakin beragam, mulai dari pertunjukan yang lengkap sampai monolog.

Asal usul komedi dapat ditelusuri dari sebuah drama untuk memuja dewa Dionisius, di Yunani. Komedi Yunani Kuno tetap bertahan dengan permainan satir Aristophanes. Dalam cerita Lysistrata, para wanita mengadakan protes dengan cara mogok berhubungan seks dengan suami mereka demi menentang perang antara Athena dan Sparta. Cerita komedi tentang terance dan Palutus, telah menjadi model baru bagi Yunani yang mengisahkan tentang usaha sepasang remaja yang jatuh cinta untuk menghadapi halangan dari ayahnya atau seorang yang kaya dan korup.

Selama abad pertengahan, komedi hilang dari peredaran meskipun muncul berbagai pertunjukan yang memiliki adegan komikal. Di masa Renaisans, Commedia dell’Arte dari Italia telah populer. Aktor-aktornya menggunakan topeng untuk berimprovisasi adegan slapstick. Bentuk komedi ini seperti teater jalanan yang sering muncul di pasar. Pembawaannya penuh improvisasi, seperti memunculkan tokoh bos pembual, bandot lelaki tua, pemuda ganteng sebagai pahlawan dan lain-lain. Para pemainnya dilatih pantomime, akrobatik dan mempelajari dialek Italia klasik untuk digunakan di dalam monolog. Walaupun beberapa dialog sudah menjadi pakem, tetapi kebanyakan yang muncul di panggung adalah improvisasi. Misalnya alur dipotong oleh tingkah jenaka.

Kemungkinan besar asal muasal dari Commedia dell’Arte adalah sandiwara jenaka Romawi, hanya saja commedia dell’Arte terasa lebih bebas, satir, terutama saat membawakan persoalan kelas sosial dan kemunafikan. Pengaruh commedia dell’Arte bisa ditemukan dalam drama Marivaux, Moliere, Shakespeare, dan Lope de Vega. Dan gaya Commedia ini masih dapat kita nikmati melalui komedi Charlie Chaplin, Marcel Marceau,  Punch and Judy Show dan Theatre du Soleil.

Komedi abad 19 dan 20 telah melenceng dari pola dominan atau pakem, seperti yang terlihat pada karya Oscar Wilde, The Importance of  Being Earnest, sebuah komedi satir tentang kelas menengah yang menceritakan sang pahlawan terjatuh karena kepuasan dirinya sendiri. Selanjutanya, di tangan Samuel Becket, komedi bahkan dikombinasikan dengan tragedi melalui karya besarnya berjudul Waiting for Godot.

 

Leave a Reply

Close Menu