Komedi : Di balik Layar Dagelan Mataram Baru

1998_Maret_Edisi 088_bahas:
Komedi : Di balik Layar Dagelan Mataram Baru

Pengulangan ! Penjiplakan ! adalah persoalan yang kerap terlontar dalam dunia lawak di Indonesia. Berbagai pihak menilai lawak Indonesia terjebak pada lelucon banyolan badut-badutan, konyol-konyolan tanpa menyisakan sebuah renungan bagi penontonnya.

Sebuah kelompok lawak Yogyakarta, yang menyebut dirinya Dagelan Mataram Baru, sangat peduli akan persoalan ini dan tidak ingin terbenam dalam kondisi serupa. Hal ini sudah dibuktikannya melalui beberapa pementasan mereka seperti Gendul, Gelas Peyek, Obah Mamah Nyikut Nggraul. Bagaimana mereka mengolah kreatifitas lawaknya, Bondan Nusantara, Penulis naskah plus sutradara Dagelan Mataram Baru memaparkan resep kelompoknya.

Dagelan Mataram Baru muncul sejak tahun 1996. Formatnya adalah tontonan segar dan sehat yang masih berpijak kuat pada kekuatan lokal dan tradisi. Hal ini bisa dilihat dari pemakaian perangkat gamelan sebagai iringan musik, pemakaian kostum Jawa dan Bahasa Indonesia dalam dialek Yogyakarta. Dan yang terpenting Dagelan Mataram Baru tetap mengambil esensi Dagelan Mataram yang lahir dari abdi dalem Keraton Yogyakarta.

Menurut Bondan Nusantara, Keraton Yogyakarta memiliki abdi dalem “oceh-oceh” yang bertugas untuk melucu dan menyampaikan krtitik terhadap mereka. Para abdi dalem ini menyuarakan orang kecil dengan lugas dan kocak di hadapan Sultan. Sekitar tahun 1943, para abdi dalem “oceh-oceh: membentuk kelompok di luar keratin dan memunculkan tokoh Basiyo, seorang pelawak ternama Yogyakarta. Gaya lawakan kelompok ini akhirnya terkenal dengan Dagelan Mataram, sebuah lawak khas Yogyakarta.

Isi Dagelan Mataram selalu sarat akan kritik sosial. Karena sifatnya yang kontekstual, Dagelan Mataram dipercaya tak akan terjebak dalam pengulangan.

“Untuk menghindari pengulangan, kami selalu mementingkan  cerita, ungkap Bondan Nusantara. Maka di setiap pementasannya, langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan sebuah tema besar yang sedang aktual di masyarakat. Langkah berikutnya disusun cerita yang mempertimbangkan segmentasi penonton, baru kemudian dituangkan dalam naskah. Bagi Dagelan Mataram Baru unsur cerita sangat penting, karena menjadi kerangka untuk menghindari terjadinya pengulangan.

Setelah naskah selesai, proses selanjutanya adalah latihan yang didalamnya terdapat diskusi antar pemain untuk menuntaskan sebuah topik cerita. Menjelang pementasan, mereka latihan minimal 5 kali sampai menemui kematangannya .

Lain dengan kelompok lawak pada umumnya, di Dagelan Mataram Baru, improvisasi pemain pun sudah diantisipasi dalam latihan. Bondan Nusantara biasanya akan memberikan peran, kemudian meminta pemain untuk mengembangkan aspek lucu dari setiap peran tersebut. Dengan sistem seperti ini, peran sutradara memang menjadi sangat besar, karena dia yang memegang kendali pementasan.

Tak hanya berkutat pada cerita, untuk bisa tampil menarik di pentas, kelompok ini pun memperhatikan segmentasi penonton yang akan hadir dalam pertunjukannya. Karena itu, pentas untuk pembukaan toko tentu saja harus berbeda dengan penampilan di Purna Budaya yang biasa dihadiri oleh mahasiswa. Untuk lebih sederhananya, Dagelan Mataram Baru memilah antara pertunjukan tunggal di panggung dan hiburan rakyat. Untuk hiburan rakyat, mereka melonggarkan terjadinya pengulangan momennya masih dianggap pas. Lain lagi kalau main di Hotel Garuda, salah satu hotel ternama di Yogyakarta, yang biasa dihadiri masyarakat kelas menengah ke atas, cerita yang akan mereka sampaikan mungkin bukan soal penderitaan orang lain, kemiskinan, melainkan soal Michael Jackson, atau kaum selebritis yang sedang populer.

Dalam pentasnya, Dagelan Mataram Baru juga memakai sistem babakan yang biasanya dibagi dalam empat babak selama lebih kurang 90 menit di setiap pertunjukannya. Cerita tetap digarap dengan alur yang memperhatikan klimakas dan anti klimaks. Hanya di akhir cerita, kelompok ini tidak selalu terpaku pada kemenangan pihak lain, tapi bebas menyorot berbagai sisi dari pihak jahat maupun baik. Dengan penutup adegan yang terbuka ini, mereka ingin meninggalkan perenungan bagi penonton tanpa menghakimi. Melalui segala cara menyampaikan pesa seperti itu, target Dagelan Mataram Baru memang bukan membuat penonton terbahak-bahak, tapi cukup tersenyum dan memahami pesan-pesan yang disajikan.

Demi menghindari kemandulan kreativitas, Dagelan Mataram Baru tidak ingin merambah pemunculan di layar televisi swasta. Belajar dari kelompok lawak lainnya, Bondan Nusantara beranggapan televisi seringkali menjebak pelawak pada kelompok yang naif. “Kami ingin menguatkan akar di Yogya, menjadi tontonan menarik bagi masyarakat perkotaan Yogya, “tegas Bondan.

 

Leave a Reply

Close Menu