Kisah Bemo #2: Dari Jepang hingga ke Tanah-Abang

oleh:Arief Adityawan

Bemo teronggok
Di rumah itu terlihat sebuah Bemo biru berdebu. Di dalamnya tertumpuk segala macam barang. Mulai dari kandang ayam dari bambu, hingga gentong, kayu, dan sebagainya. Kondisi Bemo itu rusak berat, karena banyak onderdilnya sudah di ‘kanibal’ untuk bemo lain, yang berwarna kuning. Pemilik kedua Bemo itu bernama Bakri bin Naim, almarhum. Beliau, memiliki dua bemo sendiri, dan mengoperasikan dua lagi bemo titipan orang lain. Selain urusan Bemo, beliau juga adalah guru Silat Betawi.

Dahulu, Menteng adalah daerah operasi Bemo. Mulai dari pasar Boplo, di bilangan jalan Latuharhary, ke arah Sarinah, SMA Kanisius, dan sekitarnya. Bahkan Bemo pernah mengantar belanjaan sayur-mayur ke Istana Negara. Lucunya, ketika sistem pengapian bemo bermasalah, sehingga mengeluarkan bunyi letusan (nembak), membuat pasukan keamanan panik. Menurut cerita Riyanto, putra bungsu pak Bakri kelahiran 1967, sesudah peristiwa itu, Bemo tak boleh lagi masuk istana. Saat Riyanto masih duduk di Sekolah Dasar kelas satu, dia sering diajak sang ayah menarik Bemo pada saat libur sekolah.

Pada saat ayahnya ada, perawatan kedua Bemo sangat apik. Sehabis beroperasi, pengemudi-pengemudi Bemo yang bekerja pada pak Bakri harus mencuci dan merawatnya dengan baik. Namun setelah pak Bakri wafat pada 1988, perlahan-lahan mulailah kedua Bemo sering rusak. Kini kedua Bemo diwarisi pada kedua putranya Riyanto dan kakaknya, Anto. Menurut Riyanto, kakaknyalah yang lebih memahami seluk-beluk dan bertanggung-jawab atas pengurusan Bemo itu.

Bemo kini
Ketika ijin operasi Bemo di bilangan Menteng dicabut, maka pak Bakri merintis pangkalan Bemo di Pasar Bendungan Hilir. Menurut data, Daerah Khusus Ibukota Jakarta mulai meminggirkan Bemo sekitar tahun 1971. Jalur Bemo dari Bendungan Hilir awalnya mencapai pasar Tanah Abang. Namun ketika jalur pasar Tanah Abang semakin macet maka, jalur Bendungan Hilir – Tanah Abang pun dibagi dua. Jalur pertama adalah jalur Bendungan Hilir hingga sekitar Perusahaan Air Minum (PAM) DKI. Jalur kedua, dari sekitar daerah Karet-Sudirman hingga pasar Tanah-Abang. Kini, Bemo menjadi salah-satu kendaraan yang akrab bagi siswa sekolah-sekolah di sekitar Bendungan Hilir, Pejompongan, dan Karet. Selain akrab bagi ibu-ibu yang berbelanja ke pasar, atau para karyawan yang tak memiliki motor/mobil. Menurut informasi seorang pengemudi Bemo, satu faktor yang mengurangi jumlah penumpang, adalah semakin banyaknya orang memiliki sepeda motor.

Menurut informasi, dua tahun lagi (tahun 2013?) keberadaan bemo akan dihapus. Namun hal itu masih pada taraf rencana. Para pengemudi Bemo konon sering berkumpul bersama pihak Pemerintah Daerah untuk membicarakan hal tersebut. Salah satu pengemudi Bemo pernah berkata, bahwa bila diijinkan terus beroperasi, Bemo tidak akan punah. Hal ini karena secara teknis perawatan Bemo relatif mudah. Onderdilnya pun mudah didapat. Hanya saja karburator Bemo yang sulit, jelas Riyanto. Saat ini di Jakarta, selain daerah Bendungan Hilir dan Tanah Abang, Bemo masih dapat ditemui juga di daerah seputaran Grogol. Konon sebagian Bemo di Jakarta justru merupakan buangan dari daerah lain di luar Jakarta, yang lebih dahulu menghapus Bemo, seperti misalnya kota Surabaya dan Malang, yang menggusur Bemo di 1971.

Sejarah Produksi
Bemo, singkatan dari becak-motor, adalah kendaraan niaga keluaran pabrik Daihatsu. Di negeri asalnya Daihatsu jenis Trimobile atau Midget ini berbentuk pick-up, dan hanya diperuntukkan sebagai kendaraan pengangkut barang. Daihatsu Midget jenis DK pertama kali diproduksi tahun 1957. Kemudinya masih berbentuk stang motor/ skuter, dengan posisi duduk pengemudi mirip sepeda motor. Mesinnya 2 langkah, berkapasitas 250 cc. Nampaknya bila dilihat dari bentuknya, jenis inilah yang kemudian ditiru oleh perusahaan India, untuk menghasilkan kendaraan angkutan beroda-tiga yang kini banyak ditemui di Jakarta dengan sebutan Bajaj.

Pada tahun 1959 Daihatsu mengeluarkan Midget jenis MP, yang telah menggunakan kemudi bundar. Mesin yang digunakan adalah mesin satu silinder, berkapasitas 305 cc, dan mampu menghasilkan tenaga 12 tenaga kuda. Dengan bensin campur, maka salah-satu kelemahan Bemo ini adalah polusi udara yang dihasilkan. Tahun 1960 Daihatsu mengeluarkan mesin jenis MP4. Nampaknya jenis inilah yang banyak masuk ke Indonesia tahun 1961-1962 menjelang pesta olah raga Ganefo. Bisa jadi Soekarno berharap dengan mengimpor Daihatsu Midget maka kendaraan tradisional seperti Becak akan hilang, sehingga citra jakarta sebagai ibu kota tampak lebih mentereng. Tahun 1963, Daihatsu memproduksi Midget tipe MP5. Tipe ini memiliki mesin yang lebih baik, karena tidak lagi memakai bensin campur. Bemo jenis ini konon masih diproduksi di Thailand hingga kini. Setelah memproduksi lebih dari 300 ribu unit Daihatsu Midget, tahun 1972 Pabrik Daihatsu menghentikan produksi kendaraan niaga kecil ini.

Sumber:
http://www.asal-usul.com/2009/06/sejarah-bemo.html
Bemo Sayang, Bemo yang Malang
http://www.enotes.com/topic/Daihatsu_Midget
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150264593740150#!/note.php?note_id=10150264593740150

4 thoughts on “Kisah Bemo #2: Dari Jepang hingga ke Tanah-Abang”

  1. terima kasih Oyo.
    kami sedang uji coba solusi alternatif untuk keberlanjutan bemo-bemo di Jakarta.
    sila intip biobemo.tumblr.com

  2. Iya Anggara, konon masih ada sekitar 45 bemo di Manggarai, ya?
    si aikon sedang eksperimen bemo tenaga listrik..
    sila intip biobemo.tumblr.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *