kimono

1997_awal Mei_Edisi 068_inap:
kimono

Sebelum Menjadi Gaun Tidur:

Sangat sulit menemukan potongan pakaian sesederhana kimono, yang karenannya menjadi sangat praktis dan nyaman digunkan untuk tidur. Tentu saja ada proses panjang sehingga pakaian tradisional Jepang ini menjadi potongan untuk pakaian tidur.

Kimono untuk pertama kalinya diperkenalkan ke Benua Eropa pada akhir abad ke-19. Sebelum menjadi referensi para pemenang buasana, potongan, desain, gaya dan simbolisme dari pakaian Negeri Sakura ini lebih dahulu menjadi inspirasi bagi beberapa pelukis antaranya Toulouse Lautaec, yang kemudian mengangkatnya sebagai sumber rancangan bagi industry garmennya.

Sejak itu, hingga awal abad ke-20, potongan kimono menjadi sangat populer. Mulai dari baju untuk minum teh sampai baju tidur dibuat berdasarkan polanya. Bahkan, pada tahun ’30-an, kostum para bintang holywood banyak yang berpotongan kimono.

Kimono mungkin digemari karena kesederhanaannya, namun jika kembali ke negeri asalnya, Jepang, kimono bukanlah sekedar penutup tubuh…ada sejarah panjang yang menyertai keberadaannya.

Dari Periode Nara Sampai restorasi Meiji

Pakaian khas bangsa Jepang yang sangat dekat dengan keseharian ini, ternyata memiliki sejarah panjang. Melacak sejarah kimono dapat dicermati melalui berbagai periode penguasa yang pernah bertahta di Jepang.

Dimulai dari periode Nara (646-794) yang secara ketat membedakan berbagai golongan dalam masyarakat Jepang.

Pada masa itu, kimono merupakan salah satu atribut yang membedakan satu dengan golongan lainnya. Saat itu, kimono Jepang masih sangat terpengaruh oleh cara berpakaian orang Cina. Misalnya kimono yang digunakan raja Shotoku berjubah panjang yang kedua sisinya memiliki celah, berkerah tinggi. Jubah ini menutupi pantaloon. Sedangkan wanita dari golongan bangsawan mengenakan jubah panjang dengan lengan lebih pendek.

Pria dari golongan rakyat jelata memakai kimono longgar dengan kerah ketat dengan lengan rapat. Lalu kimononya diikat dengan tali pinggang dan masih ditambah celana panjang untuk mempermudah gerak pada saat sedang bekerja.

Di tahun 794, periode kekuasaan Nara beralih ke masa Helan-Kyo.
pada periode ini, Jepang sangat bersemangat untuk menggali bentuk artistiknya sendiri. Pencarian ini paling nampak dalam evolusi desain tekstil dan gaya berpakaian diseluruh tingkat masyarakat. Para bangsawan mengenakan Sokutai yaitu jubah kimono yang sangat panjang, hingga untaiannya menyentuh tanah. Legendanya (osede) sangat lebar dan ujungnya dibiarkan terjuntai. Untuk menghadiri upacara-upacra resmi, para wanita bangsawan Heian mengenakan beberapa tumpuk kimono. Setiap lapisan kimono dipadukan sedemikian rupa hingga terlihat kontras dan menarik. Kimono dipadukan sedemikian rupa hingga terihat kontras dan menarik. Kimono ini disebut juhi-hitoe yang berarti 12 lapisan, walaupun dalam kenyataannya lapisannya bisa lebih atau kurang dari 12. Dalam kesempatan yang lebih santai, para bangsawan mengenakan Noshi. Bentuknya mirip dengan Soukal tetapi berbagai ornamen dihilangkan untuk memberikan kebebasan bagi gerak tubuh, Jika hendak berburu maka dikenakan keriginu. Adapun kimono yang lebih pendek namun tidak seformal kariginu adalah Suikan. Suikan dipakai oleh masyarakat kelas bawah sebagai pakaian formal. Kadang dikenakan untuk melayani para bangsawan. Dan samapi akhir periode Helan, Suikan telah berubah menjadi pakaian upacara para prajurit.

Periode Heian mengalami keruntuhannya pada tahun 1185 dan dimulailah periode Kamkura (1185-1333).
Gaya kimono di periode ini, menggunakan materi mewah yang kurang praktis, kurang tepat bagi pria dan wanita dari kaum samurai. Untuk sehari-harinya para prajurit mengenakan hititare. Pakaian ini mengambil bentuk dari pakaian kerja para petani dan desainnya meluaskan gerak tubuh. Di kesempatan upacara dikenakan yoroi hitatare dengan lengan yang tidak terlalu panjang dan pantaloon pendek berarti lengan kecil. Memang ujung lengannya kecil dan tetap terbuka. Bentuk kosode inilah merupakan awal dari kimono modern.

Kimono mengalami perubahana bentuk yang sangat drastis pada periode Edo (Edo merupakan nama lama dari kota Tokyo) tahun 1603-1668.
Saat itu, bentuk kimono kosode banyak dikenakan oleh para aktor kabuki. Lehidupan kota menjadi semakin semarak dan terbentuklah masyarakat kota yan lepas dari tradisi samurai sehingga bentuk kimono snagat mungkin unutk mengalami berbagai eksperimen. Pemakaian kimono atas dasar kelas sosial pun mulai pudar, para wanita di segala lapisan dapat mengenakan kimono yang sama, misalnya kimono Uchikake tidak hanya dikenakan oleh wanita bangsawan.

Pada periode Meljl (1868-1912), Jepang mengalami banyak perubahan yang juga dikenal dengan restorasi Meljl.
Pakaian barat mulai masuk sebagai mode, sehingga tidak jarang seorang wanita memakai kimono dengan sepatu berhak tinggi. Dalam perkembangannya, kimono masih tetap dipakai dalam acara internasional, sebagai lambang kebanggaan identitas nasional bangsa Jepang. Bentuk kimono pun telah menjadi inspirasi bagi seniman ternama seperti Toulouse Lautrec, Mucha dan Klimt.

Sumber:
Yamanaka, Norio, 1986, The Book Of Kimono, Kodansha Internasional, Tokyo.
O’ Hara, Georgina, 1986, Encyclopedia Of fashion, Thames and Hudson, London.

Leave a Reply

Close Menu