Ki SuKasMan dan Wayang Ukurnya

1997_mula Januari_Edisi 060_kenal:
Ki SuKasMan dan Wayang Ukurnya

Mengapa wayang bentuknya kurus-kurus? Dari pertanyaan yang sangat sederhana ini, Sukasman menemukan rahasia keanehan bentuk wayang

Jawaban-jawaban atas pertanyaan bukan datang begitu saja, melainkan hasil dari ketekunannya di seni wayang selama 40 tahun. Kini, di usia 60 tahun dengan rambut yang sudah memutih ia tetap bersemangat jika diajak bicara soal wayang. Bak seorang guru, Pak Kasman, begitu biasanya Ki Sukarman dipanggil, menunggu kelengkapan kehadiran tamunya, baru kemudian ia memberikan penjelasan dengan sangat detil berikut contoh-contoh gambar wayang. Pengetahuan tentang anatomi wayang adalah bekal utamanya untuk mengembangkan bentuk wayang baru yaitu wayang ukur.

“Dunia wayang itu telah ditinggalkan sendirian, bahkan pelukis wayang pun banyak yang mengalihkan perhatian ke dunia seni rupa ala Barat, kalau saya jutru mengakrabinya. Selain karena saya dibesarkan dalam bidang wayang, juga karena merasa kasihan. Seni sendiri kok dikesampingkan. Dan setelah saya mendapat kesempatan ke Amerika, dalam rangka ExPo, rasa kasihan berkembang menjadi rasa malu. Ternyata di negeri termaju ini, seni modern tidak terlalu dimanja, dari saat itu saya membuat percobaan secara lebih sungguh-sungguh,” ujarnya.

Katertarikan Pak Kasman pada wayang bukan tanpa alasan, karena sejak kecil ia sudah terbiasa merawat koleksi wayang kertas milik ayahnya. Lalu pada tahun 1957, Pak Kasman masuk ke ASRi dengan harapan bisa memperdalam seni wayang. Namun ternyata di sana tidak ada studi wayang, sehingga ia masuk ke jurusan dekorasi dan reklame. Tapi itu tidak mengendurkan keinginannya untuk memperlajari wayang, buktinya pada tahun 1960 ia mengikuti kursus Sungging di Keraton. Dalam proses belajarnya, Pak Kasman mendapat kesempatan melanglang buana ke New York dan Van Couver untuk mengikuti ExPo. Sepulang dari mancanegara, ia semakin aktif untuk mencari jawaban atas keanehan anatomi wayang dengan teori seni rupa Barat. ia melihat bahwa yang kurus itu lebih Nampak jelas dari kejauhan, dan garis dalam anatomi wayang merupakan deformasi dari bentuk masnusia yang dilakuakn sangat berani dan logis. Misalnya mengapa tangan wayang lebih panjang dari tangan manusia? Atau, mengapa kepala wayang sangat condong ke depan, hidungnya sangat panjang dibanding anatomi manusia? Deformasi secara kontras ini ternyata memang perlu dilakukan agar sosok wayang Nampak jelas dari kejauhan dengan efek bayangan di balik layar. Pertimbangan-pertimbangan logis inilah yang membuat Pak Kasman sampai pada kesimpulan bahwa wayang sudah lebih modern daripada seni modern sekarang.

Sampai saat ini deformasi bentuk wayang pun masih dapat diteruskan, seperti yang telah dilakukan oleh Pak Kasman. Tetapi menemukan bentuk wayang ukur, paling tidak ia harus membuat percobaan gambar ratusan kali dalam waktu 30 tahun.

“itupun masih terasa wayang Jogjanya, karena sebenarnya saya mempelajari wayang Jogja dan Solo dan ingin membuat bentuk diantaranya” ungkapnya dengan serius.

Salah satu bentuk wayang ukurnya adalah perut semar yang lebih gendut, telapak tangan diperbesar agar kareakter kuat lebih Nampak. Selain itu Ia juga membuat wayang wanita yang lebih realis yaitu wanita berpakaian kebaya, bersanggul.

Lalu mengapa disebut wayang ukur?

“Waktu itu saya ditegur Pak Budiarjo…katanya wayang kamu harus punya nama, dengan spontan saya teringat proses kerja saya dan keluarnya wayang ukur. Dan ada pepatah yang mengatakan tanpa pengukuran tidak akan terjadi seni, paparnya.

Tidak hanya eksperimen pada bentuk wayang, Pak Kasman pun melakukan eksperimen dalam pertunjukan wayang. Di belakang layar terdapat lampu sorot berwarna merah, kuning, hijau, biru, dll. Dengan warna lampu yang beragam ini, pertunjukan wayang menajdi sangat berbeda, hampir seperti melihat slide atau foto yang indah.

“Tetapi usaha ini juga ditentang oleh para pecinta wayang klasik, ada seorang dalang terkenal yang mengatakan blencong itu’kan lambang matahari, bagaimana bisa matahari jumlahnya banyak”, ungkap Pak Kasman.

Kendati demikian ia terus berjalan dengan eksperimen-eksperimennya. Ia menggunakan penari di belakang layar atau membuat pertunjukan wayang yang sangat besar sehingga diperlukan dua sampai tiga dalang.

Sampai saat ini, Pak Kasman masih ingin membuat kolaborasi besar-besaran antara beberapa bidang kesenian. Ia ingin membuat museum wayang yang juga di dalamnya terdapat laboratorium.

“Di dunia ini ada 4 hal yang penting, Ilmu pengetahuan, agama, filsafat, seni dan agama. Dan keempatnya harus diberi tempat agar segala sesuatu seimbang. Dan seni merupakan salah satu cara yang efektif untuk menyatukan massa, sehingga harus diperhatikan, tolong dituliskan”, ujarnya.

Bagi Pak Kasman wayang merupakan salah satu cara menyatukan manusia, sehingga ia tidak pernah jenuh menggelutinya.

“Hanya uangnya susah, saya sudah habis ratusan juta untuk itu”, ujarnya lirih.

Mungkin, memang banyak hal harus dikorbankan Pak Kasman untuk apa yang diyakininya … bahwa wayang adalah sesuatu yang penting.

Leave a Reply

Close Menu