Ketika Kesenian Tradisional Tergusur

1997_mula Januari_Edisi 060_peduli:
Ketika Kesenian Tradisional Tergusur

Benar, jika dikatakan Indonesia kaya akan kesenian tradisional.

Ada yang berpendapat bahwa seni tradisional makin menghilang karena kalah bersaing dengan hiburan yang ditawarkan TV atau radio. Ada juga yang beranggapan bahwa surutnya seni tradisional karena tidak ada lagi generasi yang menjadi pendukungnya. Atau alasannya sebenarnya sangat sederhana, masyarakat memang tidak menaruh minat lagi pada jenis kesenian itu. Masyarakat tidak merasa perlu untuk peduli akan kelangsungan seni tradisional.

Tapi benar juga, kalau saat ini kita sering kesulitan untuk menikmati

Tanpa harus menyalahkan TV atau radio, nasib perkumpulan wayang orang Ngesti Pandowo yang sudah berusia 43 tahun, nyatanya harus terusir dari kota Semarang. Bukan karena masyarakatnya hanya mau menonton atau mendengar TV dan radio, tapi karena gedung pentasnya di GRIS akan dijadikan pusat bisnis. Ketika mereka harus hijrah ke Taman Budaya Raden Saleh, yang jauh dari kota, penonton pun semakin sulit untuk menikmati pertunjukan mereka.

Salah satu dari kesenian tersebut, walau mungkin kita sudah berada di daerah asalnya.

Nasib yang kurang lebih sama menimpa juga kesenian Topeng Cirebon. Mereka terpaksa mengadakan reduksi besar-besaran terahadap materi cerita, dari 9 jam menjadi 5 jam pertunjukan. Alasannya, tidak ada lagi penonton yang tahan untuk menikmati pertunjukan. Dan setelah pemangkasan lakon seperti ini pun, Topeng Cirebon tetap tidak berhasil menggaet minat penonton.

Kalau sebuah kesenian bertahan karena ada orang-orang yang disebut penonton atau pendukung, apa yang terajdi kalau penonton atau pendukung itu semakin susut jumlahnya?

Mungkin kita tidak perlu menjadi pecinta atau penonton setia Ludruk atau Tonil untuk turut melestarikan kesenian tradisional. Tapi, mungkin kita dapat menjadi pendukung usaha mendokumentasikan kesenian-kesenian tersebut.

Disadur dari:
Laksmi G Hadi Jatuh Bangunnya Sebuah Kesenian Rakyat, dari Seminar Seni Pertunjukan 1992
Ngesti Pandowo, Minggirlah dari Kota, Majalah Keadilan No. 19, tahun V, 30 Desember 1996
Kehidupan Sosial Politik Masyarakat Berpengaruh langsung pada Kesenian, harian Kompas 1993.

Leave a Reply

Close Menu