Ketika Kebun Binatang hanya Menjadi Sarana Hiburan Murah

1997_akhir Juli_Edisi 071_bahas:
Ketika Kebun Binatang hanya Menjadi Sarana Hiburan Murah

Dengan alasan konservasi, edukasi, dan rekreasi,manusia memindahkan ribuan satwa dari habitat mereka ke kandang-kandang di kebun Binatang. Banyak yang menemukan hidup lebih baik, namun, tidak sedikit pula yang kurang beruntung. Sementara rekan-rekannya di alam bebas makin mendapat perlindungan (dari perburuan dan perusakan habitat), hewan penghuni kebun binatang kadang dilupakan kesejahteraannya. Mereka tidak ubahnya seperti satwa sirkus yang dipelihara untuk menjadi tontonan.

Memisahkan satwa dari habitat yang memberi kehidupan tentunya bukan hal yang mudah. Dan, ketika satwa harus menempati kandang yang sama sekali tidak memberinya “kehidupan”, inilah awal persoalan sebuah kebun binatang.

Di negara kita, kebun binatang menjadi tidak lebih dari sekedar tempat hiburan murah meriah. Dengan hanya membayar kurang dari Rp, 2.000,-, setiap orang dapat menyaksikan puluhan bahkan ratusan jenis binatang dalam satu hari saja. Akibatnya, setiap hari libur, kebun binatang selalu disesaki oleh ribuan pengunjung. Dan, dapat dipastikan, kebanyakan dari mereka tidak menyadari bahwa mereka tengah mengunjungi sebuah kawasan konservasi kelestarian hidup satwa diperjuangkan. Mereka lebih senang mendengarkan musik dari radio daripada kicau burung yang mereka dekati. Mereka lebih menganggap komodo sebagai bahan tertawaan dari pada mengenalnya sebagai satwa endemic. Lebih dari itu, ketika jam berkunjung usai, serakan sampah tidak saja tertinggal di lapangan tempat tikar digelar, tapi juga di dalam kandang dan di permukaan parit-parit pembatas.

Menjadikan kebun binatang sebagai sarana hiburan murah meriah memang bukan tanpa resiko. Rendahnya pengetahuan dan kesadaran pengunjung ekonomi lemah sering kali jadi ancaman. Tapi, tentunya, bukan hanya dari masyarakat datangnya ancaman. Pengelola yang tidak sempurna pun memperburuk keadaan. Tidak semua kandang memiliki sanitasi yang memadai. Dan, jangan terlalu berharap dapat memperoleh informasi lengkap tentang satwa di sebuah kandang, karena tidak jarang kandangnya pun sudah tidak layak dihuni.

Kalau sumber kesalahan masyarakat selalu disebut karena rendahnya pendidikan, maka sumber kesalahan pengelola selalu disebut karena terbatasnya (baca, kurangnya) dana. Akibatnya, seperti menciptakan lingkaran setan dan nasib satwalah yang semakin terpuruk.

Banyak yang dapat dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Namun, nampaknya semua harus diawali dengan satu kata sepakat, yaitu dengan memberi perhatian kepada kebun binatang sebagai kawasan konservasi. Tidak hanya sekedar tempat menimba pengetahuan singkat. Tidak juga sekedar sarana hiburan murah.

Ragunan Jakarta
Siapa sangka ternyata Kebun Binatang Ragunan (KBR) telah berumur 132 tahun?. Dalam kurun waktu 132 tahun itu, KBR telah beberapa kali ganti nama dan sekali pindah lokasi. Berawal pada tahun 1864, ketika Raden Saleh, seorang seniman yang terkenal, menghibahkan tanahnya seluas 10 hektar di daerah Cikini. Tanah ini kemudian dijadikan tempat untuk “Perhimpunan Tanaman dan Binatang” oleh pemerintah colonial Belanda. Selanjutnya, taman ini berkembang menjadi arena pacuan anjing, bioskop, kolam renang dan gedung pertemuan serbaguna. Baru pada tahun 1949, setelah proklamasi kemerdekaan, namanya diubah menjadi Kebun Binatang Cikini.

Setelah 102 tahun bercokol di Cikini, Kebun Binatang Cikini dipindahkan di atas lahan 85 hektar milik Departemen Pertanian. Bertepatan dengan pekan ulang tahun Jakarta ke 439, 26 Juni 1966, Taman Margasatwa Jakarta resmi dibuka. Beberapa nama yang sangat member andil terbentuknya kebun binatang modern ini antara lain, mantan Gubernur Ali Sadikin, yang berinisiatif memindahkan dari Cikini ke Ragunan dan pasangan suami isteri Benjamin Gaulstaun. Pasangan inilah yang merancang dan merencanakan isi KBR. Atas keberhasilannya merancang Ragunan menjadi kebun binatang yang apik, Mr. Gaulstaun dianugerahi penghargaan Magsaysay sebagai salah satu panutan masyarakat Asia dan diminta membantu merancang kebun binatang di Myanmar dan Brunei.

Tepat tahun 1974, namanya diubah kembali menjadi “Kebun Binatang Ragunan” dan sejak itu luasnya bertambah menjadi 135 hektar. Dalam waktu 12 tahun KBR telah berganti nama tiga kali, pindah lokasi satu kali dan bertambah luasnya hingga sepuluh kali lipat.

Tamansari Bandung
Jika Ragunan tergusur oleh derap pembangunan, tidak demikian dengan “Derenten Tamansari” (diambil dari kata detentuin yan artinya kebun binatang). Terletak di Jalan Tamansari, di sebelah Barat kampus ITB, kebun binatang ini didirikan tahun 1930 oleh Bandungse Zoological Park (BZP), yang dipelopori Hoogland, direktur Bank Denis. Baru pada tanggal 12 April 1933, pengesahan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda ditandatangani.

Saat ini, Taman Sari dihuni oleh 1286 ekor satwa (data hingga 31 Maret 1997). Dan Merry, seekor gajah betina, serta Ola, seekor orangutan yang sering meniru tingkah laku pengunjung, merupakan dua satwa di antaranya yang paling disenangi pengunjung.

Gembira Loka Yogyakarta
Awal berdirinya bemula pada Tahun 1933, ketika Sri Sultan HB IX berkenan untuk mendirikan tempat hiburan yang diberi nama “kebun rojo”. Untuk melaksanakannya, ia minta bantuan seorang Belanda, Ir, Karsten. Menurutnya, lahan terbaik untuk dijadikan kebun rojo adalah lahan sebelah Barat kali Winongo. Pembebasan tanah pun dilakukan, namun kelancaran pembangunannya harus tertunda pada saat PD II meletus. Pada tahun 1949, ketika persiapan pemindahan ibukota RI dari Yogyakarta ke Jakarta dilakukan. Sekretaris Jenderal Kementerian mencetuskan ide untuk memberikan sebuah tempat hiburan sebagai kenang-kenangan. Akhirnya pada tahun 1953, terbentuklah Yayasan Gembira Loka Yogyakarta pimpinan Sri Paduka KGPAA Paku Alam VIII, yang merintis berdirinya Kebun Binatang Gembira Loka. Koleksi pertamanya ialah macan tutul, buaya dan beberapa ekor burung dan unggas yang diambil dari dari sudut alun-alun Utara. Kemudian datang pula sumbangan dari Law Thay Ing, seorang warga Tulung Agung, berupa banteng, buaya, berbagai jenis burung dan tanaman.

Riwayat Gembira loka tidak dapat dilepaskan dari jerih payah Tirtowinoto, yang tidak saja membuka seksi kehewanan, pendidikan, dan humas, tapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi 180 orang.

Kebun binatang tambah koleksi…
Untuk menambah koleksinya Gembira Loka biasa mendapatkan dari sumbangan Dep. Kehutanan, masyarakat atau instansi. Gembira Loka juga menampung hewan yang disumbangkan asal informasi dan identitasnya jelas dan bukan jenis yang termasuk surplus jumlahnya di Gembira Loka atau hewan cacat. “Kita ingin mendidik pengunjung bukan sensasi”, ujar Pak Suwito. Mau juga membeli dengan syarat bukan hewan yang dilindungi dan merupakan turunan kedua.

Selain itu juga dilaksanakan istem barter, baik dengan kebun binatang dalam maupun luar negeri. Kriteria barter dengan negara lain antara lain harus berada pada appendix yang sama, Ekspedisi pencarian hewan pun dilakukan, ketika sepasang Komodo koleksi Gembira Loka diminta Presiden karena ukuran dan umurnya sesuai sebagai tanda mata bagi Belanda, maka Gembira Loka diberikan dana untuk ekspedisi ke NTT dan membawa beberapa ekor ke Yogya.

Rencana selanjutnya akan mengadakan ekspedisi ke Kalimantan untuk mengamati kehidupan Bekantan, kera berhidung panjang. Karena menurut teori Bekantan sulit dirawat di luar habitatnya, maka perlu pengkajian awal. Setelah dikaji, Bekantan itu akan transit di Gembira Loka dan akan diteliti seperti apa lingkungan yang cocok, sehingga tidak kaget hidup di Singapura. Setelah menjadi anggota ISSI (International Species Sytem Information) memudahkan Gembira Loka menambah koleksinya dan juga menghindari terjadinya jual beli gelap.

Menambah koleksi dengan sistem barter nampaknya jadi pilihan Ragunan dan Tamansari pula. Menurut Bapak Madinah, Kasubid Mamalia KB Ragunan, penambahan koleksi tidak saja dilakukan dengan kebun binatang di luar negeri. Dengan memberikan tiga ekor ornag utan, baru-baru ini Ragunan mendapat sepasang cheetah dari kebun binatang di Jepang, Banteng, siamang, orang utan, rusa Jawa dan beruk Lampung adalah binatang yang paling sering diminta (untuk ditukar) oleh kebun binatang luar negeri.

Leave a Reply

Close Menu