kesepian di masa pensiun !?!

1999_Oktober_Edisi 105_selip:
kesepian di masa pensiun !?!

Dari sebuah hasil penelitian psikologi,ditemukan bahwa pensiun merupakan sumber stress yang menduduki urutan ke 9 dari 40 peristiwa lainnya dalam hidup seseorang. Reichard membagi beberapa sikap individu lainnya dalam menghadapi pensiun. Ada yang disebutnya kelompok mature, yaitu mereka yang mempersiapkan diri sebaik-baiknya, sehingga tidak muncul konflik kejiwaan. Namun ada pula yang mampu mengatasi kecemasan dalam bentuk kompensasi atau armored. Dan salah satu yang kerap menjangkiti pensiunan adalah munculnya perasaan kesepian. Dalam sebuah penelitian pada anggota PWRI di Surabaya yang dilakukan oleh Prahasitwi, disimpulkan bahwa rasa kesepian bisa diatasi dengan mencari makna hidup melalui agama. Seperti yang dikatakan oleh Bapak Andreas Waluyi, pensiunan pegawai pos … “Sebelum saya pensiun saya sudah aktif di gereja, jadi, pensiun bukan masalah buat saya.”

Sepi atau tidak sepi juga tergantung pada jenis kepribadian seseorang. Sudaryono, seorang psikolog, dalam penelitiannya membedakan antara kepribadian introvert dan ekstrovert. Menurut Esysenck, kedua jenis kepribadian ini berasal dari perbedaan didalam system aktivitas reticular fungsi otak. Orang yang berkepribadian introvert punya kecenderungan menghindari rangsangan dari luar dirinya. Mereka biasanya pasif, tidak senang mengambil resiko dan kurang fleksibel. Berbeda dengan kepribadian ekstrovert yang justru menyenangi petualangan, rangsangan eksternal, dan suka bergaul. Bagi  pensiunan yang berkepribadian ekstrovert dan tidak bekerja akan betul-betul merasa kesepian. Sedangkan pensiunan introvert justru lebih senang tidak bekerja, dan tidak bermasalah dengan kesendiriannya.

Untuk mengatasi rasa sepi, sosialisasi dengan teman-teman lama merupakan obat manjur. Seorang pensiunan TNI yang pernah bertempur di Irian Jaya menceritakan bahwa di masa awal pensiunannya, ia masih tetap sibuk mengurus pensiunan teman-teman sejawatnya. Sehingga dirinya masih sering ke kantor dan bertemu angkatannya, dan kalau ada yang berstatus anak buah, tetap berlaku hormat seperti layaknya semasa dinas. Dan kini ia tetap aktif dalam komunitas koor gereja, sehingga kesepian tak pernah datang dalam kehidupannya. Rasa sepi yang tak bisa ditolak adalah kehilangan suami atau isteri yang telah sekian tahun mengarungi kehidupan bersama-sama. “Wah, dia sudah menjadi teman hidup saya. Sekarang rasanya sepi sekali tanpa isteri, tapi iyah sudah takdir, harus pintar-pintar cari kesibukan”, ujar pak yanto (55 tahun) yang baru saja ditinggal isterinya setahun silam. Rasa sepi dalam bentuk apapaun, memang seharusnya dilawan, karena bisa menggerogoti tubuh. Dan kalau sakit, ada beban baru, yaitu biaya obat. Siapa yang mau sakit?

Kelompok Pensiunan ! Pangsa Pasar Menggiurkan !
Bagi para usahawan, kelompok pensiunan bukan konsumen pasif, mereka cukup jeli menangkap kebutuhan. Perusahaan Developer Sun City Meccas merancang dan membangun sebuah perumahan yang bentuknya memungkinkan seorang pensiunan dapat tinggal dekat dengan keluarga, teman, atau pusat bisnis, agar tidak terlalu kesepian. Ada pula yang membangun perumahan di dekat kampus, karena ternyata banyak orang usia 50-60 tahun ingin mengingat masa-masa jayanya di Universitas. Proyek yang sedang dibangun adalah Arizona Senior Academy, dimana masyarakat pensiunan tersebut akan ditawarkan sebagai tutor di sekolah-sekolah.

Tak sekedar rumah, terdapat ragam bisnis yang membidik pangsa kaum pensiunan Alexis Abramson, seorang ahli gerontology, menawarkan 20.000 jenis produk, mulai dari tali sepatu elastik yang selalu terikat alat pemotong yang mudah dipegang oleh kaum pensiunan. Dia juga menyediakan jasa konsultasi untuk pengusaha lain, misalnya cara merebut pasar usia lanjut. Menurutnya karakter pasar ini ialah orang-orang tua berpenghasilan tinggi, berpengalaman dan bijak dalam membeli, serta tidak suka dimanfaatkan.

Perusahaan kosmetik yang selama ini mengabaikan konsumen usia lanjut kini mulai melirik kaum pensiunan. Misalnya saat wanita memasuki usia 50-an maka mereka mengeluh kerut pada wajah, sehingga Revlon mengeluarkan prosuk “Defying Age” atau Anti penuaan. Sedangkan untuk kaum pria muncul trend “macho”, sehingga di Madison tidak mengangkut barang, hanya membawa sayuran atau anjing saja, tapi toh gaya mereka cukup “perkasa.”

Hollywood nampaknya ketinggalan dibanding bidang usaha lain. Pillsbury, produser independen mengakui bahwa dirinya tak pernah membuat film untuk orang usia 40 tahun ke atas. Kebanyakan studio saat ini memproduksi film action.  Namun Miramax Film, studio milik Walt Disney Co, mulai memproduksi film unutk generasi yang “diabaikan” ini. Diantaranya yang sukses adalah film The English Patient, bercerita tentang tokoh yang tertangkap dalam perang dunia II serta berhasil menyabet 9 oscar. Hal serupa dilakukan oleh CBS, dengan program seperti “touched by an angel” dan “CBS Sunday movie”, mereka mampu menarik 6 sponsor besar seperti Cocacola, General Motor untuk mengucurkan dana 100 juta untuk beriklan di program tersebut.

Di bidang pariwisata, muncul program perjalanan untuk kelompok pensiunan. Misalnya di elderhostel di Boston, menawarkan 10.000 program perjalanan untuk usia 55 tahun ke atas. Angka partisipasi melonjak dari 220 orang di tahun 1975 menjadi 300.000 orang di tahun 1997. Agen perjalanan Helena Joening juga menawarkan “grand Travel” untuk kakek dan cucu berlibur bersama ke lokasi-lokasi seperti Kenya. Tentunya segala jasa semacam ini telah menawarkan arti hidup yang lebih luas bagi para pensiunan. Akhirnya rasa kesepian bisa diatasi dan ada sebagian orang yang memperoleh keuntungan dari kebutuhan tersebut rasanya cukup adil !

Leave a Reply

Close Menu