kertas yang kita kenal

1997_awal Juni_Edisi 070_bahas:
kertas yang kita kenal

Sejak masa manusia purna mampu melukiskan bison dan mamut di dinding-dinding gua, manusia selalu mencari cara yang paling ideal untuk mengungkapkan pemikirannya. Bangsa Cina mengukirnya di tulang. Orang Maya menggambarkannya di kulit kayu mulberry. Dan Orang Mesir mencantumkannya di gulungan papyrus. Pada dasarnya, manusia telah mencari akal untuk menemukan apa yang saat ini disebut “kertas”. Dengan kertas, buku City of God karya Saint Augustine yang dibuat pada tahun 1473 masih dapat dibaca. Dengan bantuan kertas pula, berbagai pemikiran besar dapat tersebar luas dengan lebih cepat dan sebuah revolusi pun telah tercipta. Kertas telah banyak memberi arti sejak kelahirannya. Namun, tidak dapat dipungkiri, ketergantungan kita pada benda ini telah pula melahirkan sebuah tragedy lingkungan. Hutan semakin menjadi langka, sementara kita semakin tidak dapat hidup tanpa kertas.

Dengan Papirus, Bangsa Mesir Mengembalikan Perpustakaan. Papirus adalah tumbuhan yang hidup di paya-paya benua Afrika, terutama di lembah sungai Nil. Tingginya hanya 2 sampai 3 centimeter saja. Tapi, tumbuhan kerdil inilah yang mengantar Bangsa Mesir sebagai bangsa yang memiliki catatan sejarah panjang. Sistem dokumentasi mereka di atas gulungan papyrus memungkinkan kita merekonstruksi kehidupan mereka di masa silam.

Untuk memperoleh lembaran yang dapat ditulis, kulit batang papyrus harus dibuang lebih dahulu. Lalu batangnya dibelah dan diiris tipis-tipis sekali. Lapisan tipis ini kemudian ditekan mejadi satu dan dikeringkan di panas matahari. Umumnya zat perekat yang ada pada tumbuhan ini sudah cukup untuk mengikat kedua lapisan itu. Setelah itu, agar lebih mudah ditulis, lembar papyrus harus dibalur dengan campuran kanji gandum dan sedikit cuka. Dalam bentuk lembaran papyrus seringkali itu disambung-sambung menjadi lembar yang lebih lebar dan digulung pada sebuah tongkat untuk memudahkan penyimpanannya.

Untuk menulis di atas lembar papyrus, Bangsa Mesir menggunakan alat tulis yang disebut calamus, semacam pena yang dibuat dari ranting pohon mawar atau jerami diruncingkan. Sementara tintanya mereka buat dari campuran jelaga, air dan perekat.

Kehadiran papyrus telah pula melahirkan pembuatan buku. Konon, di Yunani dan Roma, para budak tidak semua harus melakukan pekerjaan kasar, ada pula yang bertindak sebagai penyalin buku. Biasanya buku gulungan yang hendak di jual terlebih dahulu harus disalin (ingat, pada saat itu belum ada teknologi mencetak buku). Untuk itu, budak terpelajar akan bertindak sebagai juru baca dan yang lain menyalinnya ke lebar papyrus.

Dengan adanya praktek jual beli papyrus, baik dalam bentuk “buku” maupun lembar kosong, sebelum tariskh masehi dimulai sudah muncul perusahaan, seperti milik Ptolomeus di Alexandria, yang menyimpan 700.000 batang gulungan papirus siap pakai. Dan, tidak hanya itu, papyrus pun memungkinkan Bangsa Mesir mengembangkan perpustakaan. Kerajaan Pergamun, misalnya, telah membangun perpustakaan dengan koleksi 200.000 buku gulung. Bahkan, di kota Roma Tua tercatat 127 perpustakaan umum. Kegiatan mengumpulkan buku gulung pun lantas menjadi symbol kaum bangsawan, sehingga biasanya mereka memiliki perpustakaan pribadi. Hal ini terbukti dari penggalian dari kawasan Herculanum, yang berhasil; menemukan 1.700 buku gulung di dalam kamar seorang kaya di masa lalu.

Dicari Pakaian Bekas Untuk Kertas!
Hingga abad pertengahan, pakaian bekas yang terbuat dari linen dan kapas sering dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuat kertas. Prosesnya, dimulai dengan membuka jahitan pakaian tersebut. Baru setelah itu, kain dipotong-potong dan dimasak agar bersih dari lemak, zat warna dan motoran lainnya. Bahan itu lantas ditumbuk sambil dicampur dengan air. Setelah menjadi bubur kain, pembuatan kertas pun siap dimulai.

Dengan adanya penemuan mesin cetak, kebutuhan akan kain, sebagai bahan dasar pembuatan kertas, kontan melonjak. Pabrik kertas sering kali harus memasang iklan untuk mendapatkan kain. Tentu saja, mencari kain menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Akhirnya, kekurangan bahan kain inilah yang memacu manusia pada masa itu untuk mencari bahan dasar yang lain.

Pilihan lalu jatuh pada serbuk-serbuk kayu yang banyak terbuang di tempat tukang kayu. Di tahun 1840 seorang tukang tenun kebangsaan Jerman, Gotlob Keller, menemukan teknik untuk menghancurkan kayu menjadi serbuk, yang menjadi cikla bakal pembuatan pulp. Saat itu telah diketahui bahwa serbuk yang baik untuk membuat kertas harus berasal dari kayu pohon cemara.

Dengan diperkenalkannya pembuatan bubur kayu atau pupl ini, industry kertas berkembang pesat. Bahkan jenis kertas yan dihasilkan pun semakin beragam, tergantung cara pembuatannya. Dengan cara ini mekanis akan dihasilkan kertas kasar berwarna buram. Namun, bila menempuh cara kimiawi, seperti mencampurkan bubuk soda, akan diperoleh kertas yang lebih putih, kuat dan tahan lama. Tuntutan akan kertas yang putih bersih terus meningkat dan mendorong dipakainya klorin. Bahan pemutih ini ditemukan pada tahun 1774 dan hingga saat ini masih dipakai oleh sebagian besar produsen kertas.

Kertas: Sebuah Persembahan Dari Ts’Ai Lun
Saat manusia di belahan Benua Eropa sedang sibuk menulis dengan papyrus atau caudex (kertas kulit). Di Daratan Cina, tahun 105 SM, Ts’ai Lun telah mengembangkan teknologi media tulis menulis yang lebih efisien, yaitu kertas. Konon, kertas buatannya lalu dipersembahkan kepada kaisar Ho Ti di masa Dinasti Han sehingga Ts’ai Lun pun mendapat kenaikan pangkat dan gelar kebangsawanan.

Kertas Ts’ai Lun terbuat dari serat tumbuhan, jala ikan, kain-kain rombeng dan limbah rami. Rahasia teknik Tsa’ai Lun dari Cina akhirnya tersebar sampai Asia Tengah. Di Samarkand pada tahun 751 telah dikenal teknik pembuatan kertas a la Tsa’ai Lun. Dan pada tahun 793, kertas mulai pula dibuat di Bagdad, yang pada saat itu diperintah oleh Harun Al Rasyid. Selanjutnya, seiring dengan pada masa keemasan Islam, teknologi pembuatan kertas lalu terbawa pula sampai ke Eropa. Karena itu tidak mengherankan bila pada abad 14 M, beberapa negara di Eropa, terutama di Italia, Jerman, Prancis dan Spanyol, telah dikenal sebagai negara yang memiliki pabrik kertas.

Dari Teknik Manual Ke Mesin
Hingga awal abad 18, pembuatan kertas masih dilakukan secara manual, baru pada tahun 1779, Louis Robert, pria asal Perancis, menemukan mesin kertas. Penemuan inilah yang melahirkan perubahan besar dalam industry kertas. Perkakas yang mulanya sangat sederhana tiba-tiba berubah menjadi mesin berukuran 100 x 8 meter. Kecepatan produksinya dapat mencapai 475 meter kertas/menit.

Di tahun 1807, mesin ini kemudian dimodifikasi oleh Henry dan Sealy Fourdriner di Inggris. Tahun 1809, mesin pembuat kertas dari Inggris.

Dengan adanya mesin, maka kebutuhan akan tenaga kerja manusia pun berkurang. Namun, pada saat yang sama, bahan dasar kertas pun semakin meningkat. Tragedi pengembangan hutan pun dimulai dari sini.

Ternyata, Tidak Harus Selalu Dari Kayu
Kayu memang merupakan bahan utama untuk membuat kertas. Ada dua kelompok spesies pohon, yang sering digunakan sebagai bahan baku kertas, yakni softwood dan hardwood. Serat softwood relative lebih panjang sehingga membuat kertas lebih kuat. Sedangkan serat hardwood yang pendek akan membuat kertas lebih tebal dan lembut. Hampir 40% penebangan hutan dialihkan untuk membuat bubur kayu. Jika dulu digunakan kayu gelondongan, kini bubur kayu diambil dari serpihan kayu. Sejak Perang Dunia II, limbah dari industry kayu pun mulai dimanfaatkan untuk membuat bubur kayu. Meningkatnya kebutuhan kertas, ternyata tidak berakibat baik bagi kelangsungan hidup hutan. Penebangan dilakukan sambung menyambung, sehingga kata “pemanfaatan” hutan berubah “perusahaan” hutan. Sementara itu, manusia pun semakin tergantung pada apa yang disebut kertas. Salah satu solusi untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, diperkenalkan teknik pembuatan kertas daur ulang, yang menggunakan kerta bekas sebagai bahan dasar. Cara ini sangat ampuh untuk menyelesaikan biaya yang tinggi dan waktu yang lebih lama. Lebih lagi, setelah didaur ulang beberapa kali, kualitas seratnya semakin menurun sehingga diperlukan serat kayu baru untuk memenuhi kualitas yang diinginkan. Ketika lingkungan hidup menjadi issue yang santer diperbincangan, serta merta manusia kembali berpaling pada bahan baku selain kayu. Lalu, catatan sejarah pun dibongkar. Pembuatan kertas dari serat kain kembali dikembangkan. Kertas dari serat kain sebenarnya dapat menghasilkan kualitas kertas yang maksimal, baik dalam ketahanan, warna maupun teksturnya. Produk kertas jenis ini kemudian banyak digunakan untuk membuat kertas yang awet, misalnya untuk kertas catatan bank, kartu rahasia, dokumen resmi, dan surat asuransi jiwa. Selain itu, serat kain pun sangat ideal untuk membuat kertas tipis dan ringan seperti untuk cerutu, karbon dan lembar kitab suci. Selain dari kain, kertas dapat pula dibuat dari jerami padi-padian. Kertas dari bahan ini banyak dipakai di Amerika untuk membuat kotak kemasan. Sayangnya, pemakaian jerami pun kemudian diganti dengan bubur hardwood semi kimia yang dinilai lebih ekonomis. Pembuatan kertas dari serat batang tebu biasanya berkembang di negara penghasil gula, yang tidak memiliki hutan penghasil di Spanyol dan Afrika Utara. Penggunaan esparto telah dilakukan di Inggris pada tahun 1856 dan masih dipakai hingga tahun 1950-an. Sebenarnya esparto memiliki keunggulan dibanding serat alami lainnya, karena keseragaman seratnya, mudah dibentuk dan relative lembut. Bambu pun lazim dipakai untuk membuat kertas. Dalam hal ukuran, kekerasan dan kepadatan, bamboo memang mirip dengan kayu. Pemanfaatan bamboo banyak dilakukan di negara Asia Tenggara seperti Thailand, India, dan Philipina. Kecepatan tumbuh tanaman bamboo telah memberikan pasokan serat terbesar dibanding serat lainnya. Untuk menghasilkan kertas korek api, maka banyak digunakan serat rami. Serat ini umumnya banyak dipakai untuk membuat kain dan tali, namun cukup baik pula untuk membuat kertas. Karena serat rami cukup kuat dan tahan lama, kertas yang dihasilkan umumnya berupa kertas abrasive atau kertas kemasan. Sayangnya, harga rami dinilai cukup mahal untuk dijadikan bahan baku kertas. Disamping diramaikan dengan penggunaan serat alami, perkembangan industry kertas pun marak oleh pemanfaatan serat sintesis. Keunggulan serat sintesis antara lain, panjang dan ukuran serat dapat diseragamkan, bisa membuat kertas lebih lembut, kuat dan tahan terhadap cairan kimia, serta tahan panas. Serat sintesis juga dapat dibuat agar tahan terhadap cairan kimia tertentu dan panas. Serat sintesis termuraah adalah rayon. Tetapi, bila dibandingkan dengan harga bubur kayu, harga bubur serat sintesis dapat 3-6 kali lebih mahal. Serat lain yang lebih baik adalah nylon, polyster, acrylic dan kaca, yang harga produksinya bisa mencapai 10-20 kali lipat harga produksi bubur kayu. Jadi, sebenarnya membuat kertas tidak selalu harus menebang pohon di hutan. Tapi, apakah kita mau membelinya dengan harga lebih mahal atau dengan kualitas yang lebih rendah. Tinggal pilih. Jauh sebelum penemuan mesin cetak oleh Guttenberg, reproduksi naskah tekstual dilakukan pertama kali oleh bangsa Cina pada awal abad ke-8. Caranya dengan membuat cetakan relief pada blok kayu. Lalu pada abad ke-11, bangsa Korea dan Cina mulai bereksperimen membuat huruf cetak dari tanah liat dan kayu, yang diteruskan dengan tembaga atau besi.

Mesin Cetak Lahir, Kebutuhan Akan Kertas Meningkat.
Konon, mencetak buku dilakukan dengan cara menuang huruf secara manual, sehingga memunculkan profesi “tukang tuang huruf”. Sebelum permulaan abad ke-16. Henric de Lettersnider van Rotterdam yang berasal dari Belanda telah memantapkan profesinya sebagai pencetak buku dan penjual huruf tuang dan ukir. Tahun 1838, barulah mesin penuang huruf pertama diperdagangkan oleh bangsa Amerika bernama David Bruce. Semua ini merupakan perkembangan dari penemuan mesin cetak yang paling monumental yaitu mesin ciptaan John Guttenberg.

Mesin cetak Guttenberg mengandalkan pemakaian huruf-huruf logam, yang kemudian dipasang pada cetakan yang dapat dibongkar pasang. Selain itu, dilengkapi pula dengan tinta dan mesin cetak kayu yang bisa menggerakkan plat cetakan sehingga menempa kertas yang diletakkan di atas susunan huruf cetak. Sekitar tahun 1800-an. Charles Stanhope III membuat mesin cetak yang seluruhya dari logam. Lalu tahun 1813, George Clymer mengganti pemakaian sekrup dengan sistem pengunkit yang bertenaga besar. Mesin cetak bertenaga uap ditemukan pertama kali oleh Fredrich Koenig pada tahun 1811 dan digunakan oleh harian Times di London. Kabarnya, mesin tersebut mampu mencetak 1.000 lembar/jam. Lalu di tahun 1835, warga Inggris bernama Rowland Hill mempatenkan penemuannya yaitu mesin cetak web fed yang mampu mencetak gulungan kertas tanpa henti.

Mesin cetak diproduksi pertama kali di Amerika Serikat pada tahun 1837. Adalah perusahaan Richard Hoe yang membuat mesin cetak putar (rotary press). Mesin cetak ini bekerja lebih cepat dibanding generasi pendahulunya. Hingga abad 20, pilihan mesin cetak khususnya untuk surat kabar, adalah mesin cetak silinder berputar yang mampu mencetak kedua sisi gulungan kertas.

Sumber:
Hofman, C, 1952, Sebelum Cetak Berputar, Badan Penerbitan G.Kolff & Co, Bandung
Encyclopedia Britanica
Kelompok Peduli Jakarta 1996
May, John, 1993, The Book Of Corious Facts, Collins & Brown Ltd., London
Majalah ASRI, No, 134, Mei 1994, hal. 94-96
Majalah Info Bisnis Edisi 34, Agustus 1996
Hasil perbincangan dnegan Ibu Eva dari Bagian Promosi PT. Indah Kiat Pulp & Paper.Co.

Leave a Reply

Close Menu