Kertas antara Kebutuhan dan Ancaman

1996_akhir Desember _Edisi 059_peduli:
Kertas antara Kebutuhan dan Ancaman

Kertas telah menjadi bagian dari kehidupan manusia paling tidak sejak 3 abad yang lalu ketika ditemukan teknologi percetakan. Sejak saat itu kertas mulai menjadi media pencatatan, pengalihan, dan penyimpanan informasi. Lewat kertas suatu gagasan disampaikan dari generasi ke generasi selanjutnya. Seiring dengan kegunaan tersebut ternyata ada hal lain yang dikorbankan, jutaan batang pohon ditebang untuk dijadikan bahan baku pembuat keratas.

Persoalan pembabatan hutan tersebut mulai teratasi dengan diproduksinya kertas daur ulang. Namun ancaman pembuatan kertas tidak berhenti sampai di situ. Bahaya lain di balik itu adalah penggunaan bahan kimia sebagai bahan pemutih kertas. Kertas pada umunya dibuat dari serat selulosa yang berasal daru kayu. Pada tahap pertama kayu diolah menjadi pulp (bubur kayu). Sesudah itu pulp masih harus dicuci untuk memisahkan selulosa dari lignin (lignin adalah bahan alami yang mengikat serat selulosa menjadi struktur kayu). Apabila tidak dilakukan pencucian atau proses ini tidak berjalan secara sempurna, maka warna kertas tidak bisa putih.

Bahan kimia yang biasa digunakan dalam proses pemutihan pulp adalah gas chlorine atau senyawa turunannya seperti chlorine dioksida. Hal ini sangat berbahaya sebab pemakaian chlorine akan menghasilkan senyawa organachlorine, yang telah diketahui sangat berbahaya bagi alam sekitar.

Senyawa organochlorine bisa mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan seperti kanker, cacat lahir, kerusakan sistem hormonal, kekebalan tubuh, dan masalah reproduksi pada manusia.

Karena proses pemutihan kertas masih merupakan hal penting dalam pembuatan kertas, kini telah ditemukan teknologi pemutihan yang lebih ramah terhadap lingkungan, antara laian:
Elemental Chlorine Free (ECF) Teknologi pemutihan ini tidak lagi menggunakan chlorine dalam bentuk murninya (Elemental chlorine), namun masih menggunakan senyawa chloerin yaitu chlorine dioksida.

Totally Chlorine Free (TFC)  Cara ini sama sekali meninggalkan pemakaian chlorine maupun senyawanya dalam proses pemutihan kertas. Sebagai gantinya digunakan oksigen, hydrogen peroksida, atau ozon sebagai pemutih.

Totally Effluent Free (TEF) Teknologi ini merupakan penyempurnaan dari TFC, yang dirancang sedemikian rupa sehingga tidak hanya aman tapi juga tidak menghasilkan limbah cair.

Sampai saat ini industry kertas di berbagai belahan dunia seperti Amerika Serikat, Canada juga Indonesia beranggapan bahwa teknologi Elemental Chlorine Free saja sudah cukup aman bagi lingkungan. Sementara sejumlah ilmuwan yang punya perhatian khusus pada masalah lingkungan menganggap bahwa teknologi CFC saja tidak cukup. Sebab, teknologi ini masih menghasilkan sejumlah organochlorine yang berbahaya bagi lingkungan.

Walau saat ini di Indoensia belum tersedia jenis kertas yang benar-benar bebas chlorine, namun dengan sikap kritis konsumen untuk mengetahui kandungan kertas dan bahan kimia yang digunakan, paling tidak konsumen bisa mendorong industry untuk mulai menyediakan kertas alternative yang lebih aman.

Leave a Reply

Close Menu