kentongan

2001_April_Edisi 123_Milikita:
kentongan
Rohman Yuliawan


Seberapa seringkah anda mendengar bunyi kentongan di lingkungan pemukiman anda? Bagi beberapa orang, suara kentongan mungkin hanya didengar saat bulan Ramadhan yang ditabuh untuk mengingatkan waktu sahur, atau ketika ada maling diketahui masuk kampung. Padahal sejarah perangkat komunikasi tradisional bangsa ini telah sedemikian panjang, walau rekaman mengenainya begitu kabur layaknya sayup bunyi kentongan di kejauhan.
Ada dalam Syair Bharata Yudda

Masyarakat Hindu-Jawa di abad ke-12 M rupanya telah mengenal kentongan, terbukti dalam syair Sudamala disebutkan kata kulkul (sebutan lain untuk kentongan di Bali), juga dalam Smaradahana tertulis kata titir yang diperkirankan merujuk pada sebentuk instrumen musik dari kayu yang dipakai dalam pesta tumbuk padi di daerah Jawa Tengah. Dalam Bharata Yudda, bait ke-enam terdapat kata kulkulan gantong yang mengacu pada kentongan.

Di masa kini masyarakat Jawa menyebutnya “kentongan” atau kadang ‘penthongan’, sementara di Sunda dikenal sebagai kohkol dan masyarkat Madura menyebutnya gulgul. Walaupun memiliki sebutan yang berbeda-beda di beberapa daerah, namun fungsi dasar kentongan tidak jauh berbeda. Umumnya masyarakat pedesaan sekarang masih memanfaatkan bunyi tabuhan kentongan sebagai tanda yang disepakati bersama untuk mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa tertentu, mulai dari kematian, pencurian, pembunuhan dan kejahatan lainnya, ronda, kerja bakti atau untuk mengabarkan keadaan kampung aman. Setiap peristiwa memiliki irama tabuhan tertentu. Irama kentongan untuk mengumpulkan warga kampung agar bersiap kerja bakti misalnya, disebut gobyog, dengan irama pukulan menyerupai bunyi pantulan bola karet di lantai, dari lambat menjadi semakin cepat sebelum kembali melambat dan ditutup dengan dua pukulan kuat. Di Surakarta irama kentongan dinamai dengan kenthong loro jika ada pencurian, kenthong telu jika ada kebakaran, kenthong pat di kala banjir dan kenthong titir jika ada tindak pembunuhan.

Di tengah masyarakat Hindu Bali, kenthongan memiliki nilai budaya yang lebih pekat. Di tiap Bale Banjar dan Pura di Bali dipastikan terdapat kenthongan atau kulkul yang ditempatkan secara khusus di Bale Kulkul. Peristiwa-peristiwa sosial, seperti kelahiran, kematian dan perkawinan selalu ramai diwarnai dengan bunyi kenthongan yang dipukul dengan irama tertentu. Upacara-upacara keagamaan ataupun penyambutan tamu di pura juga memanfaatkan kenthongan sebagai tanda. Uniknya, kenthongan Bali memiliki jenis kelamin. Yang beridentitas laki-laki disebut Muani dan Luh untuk kentongan berjenis kelamin perempuan. Cara menabuh dan bunyi yang dihasilkan kedua kentongan tersebut berbeda, demikian juga fungsinya. Kentongan Luh ditabuh untuk mengumpulkan kaum wanita, sebaliknya kentongan Muani untuk mengumpulkan kaum lelaki dan dua-duanya ditabuh ketika kedua kelompok diharapkan berkumpul bersama. Untuk mengabarkan kelahiran, kematian dan perkawinan, salah satu kentongan dibunyikan berdasarkan jenis kelamin anak bayi yang dilahirkan, jenis kelamin si mati dan pengantin dari banjar setempat. Pergantian haripun dikomunikasikan melalui pemukulan kentongan sebanyak 21 kali, seperti tradisi yang berjalan di Desa Tangenan Karangasem.

Dari Lombok Merah sampai Genderuwo
Bentuk dan bahan kentongan ada bermacam-macam. Di daerah Godean, Sleman ada beberapa pengrajin yang membuat kentongan dengan bentuk-bentuk tertentu, seperti lombok (cabe) merah. Di daerah Delanggu, Klaten masih terdapat pengrajin kentongan dari akar rumpun bambu (dongklak) yang dibentuk menjadi monyet atau sosok yang disebut genderuwo, hantu dengan rambut gimbal. Jenis kentongan semacam itu di Bali diklasifikasikan sebagai kentongan hiasan dengan ragam hiasan yang menarik dan artistik termasuk bentuk ukir-ukiran dan biasanya ditawarkan pada wisatawan sebagai souvenir.

Kentongan hiasan adalah dalah satu jenis dari empat jenis kentongan yang ada di Bali; tiga jenis lainnya adalah kentongan Dewa, kentongan Bhuta dan kenthongan Manusa. Termasuk dalam kategori kentongan manusa adalah kentongan untuk siskamling, kentongan tempekan dan sekeha-sekeha untuk menyatakan kesepakatan-kesepakatan kolektif masyarakat. Di Jawa, kentongan siskamling biasanya terbuat dari bambu dan disebut tetekan. Selain bambu, bahan untuk membuat kentongan adalah kayu nangka, kayu jati, gelogo (batang kelapa) dan ada kalanya dari akar rumpun bambu. Jenis kayu yang dipakai mempengaruhi bunyi yang dihasilkan, selain pengaruh proses pengerjaan dan keahlian pembuatnya. Di Bali, pekerjaan pembuatan kentongan dipercaya pada undagi (tukang kayu) yang memiliki perkakas lengkap dan memiliki pengetahuan mengenai sifat kayu serta ritual yang terkait dengan pembuatan kentongan.

Kentongan juga banyak dimanfaatkan di daerah-daerah lain, walaupun tidak memiliki nuansa ritual setebal kentongan Bali. Bagi warga Yogyakarta pasti akrab dengan suara kentongan yang agak sember dari penjual nasi goreng keliling. Kentongan juga banyak dipakai untuk penanda dimulainya suatu kegiatan atau peresmian bangunan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah. Kentongan memang identik dengan peronda dan mudah ditemukan tergantung di sudut-sudut rumah atau cakruk (gardu-ronda). Bagi kebanyakan masyarakat di Indonesia, kentongan masih menjadi bagian dari kehidupannya, yang dapat menyamankan sekaligus mendebarkan hati di penghujung malam.

Leave a Reply

Close Menu