Kematian Ade Tanesia

1999_Desember_Edisi 107_selip:
Kematian
Ade Tanesia

Kecemasan selalu saja hadir di setiap peralihan siklus kehidupan manusia. Dan kematian merupakan salah satu kecemasan terbesar yang dialami sekarang. Walaupun para filsuf mengatakan bahwa kematian sama indahnya seperti kehidupan itu sendiri, kalimat bijak ini tak mampu meredam kecemasan tersebut. Pertanyaan tentang kehidupan setelah mati, kemana perginya roh manusia,masih saja berkelebat dibenak seseorang. Artinya, kematian adalah suatu kepastian yang sarat krisis, sehingga di setiap kebudayaan muncul beragam gagasan tentang kematian berikut upacara yang menyertainya.

Dalam sebuah upacara kematian, berbagai aspek kehidupan manusia tak lagi berdiri sendiri, tapi saling membentuk jalinan-jalinannya. Selain menghantar sang mendiang dan menghibur para kerabatnya, upacara ini juga berfungsi mengikat solidaritas sosial diantara anggota masyarakat, bahkan ada yang bisa mencari rejeki dari uapacara kematian. Sebagai ilustrasi, muncul adanya usaha peti mati, usaha bunga-bunga kematian, pengumuman kematian di Koran-koran, membuat rumah-rumahan kertas untuk keperluan upacara kematian masyarakat Tiong Hoa, dll. Upacara kematian juga menjadi ajang ekspresi simbol status seseorang melalui pelbagai aturan jenis perhiasan dan pakaian yang menyertainya. Segala pernak-pernik benda kematian ini juga sangat berguna untuk menelusuri sejarah kehidupan manusia. Berbagai situs pemakaman masyarakat di masa lalu telah disingkap para arkeolog dengan menggunakan teknologi canggih.

Benda-benda kematian adalah artefak yang memperlihatkan cara manusia mengatasi gejolak kecemasan dalam dirinya. Adanya adat yang mengharuskan budak-budak sang mendiang ikut masuk dalam kubur, atau harta almarhum yang ikut dikuburkan, merupakan tanda-tanda begitu cemasnya manusia menghadapi ketidak pastian tersebut. Namun kecemasan ini mungkin tidak berlaku bagi orang yang dengan sadar melakukan proses euthanasia, yaitu memilih kematian. Inilah sebuah kenyataan jaman, ketika waktu bukan hanya kematian yang boleh memilih seseorang, tetapi manusia pun memilih waktu kematiannya sendiri. Apakah ini sebuah demokratisasi atau justru keputusasaan manusia abad ini? Nampaknya manusia di setiap generasi harus mulai dari awal lagi untuk mempelajari hakekat dari dan alam yang menjadi wadahnya. Manusia, kelahiran, kematian, memang misteri alam yang tak sulit diungkapkan rahasianya.

Euthanasi !
Horor Abad ini?

“Saya ingin mati, Kanker kulit yang menimpa saya sudah begitu ganas, dan saya tidak tahan lagi menghadapinya. Kematian akan membebaskan saya. Oleh karena itu, saya mohon tanda tangan seorang dokter untuk mengakhiri siksaan ini. Dan saya akan mati ditengah keluarga, dalam suatu cara yang terbuka, bermartabat dan manusiawi,” tegas Janet Mills, seoarang wanita Australia (52 tahun).

Luar biasa, peristiwa ini bukanlah bagian dari serial film Millenium, tapi benar-benar terjadi di abad yang semakin sesak ini. Adalah pemerintah daerah Australia bagian Utara yang pada bulan juli 1996 telah mensahkan UU Euthanasia pertama di dunia. Dan akhirnya permohonan Mills dikabulkan, ia meninggal melalui alat bantu computer yang mampu mentransfer dosis obat mematikan ke tubuhnya. Dalam proses kematiannya, Mills, ditolong oleh dokter Philip Bitchke yang memperjuangkan dilegalisasinya euthanasia.

Selain Philip, Dr. Jack Kevorkian dari Amerika yang dijuluki dokter kematian juga telah membantu pertolongan euthanasia sebanyak 130 kali sejak tahun 1990. Namun Dr. Kevorkian akhirnya diputuskan bersalah sebagai pembunuh tingkat dua oleh pengadilan Michigan pada April 1999 lalu. Pasalnya ia telah menayangkan pertolongan kematian terhadap pasien yang bernama Youk. Dalam video itu, Youk menerima suntikan obat mematikan dari Kevorkian. Setelah menganalisa rekaman video itu, Hakim Cooper menyatakan bahwa Koverkian melakukan tindakan itu atas kehendaknya sendiri, sehingga patut disebut pembunuhan. Walaupun Koverkian dibela habis-habisan oleh keluarga Youk,dengan tenangnya ia berkata “jika anda pikir saya bukan penjahat, maka bebaskan saja saya.”

Euthanasia yang berasal dari bahasa Yunani, eu – baik dan Thanatoe – kematian, artinya mati dengan baik dan tenang. Inilah konsep dasar dari euthanasia yang kini maknanya berkembang menjadi kematian atas dasar pilihan rasional seseorang. Sebelum seseorang melakukan euthanasia, maka ia harus menulis surat permintaan, kemudian harus ada orang lain yang membantu dirinya masuk untuk mengakhiri hidupnya. Inilah batasan yang dirancang oleh para pendukung euthanasia. Namun hingga saat ini, legalisasi euthanasia masih diperdebatkan. Bagi kalangan agama, euthanasia menunjukkan kemrosotan moral etika kehidupan pada umat manusia. Organisasi islam untuk ilmu Kedokteran mengadakan konferensi Internasional pertama tentang “Islamic Medicine.” Yang menyatakan bahwa euthanasia (mercy killing) serupa dengan bunuh diri ditolak mentah-mentah oleh islam. Kalangan kedokteran juga dihadapkan pada kondisi yang dilematis, di satu sisi teknologi kedokteran dikembangkan untuk mempertahankan kehidupan seseorang namun di lain pihak berkembang isu perjuangan hak untuk mati, isu ini telah begitu merasuk ke berbagai belahan dunia, misalnya di Cina telah dijalankan survei tentang euthanasia yang menunjukkan 7,5%  masyarakat di perkotaan telah menyetujui jalan kematian untuk penyakit yang tak dapat disembuhkan. Dalam jurnal kesehatan New England, ditemukan bahwa 1 dari 21 dokter yang diteliti telah melakukan penyuntikan mati untuk mengakhiri penderitaan pasien. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa euthanasia disetujui oleh sebagian masyarakat ? Seorang peneliti dari Pusat Medis Universitas Georfe Washington mengatakan kehidupan di jaman modern ini, khususnya di negara barat, orang semakin lemah untuk mempertahankan hidupnya. Di samping itu, implikasi gaya hidup modern dan teknologi justru telah mereduksi eksistensi manusia, sehingga seorang sulit mencari arti hidupnya dan kesepian.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Nampaknya kalangan kedokteran sudah mengantisipasi isu ini. Kondisi Kode Etik Kebudayaan Indonesia (Kodeki) membatasi euthanasia dalam tiga pengertian, pertama berpindah ke alam baka dengan tenang dan aman, tanpa penderitaaan, dan untuk yang berfirman dengan nama Allah di bibir. Kedua, saat sekarat, si sakit diberikan obat penenang untuk meringankan penderitaannya. Yang ketiga, mengakhirir derita dan hidup seseorang yang sakit dengan sengaja atas permintaan kedokteran Indonesia cukup tegas, yaitu melarang praktek euthanasia. Untung, horot ini tidak menjadi horor di masyarakat kita.

  • Perhiasan Berkabung
    Cincin berkabung biasanya diberikan oleh keluarga almarhum pada teman-teman dan anggota keluarga sebagai tanda kenang-kenangan pada almarhum. Tradisi ini muncul di Inggris pada abad 15, yaitu cincin yang dihiasi tengkorak, seekor cacing dan ukiran nama ‘lohes godefray.” Motif kepala si mati masih banyak dipakai pada cincin berkabung hingga abad 17. Pemberian cincin berkabung menjadi symbol status di abad ke-17 dan 18. Banyak orang kaya di Inggris, dalam wasiatnya menyatakan permintaan desain cincin dan jumlah cincin yang harus dibuat. Samuel Pepys, seorang perwira AL (1633-1703) mewasiatkan agar pada kematiannya harus dibuatkan dari enamel putih, sementara enamel hitam untuk almarhum yang sudah menikah. Pada abad 9, bentuk cincin berkabung kadang diliat dengan rambut keluarga tercinta.
  • Jet adalah sebuah materi keras yang menyerupai batubara. Materi ini terjadi saat batang-batang kayu terbawa arus ke laut, tenggelam ke dasar laut dan tertutup lumpur, jet berwarna hitam pekat, dan bisa dibuat cemerlang untuk hiasan. Jenis perhiasan ini telah digunakan sebagai tanda berkabung sejak masa prasejarah. The Venerable Bede menulis bahwa jet banyak terdapat di Inggris dan digunakan untuk menolak setan. Di masa abat pertengahan, jet memiliki arti penting bagi umat Kristen. Pada abad ke-14 hingga ke-20, ukiran batu jet dijual pada para peziarah di tempat suci Spanyol, karenanya tak mengherankan batu ini menjadi salah satu perhiasan berkabung yang penting. Dalam perkembangannya batu jet menjadi sangat langka, sehingga mulai dibuat imitasinya, seperti jet Perancis yang dibuat dari kaca hitam.
  • Rambut sebagai suatu symbol kehidupan, telah dikaitkan dengan kematian dan pemakaman di berbagai kebudayaan. Gambar pada nisan bangsa Mesir memperlihatkan Pharaoh dan ratu-ratunya saling bertukar gulungan rambut sebagai tanda cinta yang tak pernah padam. Di Meksiko, wanita Indian kerap menyimpan sisir rambut di jambangan khusus yang kelak akan dikubur bersama mayat mereka, sehingga arwah tidak kelelahan mencari-cari perlengkapan yang hilang. Semasa perang saudara di Amerika Serikat, para prajurit yang berangkat ke medan perang biasanya meninggalkan seikat rambut pada keluarganya. Jika si prajurit tewas, maka rambut tersebut dibuat perhiasan dan diletakkan dalam loket. Hiasan rambut ini semakin terkenal dengan adanya Godey’s lady’s Book yang menjelaskan etiket perikabungan. Dikatakan bahwa pemakaian bros, gelang dari rambut sebaiknya dikenakan saat masa berkabung kedua, sememntara jet digunakan di masa perkabungan pertama. Dalam perkembangannya jenis perhiasan ini menjadi bisnis bagus yang membutuhkan rambut-rambut pajang, misalnya diperlukan 20-24 inchi rambut untuk satu gelang. Kadangkala jika permintaan membludak, para pengrajin pemula menggunakan rambut kuda.

Leave a Reply

Close Menu