Kekuatan Semangkuk Mie Ayam

1997_awal September_Edisi 076_nuansa:
Kekuatan Semangkuk Mie Ayam

Biasanya kami mengawali hari dengan menyerbu cangkir, teh, gula, dan kopi. Semua tersenyum, kadang berbasa-basi dengan kata-kata “selamat pagi, selamat hari Senin, atau selamat hari Selasa” atau apa saja yang umum dipakai sebagai kalimat pembuka percakapan. Bukan untuk mau resmi-resmian, tapi tidak tahu siapa yang memulai, kata-kata itu sudah hampir jadi trade mark. Bahkan, sering ditulis di papan putih (di samping sederetan jadwal kerja) atau di selipkan di sela keyboard komputer masing-masing orang.

Itu ritual pagi hari…

Menjelang pukul 11.00, satu dua mulai tidak kelihatan lagi di kantor. Biasanya, mereka akan berada di balik kemudi atau di percetakan sampai sore menjelang. Sisanya, berada di balik layar monitor atau buku atau gagang telepon hingga lewat jam makan siang.

Sekitar pukul 15.00, satu per satu mulai sibuk mencari makan. Tapi, biasanya ada satu yang selalu setia menunggu tukang mie ayam datang. Jam makan siangnya memang sangat tergantung pada kedatangan tukang mie ayam tersebut dengan menu yang sama…semangkuk mie dan bersendok-sendok sambal.

Tidak ada yang istimewa dari semangkuk mie ayam tersebut, selain tukangnya yang sangat cerewet. Tapi, rekan yang satu ini benar-benar menjadikan mie ayamnya itu (ditambah sekitar 3 gelas kopi dan sebungkus rokok) sebagai sumber energy sepanjang hari.

Tidak jarang diperingatkan untuk meningkatkan gizi, tapi pasti ia akan sesumbar bahwa tubuhnya sudah cukup banyak persediaan energy prinsipnya ia merasa tidak perlu makan makanan jenis lain, cukup dengan semangkuk (kadang dua mangkuk) mie ayam itu.

Boleh percaya boleh tidak…rekan kami tersebut bisa bertahan “membuat” [aikon!], hingga edisi ini, hanya dengan bekal mie ayam dan bersendok-sendok sambal sebagai makan siang. Tidak lebih juga kurang.

Salam! [a!]

Leave a Reply

Close Menu