kecintaan pada sungai

2000_Februari_Edisi 109_jelajah:
kecintaan pada sungai
Joni Faizal

Penggusuran rupanya bukan semata kerisauan orang-orang yang tinggal di darat. Di sepanjang sungai Musi misalnya, sebagian warga ada yang resah karena tempat tinggal mereka akan diggusur dengan alasan untuk menciptakan kota Palembang sebagai water front city. Padahal, di sungai itulah mereka menerima hidup dan menemukan kehidupan “alami”-nya. Akankah mereka terusir seperti saudaranya di darat hanya karena dianggap kumuh? Berikut, hasil wawancara [aikon!] setelah menelusuri sungai musi.

Pemerintah colonial pernah menjuluki kota ini sebagai “Kota Seratus Sungai”. Wajar karena dikota ini mengalir sungai-sungai kecil yang kemudian bermuara pada satu sungai, yaitu Sungai Musi. Dair sungai inilah dapat kita rasakan denyut perekonomian kota Palembang terpusat. Pasar 16 ilir yang berada di bawah jembatan Ampera, adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sebagian aktivitas masyarakat Palembang itu. Sepanjang hari dapat kita saksikan lalu lintas kapal yang membawa berbagai keperluan impor maupun ekspor, mulai dari timah, karet, bau bara hingga beras. Sementara kapal-kapal kecil dan perahu juga meramaikan aktivitas itu dengan membawa barang-barang pertanian ke pasar atau sebaliknya.

Dahulu, hampir dapat dikatakan Palembang tidak mempunyai jalan darat, sehingga system transportasi sungai mejadi jaringan komunikasi utama. Itulah pula alasan mengapa mayoritas penduduk menetap di tepi-tepi sungai. Dalam catatan colonial, sungai juga menduduki tempat utama dalam pemikiran rakyat tentang pemandangan alam (landscape), seperti terbukti oleh ungkapan “Batangahari Sembilan” sebutan lain untuk keresidenan Palembang waktu itu. Bukti lain yaitu semua bangunan tua dan rumah-rumah penduduk pada umumnya menghadap ke sungai. Dengan demikian orang Palembang yang ingin membeli sesuatu cukup menunggu pedagang di perahu yang akan melintas rumahnya.

Selain sebagai tempat bermukim, sungai juga menjadi mata pencarian utama bagi penduduk sekitarnya. Itu juga sebabnya ketika rencana pembuatan dam bantaran sungai di beberapa tempat pada tahun 1998 lalu akan dilaksanakan oleh Pemda setempat menjadi tidak begitu berarti bagi penduduk yang telah dipindahkan ke darat. Meskipun ganti rugi rumah mereka terbilang lumayan namun banyak diantara mereka kembali lagi ke sungai dengan membangun atau mengontrak rumah baru di tempat lain. Hal ini dialami oleh Saipun (45 th). Pengemudi perahu karet “Susah, Pak!” ungkap Saipul yang pernah diganti rugi dengan perumnas di daerah Kenten. Hanya beberapa bulan ia menempati perumnas tersebut, kemudian ia kembali ke sungai dan sekarang menjadi warga 5 ulu.

Alasan Saipul pindah lagi ke “laut” istilah orang Palembang untuk sungai- karena di darat ia tidak terbiasa. Di sungai ia cukup mencari nafkah hanya dengan menjadi pengemudi ketek, perahu dengan mesin berkekuatan 6 Pk, yang hilir mudik mengantar penumpang menyeberang sungai. Sementara Roni, warga 1 Ulu mempertegas alasan berapa ia menyukai berumah di sungai. “Di sungai mudah mendapatkan air, mau minum, mandi dan cuci tinggal ciduk,” kata Roni.
Roni sama sekali tidak bercanda. Dari rumah rakit yang terhampar di sepanjang Sungai Musi terutama di daerah Kertapati yang merupakan pertemuan antara sungai Ogan dan Musi adalah pemandangan yang biasa jika menyaksikan masyarkat sedang mandi, mencusi atau pun buang hajat halaman rumah mereka.

Bagi Dencik lain lagi, laki-laki yang membuka kios minyak di teras rumahnya di atas sungai ini mempunyai alasan kuat bahwa wong Palembang memang tidak bisa dipisahkan dari sungai. “Sudah sejak jaman nenek moyang kami tinggal di sini. Jadi, kalau ada rencana pemerintah untuk menggusur itu tidak masuk akal,” ungkapnya. “Yang harus dilakukan pemerintah adalah menata rumah agar tidak tampak kumuh, bukan menggusurnya ke darat,” tambah Dencik. Yang bermukim di rumah rakit pun kini tetap yakin akan rejekinya di sungai. Seperti ungkapan Mahmud, warga Tanggo Buntung. Seandainya disuruh pemerintah mencari tempat lain di darat, Mahmud akan menolaknya mati-matian. “Kito ini wong laut, jadi dak biso kalau nak pindah ke darat,”ungkapnya.

¬Orkes Dangdut di Atas Sungai
Selain rumah-rumah panggung yang berdiri di atas kayu-kayu tembesu dan meranti, rumah-rumah rakit pun masih banyak dijumpai di Sungai Musi. Seperti yang diungkapkan Saipul bahwa rumah rakit ini bisa bertahan puluhan tahun. Hanya bambunya saja yang menjadi rakit pelampung harus diganti dalam waktu lima tahun hingga tujuh tahun. Biasanya, rakit itu akan cepat rusak pada musim surut terlalu lama sehingga rakit bamboo tersebut menahan beban yang berat dibanding di atas air. Rakit bamboo yang terlalu lama menahan beban akan cepat pecah dan membuat bambu jadi keropos.

Bagi masyarakat yang tinggal di sungai, mereka yakin kehidupan atau kegiatan yang menghidupi mereka, bukanlah masalah pelik. Mereka sudah biasa, mengadakan orkes, padahal halaman rumah, di teras-teras rumahnya. Biasanya jika undangannya dianggap banyak mereka akan menyewa kapal-kapal toengkang terbuka dengan mengeluarkan uang Rp. 100.000,-. Kenod tongkang ini dapat menampung undangan lebih dari 300 orang. Sedangkan bagi mereka yang punya duit, bisa pula menyewa pontoon, anjungan besi yang harganya dua kali lipat dari sewa kapal tongkang. Di sini, pertunjukkan orkes maupun undangannya bisa di tampung seperti di darat. Bahkan, tidak jarang di atas anjungan itu diadakan pementasan Dalesujuk, teater tradisi Palembang. Sedangkan penonton-penontonnya dapat menyaksikan dari atas perahu, ketek, maupun speed boat masing-maisng. Pemandangan ini menjadi sesuatu yang sangat eksotis bagi yang tidak pernah melihatnya, karena puluhan perahu parkir dan saling berhimpitan dengan penumpang yang berdiri menyaksikan pertunjukan itu.

Sebentar lagi, rencana pembangunan kota Palembang sebagai Kota Tepian Air akan segera terwujud. Setidaknya gambaran ini sudah dapat kita saksikan dari penataan lahan sekitar Benteng Kuto Besak. Selain itu, telah diumumkan pula pemenang desain Sungai Musi beberapa waktu lalu yang diikuti oleh 57 universitas dari 18 negara. Rencananya, Palembang akan dikembalikan lagi e kejayaannya sebagai kota dagang masa silam dengan Sungai Musi sebagai landmarknya. Namun akankah pembangunan itu, manusiawi dan tetap memberikan ruang pada rumah-rumah rakit yang berada di sekitarnya. Kita lihat saja nanti.

Leave a Reply

Close Menu