Kaset Tanpa Cover = Reuse

1998_April_Edisi 089_bahas:
Kaset Tanpa Cover = Reuse

Jaman boleh saja modern. Orang berbelanja cukup menunjukkan kredit card atau tinggal menekan nomor telepon. Tapi percayakah Anda bahwa masih ada orang melakukan transaksi barter kaset dengan abu gosok? Atau botol ditukar dengan harum manis dan aluminium ditukar gelas? Transaksi purba ini masih banyak terjadi di sekitar kita. Barter bukan monopoli masyarakat tradisional atau suku-suku pedalaman macam Dani di Irian Jaya atau suku Anka Dalam di hutan Jambi, Sumatera. Ini terjadi di Ibu Kota yang bernama Jakarta, yang konon merupakan barometer modernitas kota-kota lain di Indonesia. Di gang-gang sempit, di pemukiman-pemukiman padat, dan perkampungan prasejahtera, Anda masih dapat menemukan barter semacam ini. Salah satunya adalah barter kaset dengan abu gosok, yang dengan jeli dimanfaatkan oleh Pak Sukarna, 45 tahun, asal Cirebon untuk menyambung hidup di Ibu Kota.

Pada awalnya Pak Sukarna melihat bahwa kaset-kaset bekas sesungguhnya dapat mendatangkan rupiah. Kaset-kaset yang dianggap sampah oleh orang-orang tertentu ini dimanfaatkan oleh Pak Sukarna. Melalui ‘gerobak’ {pemulung,Red) Pak Sukarna mendapatkan kaset-kaset sampah ini. Ia berkeliling dari satu gerobak ke gerobak lain. “Ada juga gerobak itu yang mengantarkan sendiri,” kata Pak Sukarna. Dan tidak jarang ia mendapatkan kaset-kaset bekas suatu instansi pemerintah. Misalnya saja kaset tentang penerangan Keluarga Berencana yang sudah tidak terpakai lagi. Kaset ini kemudian dipilah-pilah dengan cara mendengar suaranya lewat tape. Jika memang dianggap masih baik, Pak Sukarna akan membersihkan kaset itu luar dalam. Artinya, selain kerangka kasetnya sendiri yang dibersihkan, Pak Sukarna juga membuka pitanya dan menyapunya dengan kuas lembut.

“Ada pita dan suaranya masih bagus, tetapi kerangka kasetnya rusak. Pita ini dicarikan kerangkanya dari kaset-kaset yang suaranya rusak tadi,” tutur Pak Sukarna ketika menerangkan pada [aikon!] bagaimana menyiasati kaset-kaset bekas tadi agar bermanfaat secara optimal. “Kaset-kaset semacam KB inilah yang dimanfaatkan kerangkanya, dan pitanya dibuang.” tambah Sukarna.

Ketika ditanya berapa harga kaset yang dibelinya dari gerobak, “Wah tidak tentu, Mas” kata pak Sukarna. “Soalnya borongan. Kan tidak semuanya baik. Tapi ada juga yang dikasih orang ‘gedongan’ secara cuma-cuma.”

Setelah dibersihkan, kaset tadi dipilah-pilah lagi untuk menentukan jenis lagu dan penyanyinya sebelum dibalut dengan kertas yang diikat dengan karet. Dari ‘kemasan’ sederhana inilah kita dapat menentukan jenis lagu dan penyanyinya. Di situ dituliskan: slow rock barat, dangdut, Ebiet G. Ade, Roma Irama dan berbagai macam jenis lagu lain. Di tempatnya menjual kaset di Pasar Mampang itu pun dilengkapi sebuah tape dan walkman, sehingga para membeli dapat mencoba kaset ini langsung di tempat.

Bagi pengagum The Bettles, penggemar The Rolling Stone, Deep Purple atau kangen pada tembang-tembang lama, kaset tanpa cover Pak Sukarna mungin salah satu alternatif. “Asal bersabar, kita akan mendapatkan kaset asli dengan harga sebungkus roko.” kata seorang pembeli yang biasa hunting  kaset pada Pak Sukarna yang buka dari pukul 6 sore hingga 9 malam itu.

Pak Sukarna memang menjual kasetnya dengan harga rata-rata Rp. 1500,- Dan bagi mereka yang anti kaset bajakan atau kaset dengan “suara palsu”, tentu saja kaset Pak Sukarna adalah pilihan lain. Lebih-lebih bagi mereka pemburu kaset-kaset lama yang mungkin sudah langka di pasaran.

“Lumayanlah, kadang 15 ribu sampai 20 ribu.” Kata pak Sukarna mengakui keuntungan bersihnya dalam semalam. Bahkan, diantara pedagang kaki lima lain, barangkali tempat Pak Sukarna yang tidak pernah sepi dari tongkrongan anak-anak muda yang mencari kaset. Hal ini diakui sendiri oleh teman Pak Sukarna lainnya. “Wah, kadang pulangnya lebih cepat dari yang lain,” ujar salah seorang penjual sepatu loak yang berdagang persis di sebelah Pak Sukarna.

Pak Sukarna memang tidak mengenal konsep pakai-lagi [re-use] yang dijadikan slogan bagi banyak produk hanya sebagai iklan pemanis. Tapi di balik itu, sikap nyata Pak Sukarna yang memanfaatkan sampah kaset mungkin hanya usaha kecil saja bagi kelangsungan lingkungan hidup. Tapi siapa yang mengira bahwa sampah kaset yang terkumpul dan dipilah itu telah menghidupi Pak Sukarna sekeluarga hampir sepuluh tahun. Dan berapa sampah plastik yang akan mencemari lingkungan selam waktu 10 tahun itu? Pak Sukarna sendiri hanya mengumpulkan, menukarkan dengan abu gosok, menjual….dia sendiri tidak dapat menjawabnya.

Sumber:
Wawancara dengan Pak Sukarna.

Leave a Reply

Close Menu