KANIBALISME, kiat mengatasi lapar?

1997_awal November_Edisi 080_bahas:
KANIBALISME, kiat mengatasi lapar?

Kanibalisme di kalangan manusia sangat mustahil. Sebab, saling memakan dalam satu spesies untuk kelangsungan hidup, dan bertentangan dengan dinamika populasi maupun dinamika ekosisten, demikian kata Prof. Dr. Teuku Jacob dalam sebuah seminar beberapa tahun yang lalu. Yang ada dalam sejarah manusia, menurutnya, adalah kanibalisme darurat, dimana manusia memakan manusia karena terpaksa untuk mempertahankan diri atau kelaparan. Kemuadian kanibalisme ritual, yang mempercayai bahwa memakan manusia dilakukannsebagai bagian dari ritus.

Memang seperti yang diungkapkan Prof. Dr. T Jacob di atas, dalam sejarahnya kanibalisme lebih banyak didorong oleh tidak adanya persediaan makanan. Dalam surat kabar Japan Times terbitan bulan Agustus 1992 misalnya, dilaporkan tentang tentara-tentara Jepang yang melakukan kanibalisme selama berlangsungnya Perang Dunia II. Dalam perang yang berkepanjangan di Bosnia pun cerita kanibalisme ini juga mencuat. Bulan Februari 1993 jaringan televisi CNN mendapat laporan dari komandan militer di Tuzia yang mengatakan bahwa beberapa penduduk Bosnia Timur terpaksa memakan mayat karena dilanda kelaparan. Hal yang sama juga terjadi pada musibah kelaparan di Korea Utara akhir-akhir ini. Di beberapa tempat, menurut South China Morning Post, penguasa setempat mengeksekusi orang di desanya untuk kanibalisme. Cetrita yang tak kalah spektakuler dalam sejarah kanibalisme dan sempat difilmkan adalah jatuhnya pesawat di lereng Andes yang memaksa penumpang yang selamat memakan penumpang lain yang telah menjadi mayat untuk bertahan hidup.

Selain kanibalisme darurat, kanibalisme ritual juga mencatat sejarahnya sendiri, telah terungkap bahwa ada kebiasaan Bangsa di Barat Indian yang suka memakan daging manusia. dan Marco Polo, seorang penjelajah dari Italia pada tahun 1200-an juga menuliskan tentang adanya praktek ini. Di antaranya adalah tentang orang Aztec Mexico yang memakan tawanan perang mereka untuk dikorbankan kepada Dewa Perang. Jantung seorang pemberani dianggap menjadi pilihan untuk itu.[a!]

Sumber: The World Book Encyclopedia, Kompas dan Intisari.

Leave a Reply

Close Menu