Kampung Nyutran

2000_ September _Edisi 116_jelajah:
Kampung Nyutran
Ade Tanesia/Rohman Yuliawan

Saat bercerita tentang kampungnya, rona bangga masih kental pada raut wajah Romo Suhardji. Sangat wajar bila Beliau sunguh bangga, karena Nyutran memang bukan kampung biasa. Dahulu wilayah ini adalah tangsi prajurit Nyutran , salah satu prajurit Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Nyutran adalah salah satu dari belasan kampung prajurit yang letaknya mengitari Kraton. Tata kota Yogyakarta memang meletakkan Kraton sebagai pusatnya yang disebut Kuthanagara atau negeri gung, dikelilingi oleh beberapa lapisan wilayah. Lapis pertama adalah wilayah di luar Benteng disebut mancanegara yang ditinggali oleh para elit pemerintah dan kerabat Sultan. Sedangkan lapis kedua ditempati oleh para prajurit seperti Nyutran, Bugisan, Patanggulan, Wirobrajan, Mantrijeron. Khusus untuk wilayah prajurit letaknya hanya di sebelah Timur. Selatan dan Barat Keraton, seakan menjadi tapal kuda yang melindungi Kraton. Di dalam benteng Kraton sendiri ada prajurit Langenastro dan Langenarjo. Di bagian sebelah Utara tak satupun terdapat satuan prajurit, karena di sana telah berdiri sebuah benteng Belanda fort Viredeburg. Orang-orang asing seperti Belanda, Arab, Cina umumnya terletak di sebelah Utara Kraton. Dengan demikian awalnya Kampung Nyutran terbentuk sebagai kampung prajurit Nyutran, seperti halnya kampung di Yogyakarta yang biasanya berasal dari nama orang, peristiwa, atau tempat bersejarah.

Asalnya Prajurit Nyutran
Keprajuritan Nyutra sendiri cikal bakalnya bukan berasal dari Yogyakarta, melainkan dari Madura sebagai hasil persahabatan dan persaudaraan antara Kraton Mataram dan Madura. Konon ini diwujudkan dengan disumbangkannya satu bagian prajurit Panyutra kepada Mataram, karenanya tak heran jika hingga saat ini prajurit Nyutra dimiliki oleh Kraton Sumenep di Madura, Surakarta dan Yogyakarta. Jadi bisa dibayangkan bahwa awalnya prajurit Nyutra masih memakai bahasa Madura, dan salah satu bagian prajurit Nyutra juga masih memakai ikat kepala udheng-giling dari tradisi Madura.

Sebelum ditempati prajurit Nyutra, wilayah tersebut konon didiami oleh Tumenggung Djojowinoto yang di setiap hajatan besar Kraton berkewajiban menyediakan alang-alang welid-welid bambu yang dikumpulkan di alun-alun Utara. Lalu setelah menjadi lokasi para prajurit, kaveling-kaveling tersebut sekitar tahun 1925-1926-an diganti statusnya, yaitu dari hak anggaduh (hak pinjam tanah) menjadi hak andarbe (hak milik) para prajurit yang saat itu terdiri dari 90 kaveling. Sejak saat itulah prajurit Nyutran memperoleh peringan dalem bayar dalam bentuk uang Belanda, yaitu berkisar antara f 10,- hingga f 40,- tergantung kedudukan/ pangkat. Sejak pergantian status tanah, maka tingkat hunian kampung semakin berkembang akibat banyaknya kaveling yang dijual pada warga lain. Pada saat balatentara Jepang datang, prajurit Nyutran dan jajaran keprajuritan Kasultanan dihapus oleh Jepang. Tugas-tugas keprajuritan hanyalah menjaga negol secara bergantian delapan hari sekali untuk satu regu. Saat itu tak ada lagi tugas sowanan pada acara Gerebeg. Sekaten dan acara resmi lainnya. Walaupun pamornya semakin meredup, penduduk Nyutran tidak pernah melupakan sejarah kampungnya. Di tahun 1957, saat ulang tahun ke-200 Yogyakarta (terhitung sejak tahun 1757), Kampung Nyutran berpartisipasi dalam penyediaan penginapan bagi pengunjung yang kesulitan bermalam di Yogyakarta. Di samping itu, warga kampung ingin membuat monument dengan memberi nama gang-gang (nek-nek-an) dengan nama Prajurit. Hingga kini dapat kita temui gang Tohpati, Gang Permadi, Gang Trustodjumeno, Gang Warkoesoemo dan Gang Soegriwo.

Mencari Bibit Baru
Kegagahan satuan berseragam warna merah dan hitam bersenjata anak panah, busur, tombak, thowok, pedang dan tameng, ternyata masih menyisakan kebanggaan di kalangan penduduk Nyutran. Adalah Romo Soehardji masih keturunan ketiga prajurit sersan kesatuan Nyutran mencoba memperkenalkan kembali olah keprajuritan di kalangan pemuda Nyutran. Usaha ini berawal dari keprihatinan Romo Hardji melihat komposisi prajurit Nyutran yang bertugas di Kraton, ternyata tak satupun yang berasal dari kampung Nyutran. Pendekatan Romo Handji pada pihak Kraton membuahkan hasil. Kraton menyanggupi untuk menerima 20 orang calon prajurit sekitar Rp. 200.000,- per stel, telah menyurutkan langkah Romo Handji. Akhirnya beliau berinisiatif mengalihkan tujuan utamanya pada seni keprajuritan untuk kampung Nyutran. Sekitar 12 pemuda lantas diolah menjadi sebentuk pertunjukan kesenian yang sering tampil pada acara pernikahan dan hajatan kampung lainnya. Belakangan ini ada beberapa warga kampung Nyutran yang menyatakan kesediannya untuk membantu pengadaan seragam bagi para calon prajurit. Kebanggaan mereka telah terbangkitkan, namun yang menjadi masalah ternyata banyak pemuda yang pindah atau bekerja di luar kampung. Lagipula siapa yang mau menjadi prajurit dengan bayaran tak lebih dari Rp. 5.700,- setahunnya. Kalaupun impian Romo Sohandji belum kesampaian , setidaknya cerita lengkap tentang kampung Nyutran sudah ditulisnya dalam buku berjudul “Nyutran Kampungku”.
Di tengah krisis identitas yang sedang melanda berbagai daerah di Indonesia, semangat warga Kampung Nyutran untuk mengulik sejarah wilayahnya merupakan upaya menarik yang bisa diikuti. Jika selama 30 tahun, kampung telah diseragamkan dan identitasnya dihilangkan oleh rejim yang sedang berkuasa. Maka kini menjelajahi dan menggali atribut serta spirit identitas lokal menjadi hal penting.

Film Tentang Kampung Nyutran
Keinginan warga untuk mengabadikan kampungnya juga diekspresikan dalam bentuk pembuatan film tentang kampung Nyutran. Agus Yuniarso, penggagas galeri video yang berdomisili di Kampung ini akan merealisasikan impiannya yang sudah tumbuh sejak 3 tahun silam. Film tersebut akan diberi judul “Babad Kampung Nyutran” yang membidik tentang sejarah kampung Nyutran dalam kaitannya dengan Yogyakarta. Nantinya film ini akan diproduksi dalam bentuk VCD, karena editingnya dilakukan di komputer. Bukan satu kali ini saja Agus Yunianto membuat film dokumenter, sebelumnya ia sudah menggarap film durasi 30 menit mengenai pemahat batu Merapi yang berjudul “Menggapai Mustika Batu”. “Saya ingin membuat film di wilayah sekitar Yogya saja dulu, karena mungkin banyak orang Yogya sendiri tidak tahu asal muasal daerah-daerah yang kerap dilewatinya. Misalnya jembatan Njambu, Jembatan di dekat hotel Mellia Purosani itu punya ceritanya sendiri. Nah saya ingin membuat dokumentasi mengenai sejarah-sejarah semacam itu. Yah….jualan sesuatu yang lain, harus menggarap sesuatu yang abstrak merupakan tantangan visual yang menarik. Misalnya tentang kampung Nyutran saja, sudah banyak objek yang hilang, sehingga ia harus merekonstruksi ulang lewat ilustrasi, repro foto lama, dan juga mendatangkan prajurit Nyutran dari Kraton untuk keliling kampung Nyutran. “Nantinya akan lebih banyak permainan grafis, animasi dan lain-lain, “ugkap ayah dua anak ini.

Leave a Reply

Close Menu