Kalau Mas Kawin Terlalu Mahal !

1999_September_Edisi 104_selip:
Kalau Mas Kawin Terlalu Mahal !

Dalam sebuah rencana pernikahan, sering kali tuntutan mas kawin memberatkan pihak yang berkewajiban membayarnya. Pada masyarakat Sikka di flores, muncul lelucon-lelucon tentang pria yang lebih baik memperistri orang luar daripada mereka harus membayar mas kawin yang kadang nilainya terlalu besar. Sementara di pihak perempuan, tuntutan mas kawin yang terlalu tinggi menyebabkan banyak pria yang mundur memperistrinya, dan mereka akhirnya melajang sepanjang hidupnya. Ada sebuah kasus manarik dari desa Hobong di Sentani, Irian, yang mengisahkan bagaimana seseorang memecahkan persoalan mas kawin.

Siasat dari Desa Hobong
Bentuk mas kawin pada masyarakat Sentani berupa manik-manik kaca (hombon), gelang kaca (ebaa), kapak besi (hefa). Manik-manik kaca disinyalir disinyalir berasal dari orang Portugis, sementara gelang kaca dibawa oleh pedagang Cina. Benda-benda mas kawin semacam ini biasanya mengalami perputaran di dalam hubungan keluarga. Namun dengan adanya perburuan barang antik, mas kawin tersebut semakin langka. Kemudian dalam praktek pernikahan, banyak pula keluarga yang tidak peduli dengan kelangkaan mas kawin. Masalah muncul akibat tingginya jumlah mas kawin dan kualitas. Kadang persoalan ini bisa diselesaikan dengan mengubah mas kawin kuno tersebut dengan sejumlah uang. Tapi pada orang Sentani, tanpa ada homboni atau ebaa, rasanya belum lengkap sebuah pernikahan.

Menghadapi masalah ini, Tehu Mehuwe, seorang pria dari desa Hobong tidak tinggal diam. Akalnya cukup panjang untuk memecahkan persoalan. “Kalau homboni (manik-manik kaca) semakin sulit didapat, mengapa tidak kita bikin saja?” Mungkin inilah yang dipikirkan Tehu Mehuwe dari desa Hobong di Sentani, ketika melihat begitu tingginya tuntutan mas kawin atau mela rela yang harus dibayar pihak keluarga pengantin pria. Betul saja, di tahun 1972 ia membuat manik-manik kaca palsu. Berbekal botol, bor dan roda, Mehuwe secara rahasia membentuk manik-manik kaca yang mirip kualitas tertinggi, seperti jenis homboni nokhol. Selama 27 tahun, tak ada yang tahu bahwa homboni ini dibuat di desa Hobong, karena memang sangat mirip dengan aslinya. Sampai akhirnya, seorang pria di desa tersebut mengungkapkan rahasia Mehuwe, namun banyak orang desa justru tertarik mempelajari pembuatan manik-manik kaca sekaligus meracik pewarna palsu. Walhasil seluruh desa Hobong bekerja membuat manik-manik kaca secara rahasia agar tak ketahuan desa lain. Mereka mencari botol-botol peninggalan tentara Amerika di bawah jenderal Mac Arthur di pegunungan ifat. Ketika botol semakin sulit ditemui, mereka mulai menggunakan botol murah seharga beberapa ratus rupiah, untuk membuat homboni yang nilainya jutaan rupiah. Sungguh ironis! Manik-manik buatan Hobong ini tak hanya dicari oleh masyarakat Sentani, tapi juga orang Penje dari Papua New Guinea, yang datang sembari barter pakaian. Rahasia desa Hobong ini baru tersingkap tahun 1990, ketika seorang anak kecil menyaksikaan kegiatan orang tuanya membuat homboni. Anak kecil tersebut dengan tenang membuat homboni itu di jalan-jalan secara terbuka. Hal ini menumbuhkan kecurigaan warga desa lain dan akhirnya bocorlah rahasia mas kawin palsu ini. Ironisnya, tetap ada saja yang membeli homboni palsu dan harganya sama seperti manik-manik asli. Seperti halnya Taiwan, Hobong tetap memproduksi manik-manik palsu. Sekarang mereka bahkan menggarap ebaa pinukhu (gelang kaca) yang terbuat dari botol minuman buah. Setelah sukses membuat homboni dan ebaa, orang Hobong mulai mencoba membuat kapal besi yang sebelumnya dibuat oleh orang Ormu. Jika ornag Ormu membutuhkan waktu lama untuk membuat kapak, maka orang Hobong dapat membuatnya dalam waktu satu hari dengan menggunakan mesin modern.

Sumber: SENTANI Old & New is The Land of Clear Water. The Jakarta Post, Hartoyo Pratikyo, Gramedia:1995

Leave a Reply

Close Menu